Gap Pembiayaan UMKM Masih Lebar, Pinjaman Daring Tumbuh 2 Digit
ilustrasi pinjol(iStock/ william_poter)
17:16
23 Januari 2026

Gap Pembiayaan UMKM Masih Lebar, Pinjaman Daring Tumbuh 2 Digit

Center of Economic and Law Studies atau Celios menilai kesenjangan antara permintaan dan penyaluran pembiayaan masih lebar. Kondisi tersebut terutama dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.

Di tengah kondisi tersebut, Celios memperkirakan penyaluran pinjaman daring tetap tumbuh dua digit pada 2026. Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda menyebut kebutuhan pembiayaan UMKM belum sepenuhnya terlayani sektor perbankan.

“Sebenernya masih ada gap yang terbesar, permintaan besar, tapi pelaku UMKM akan mencari alternatif financing,” kata Huda.

“Dan tahun 2026 ini kita prediksi masih ada di angka dua digit, tapi ini akan sangat tergantung dari sisi lender-nya,” ujar Nailul Huda di Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Ia memperkirakan pertumbuhan penyaluran pinjaman daring berada di kisaran 15 hingga 20 persen pada 2026. Proyeksi tersebut sejalan dengan tingginya permintaan pembiayaan.

“Ketika permintaan pinjaman daring cukup tinggi, itu masih cukup positif. Mungkin pertumbuhannya masih di angka 20 persen, atau kalau kurang pun masih di atas 15 persen,” katanya.

Meski prospeknya masih positif, Nailul Huda mengingatkan risiko yang perlu dicermati. Perhatian utama tertuju pada tingkat wanprestasi.

Pada November 2025, Tingkat Wanprestasi 90 Hari atau TWP 90 pinjaman daring tercatat mendekati 4 persen. Angka tersebut setara dengan rasio kredit bermasalah atau non performing loan UMKM di perbankan.

“Yang harus diwaspadai adalah TWP 90-nya, karena sudah hampir sama dengan NPL UMKM,” ucapnya.

Perlambatan penyaluran kredit perbankan justru membuka ruang bagi industri pinjaman daring. Nailul mencatat pertumbuhan kredit secara umum hanya sekitar 7,7 persen. Kredit UMKM bahkan mengalami kontraksi.

“Ini menimbulkan anomali. Di satu sisi kredit UMKM minus, tapi permintaan kredit UMKM non-KUR meningkat. Artinya ada gap di situ, dan pinjaman daring mengisi celah tersebut,” jelasnya.

Nailul Huda juga menyoroti perubahan pola pembiayaan UMKM, terutama di wilayah perdesaan. Sekitar 36,16 persen penduduk dewasa di wilayah rural kini menggunakan platform digital untuk meminjam.

Persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan pinjaman dari keluarga. Kondisi ini mencerminkan pergeseran preferensi sumber pembiayaan.

“Ada pergeseran pola, dari borrow from family menjadi meminjam ke platform digital. Ini menunjukkan peran pinjaman daring makin penting, terutama untuk segmen mikro,” tegas dia.

Tag:  #pembiayaan #umkm #masih #lebar #pinjaman #daring #tumbuh #digit

KOMENTAR