Metode ''Waste to Energy'' Dinilai Jadi Solusi Kelola Sampah di Jakarta dan Tangsel
- Masalah pengelolaan sampah di kawasan perkotaan, khususnya Jakarta dan Tangerang Selatan (Tangsel), dinilai telah mencapai tahap krisis dan membutuhkan solusi jangka panjang.
Metode waste to energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi disebut sebagai salah satu pendekatan paling realistis untuk menjawab tantangan tersebut.
“Alternatif selama ini kan buang ke TPA atau mengolah sendiri sampah organik di rumah. Tapi untuk skala makro, melihat volume sampah di Jakarta dan Tangsel yang di atas seribu ton per hari, tidak ada cara lain kecuali waste to energy,” kata Direktur Eksekutif Tenggara Strategics Riyadi Suparno di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Dia mengungkapkan, persoalan sampah sangat dirasakan langsung oleh masyarakat. Kondisi yang terjadi di Tangerang Selatan, terlihat di mana tumpukan sampah kerap terlihat di sejumlah titik, seperti kawasan Pasar Ciputat, karena tidak terangkut selama berhari-hari.
“Itu menunjukkan bagaimana tata kelola persampahan di Indonesia ini menjadi tantangan besar, bahkan bisa dikatakan krisis,” ujar Riyadi di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Riyadi kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan pengelolaan sampah di sejumlah negara maju. Ia mengisahkan pengalamannya mengunjungi fasilitas waste to energy di Swedia pada awal 2000-an.
Menurutnya, satu fasilitas di negara tersebut mampu mengolah hingga 2.000 ton sampah per hari.
“Padahal Tangsel itu satu hari tidak sampai 1.000 ton, tapi sudah kelabakan. Kalau kita berinvestasi di waste to energy, sampah pasti tidak bermasalah lagi karena dibakar dan menjadi energi listrik,” kata Riyadi.
Ia juga menyoroti Singapura yang memiliki empat fasilitas WTE meski wilayahnya relatif kecil, dengan kapasitas pengolahan sekitar 1.000 ton sampah per hari.
Sementara di China, seluruh sampah perkotaan dikelola melalui WTE dengan hampir 700 fasilitas beroperasi.
“Indonesia baru punya dua fasilitas, satu di Surabaya dan satu di Surakarta. Padahal negara kita sangat besar,” ujarnya.
Riyadi menilai kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pembangunan 33 fasilitas waste to energy selama masa kepemimpinannya patut mendapat dukungan.
Dari jumlah tersebut, tujuh fasilitas ditargetkan mulai dibangun pada tahun ini. Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi terobosan penting di tengah keterbatasan tempat pembuangan akhir (TPA) dan tingginya volume sampah harian.
“Pak Presiden Prabowo memberikan satu kebijakan untuk menyelesaikan krisis sampah di Indonesia ini dengan salah satunya dengan waste to energy,” ungkapnya.
“Beliau menarketkan selama masa kepresidenan beliau 33 waste to energy akan dibangun. Tahun ini akan ditargetkan 7. Menurut saya ini satu hal-hal yang layak kita dukung. Karena alternatifnya (selama ini) buang di TPA,” tegas dia.
Sebelumnya, pemerintah melalui Danantara berencana membangun proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) sebagai solusi ganda untuk masalah lingkungan dan krisis energi.
Rencananya, Danantara akan pembangunan 33 PLTSa tersebar di berbagai provinsi hingga 2029.
Target ambisius itu sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang ingin PLTSa menjadi proyek waste-to-energy di seluruh provinsi dalam beberapa tahun mendatang, khususnya untuk daerah-daerah yang memiliki permasalahan sampah.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia akan memiliki PLTSa pada 2026.
“Melalui Danantara, Indonesia sudah berkomitmen membangun PLTSa, yakni tujuh proyek direncanakan dibangun pada 2026,” katanya dalam siaran pers, Kamis (20/11/2025).
Tag: #metode #waste #energy #dinilai #jadi #solusi #kelola #sampah #jakarta #tangsel