Meski Dihantam Tarif Trump, Neraca Perdagangan China Surplus 1,2 Triliun Dollar
Ilustrasi ekspor.(PIXABAY/AWADPALESTINE)
12:44
15 Januari 2026

Meski Dihantam Tarif Trump, Neraca Perdagangan China Surplus 1,2 Triliun Dollar

- Kinerja ekspor China pada Desember 2025 mencatat hasil jauh di atas perkiraan.

Selain mencatat surplus perdagangan, impor China juga tumbuh dengan kecepatan tercepat dalam tiga bulan terakhir.

Mengutip CNBC, nilai ekspor China pada Desember naik 6,6 persen dalam denominasi dollar AS dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data bea cukai China, angka ini jauh melampaui perkiraan analis yang memprediksi kenaikan sekitar 3 persen, serta lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,9 persen pada November.

Sementara itu, impor China meningkat 5,7 persen secara tahunan pada Desember.

Angka tersebut jauh di atas perkiraan pasar yang hanya sebesar 0,9 persen dan menjadi pertumbuhan impor tertinggi sejak September lalu, ketika impor naik 7,4 persen, menurut data LSEG.

Secara keseluruhan sepanjang tahun, ekspor China tumbuh 5,5 persen, sementara impor nyaris tidak berubah.

Kondisi ini mendorong surplus perdagangan China mencapai Rp 1,19 triliun dollar AS, meningkat sekitar 20 persen dibandingkan tahun 2024.

Namun, pengiriman barang ke AS mengalami penurunan tajam.

Ekspor China ke AS pada Desember turun 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan telah melemah selama sembilan bulan berturut-turut.

Impor dari AS juga turun 29 persen, berdasarkan data bea cukai.

Ketegangan terkait kebijakan tarif turut menekan perdagangan bilateral sepanjang 2025.

Sepanjang tahun tersebut, ekspor China ke AS merosot sekitar 20 persen, sementara impor dari AS turun 14,6 persen.

Menanggapi kondisi tersebut, juru bicara otoritas bea cukai China, Lv Daliang, menegaskan bahwa hubungan dagang China dan AS seharusnya bersifat saling menguntungkan.

"Penting menekankan pentingnya dialog dan negosiasi untuk menyelesaikan perbedaan serta memperluas kerja sama," ujar Lv Daliang.

Di sisi lain, karena eksportir China semakin mengalihkan pasar ke luar AS, ketimpangan perdagangan yang kian besar memicu kekhawatiran dari sejumlah mitra dagang utama, termasuk Uni Eropa.

"China harus mengurangi ketergantungan pada ekspor sebagai mesin pertumbuhan ekonomi dan mempercepat upaya meningkatkan konsumsi di dalam negeri," kata Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva.

Kekhawatiran surplus

Peneliti senior di Brookings Institution Eswar Prasad mengatakan, surplus perdagangan China dinilai akan memiliki dampak negatif terhadap sistem perdagangan global seperti tarif Trump.

"Karena permintaan domestik negara yang lesu menyeret pertumbuhan global," ujar Eswar Prasad.

Negara-negara di seluruh dunia juga kemungkinan akan mencari perlindungan bagi perekonomian mereka sendiri dengan membangun hambatan perdagangan, Prasad memperingatkan.

Para pejabat China pada bulan Desember berjanji untuk memperluas impor dan berupaya menyeimbangkan perdagangan.

Sebagai informasi, ekspor China ke Uni Eropa dan negara PBB Asia Tenggara masing-masing naik 12 persen dan 11 persen pada bulan Desember 2025.

Sementara impor dari negara-negara Eropa meningkat 18 persen, mengalami penurunan 5 persen dari negara-negara Asia Tenggara.

Presiden sekaligus Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, menilai pemerintah China kemungkinan akan mempertahankan kebijakan makroekonomi tanpa perubahan setidaknya hingga kuartal pertama tahun ini.

Menurutnya, ekspor yang solid telah membantu menutupi lemahnya permintaan domestik, sementara ketegangan dagang dengan Amerika Serikat juga mulai mereda.

China dan AS pada Oktober lalu sepakat mencabut sejumlah pembatasan ekspor dan tarif tinggi dalam gencatan senjata dagang selama satu tahun.

Kesepakatan tersebut tercapai setelah pertemuan Presiden China Xi Jinping dengan Presiden AS Donald Trump.

Dalam kesepakatan itu, Beijing juga berkomitmen membeli sedikitnya 12 juta ton kedelai dari AS dalam dua bulan ke depan.

Data resmi menunjukkan China mengimpor 111,8 juta ton kedelai sepanjang tahun lalu, naik 6,5 persen dibandingkan 2024.

Namun, pada Desember, impor kedelai hanya meningkat tipis 1,3 persen menjadi 8 juta ton.

Sementara itu, ekspor logam tanah jarang China melonjak 32 persen pada Desember menjadi 4.392 ton.

Secara keseluruhan, pengiriman mineral strategis tersebut sepanjang tahun tercatat 12,9 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

China dijadwalkan merilis data produk domestik bruto (PDB) tahunan dan kuartal keempat pada Senin mendatang.

Tag:  #meski #dihantam #tarif #trump #neraca #perdagangan #china #surplus #triliun #dollar

KOMENTAR