Kabel Laut Jakarta–Batam–Singapura Digelar, Apa Dampaknya?
Kapal CLV Bentang Bahari saat melakukan penggelaran kabel fiber optik bawah laut SKKL Rising 8.(DOK. TRIASMITRA)
11:24
21 Januari 2026

Kabel Laut Jakarta–Batam–Singapura Digelar, Apa Dampaknya?

– Penguatan infrastruktur konektivitas digital kembali bergerak di awal 2026. Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Rising 8 yang menghubungkan Jakarta–Batam–Singapura resmi mulai digelar, menandai langkah penting pengembangan jaringan telekomunikasi bawah laut di kawasan regional.

Penggelaran kabel laut ini dilakukan PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) melalui anak usahanya PT Jejaring Mitra Persada, bekerja sama dengan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA).

Proyek SKKL Rising 8 memiliki total panjang 1.128,5 kilometer dan pada tahap awal difokuskan pada segmen Jakarta–Batam sepanjang 1.053,5 kilometer.

Seluruh proses penggelaran menggunakan kapal berbendera Indonesia, Cable Laying Vessel (CLV) Bentang Bahari.

Kapal ini menjadi tulang punggung pekerjaan lapangan dalam proyek yang diklaim strategis bagi lalu lintas data antara Indonesia dan Singapura.

Dengan dimulainya proyek ini, kebutuhan akan kapasitas bandwidth tinggi dan jalur konektivitas alternatif diharapkan dapat terjawab, seiring meningkatnya aktivitas ekonomi digital dan lalu lintas data lintas negara.

Infrastruktur dan Perizinan

SKKL Rising 8 mengadopsi teknologi repeatered submarine cable system berkapasitas tinggi dengan total kapasitas mencapai 400 Terabit per second (Tbps).

Sistem ini menggunakan kabel bawah laut produksi Norddeutsche Seekabelwerke GmbH (NSW), Jerman, serta diperkuat 11 unit repeater dari Alcatel Submarine Networks (ASN), Prancis, yang dirancang mendukung 16 fiber pairs.

Proyek ini telah mengantongi seluruh perizinan yang dipersyaratkan, termasuk Izin Lingkungan atau AMDAL. Kajian tersebut mencakup aspek ekologi laut, keselamatan pelayaran, serta perlindungan kawasan pesisir dan biota laut.

Selama pelaksanaan, penggelaran kabel laut diawasi instansi pemerintah terkait dengan menempatkan pengawas resmi di atas kapal.

Dukungan juga datang dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang menyebut SKKL Rising 8 sebagai bagian dari misi Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam peningkatan kualitas akses digital dan penguatan kedaulatan digital nasional.

Peran Kapal dan Target Proyek

CLV Bentang Bahari memiliki panjang 94,65 meter dengan kapasitas angkut hingga 2.400 ton kabel.

Kapal ini dilengkapi teknologi Dynamic Positioning DP-2 yang memungkinkan penggelaran kabel dilakukan secara presisi dan aman, serta telah mengantongi sertifikasi dari Det Norske Veritas (DNV).

Direktur Utama PT Ketrosden Triasmitra Tbk Titus Dondi mengatakan, proyek ini memiliki arti strategis bagi industri kabel laut nasional.

“Penggelaran SKKL Rising 8 dengan CLV Bentang Bahari menandai era baru kemandirian Indonesia di sektor infrastruktur kabel laut,” ujar Titus dalam keterangan tertulis, Rabu (21/1/2026).

Ia menambahkan, dengan kapasitas 25 Tbps per fiber pair dan kendali penuh atas operasional, proyek ini diharapkan meningkatkan konektivitas Indonesia–Singapura sekaligus memperkuat posisi Triasmitra di tingkat regional.

Sebagai informasi, penggelaran segmen pertama Jakarta–Batam ditargetkan selesai pada akhir kuartal pertama 2026.

Selain menjadi jalur utama konektivitas, SKKL Rising 8 juga diposisikan sebagai jalur alternatif bagi penyelenggara Layanan Gerbang Akses Internet (NAP) domestik maupun internasional.

Keberadaan jalur ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas dan keandalan infrastruktur digital nasional di tengah pertumbuhan ekonomi berbasis data.

Tag:  #kabel #laut #jakartabatamsingapura #digelar #dampaknya

KOMENTAR