WEF: Ketegangan Global dan AI Jadi Ancaman Utama Ekonomi 2026
Warga Venezuela bersuka ria merayakan penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh militer AS. Mereka meluapkan suka cita di Doral, Negara Bagian Florida, Amerika Serikat, Sabtu (3/1/2026).(AFP/GIORGIO VIERA)
17:16
14 Januari 2026

WEF: Ketegangan Global dan AI Jadi Ancaman Utama Ekonomi 2026

- Persaingan kekuatan global hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) menempati peringkat teratas dalam daftar risiko jangka pendek paling serius bagi kalangan bisnis pada tahun 2026.

Temuan tersebut tercantum dalam Global Risk Report yang dirilis World Economic Forum (WEF) pada Rabu (14/1/2026).

Laporan tahunan ini disusun berdasarkan survei terhadap para pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan global lainnya.

Ilustrasi Greenland, aktivitas warga di Greenland. UNSPLASH/VISIT GREENLAND Ilustrasi Greenland, aktivitas warga di Greenland.

Hasilnya menggambarkan lanskap dunia yang dinilai semakin rapuh, dengan ketidakpastian akibat gejolak geopolitik, tekanan ekonomi, dan transformasi teknologi yang berlangsung serentak.

Separuh dari para eksekutif bisnis dan pemimpin lain yang disurvei menyatakan mereka memperkirakan masa-masa sulit selama dua tahun ke depan. Sebaliknya, hanya 1 persen responden yang mengatakan mereka memperkirakan periode yang relatif tenang.

Gambaran yang dihasilkan adalah dunia yang berada di ambang tekanan multidimensi, dengan berbagai risiko saling tumpang tindih.

Konfrontasi geoekonomi meningkat

Salah satu perubahan paling menonjol dalam laporan tersebut adalah melonjaknya kekhawatiran terhadap konfrontasi geoekonomi.

Risiko ini kini berada di posisi teratas dalam daftar kekhawatiran bisnis untuk dua tahun ke depan, seiring meningkatnya persaingan antarnegara dan penggunaan instrumen ekonomi sebagai alat tekanan.

Tarif, regulasi, pengelolaan rantai pasokan, serta pembatasan arus modal semakin sering digunakan sebagai senjata dalam persaingan global. Laporan WEF memperingatkan bahwa tren tersebut berpotensi memicu kontraksi substansial dalam perdagangan global.

Ilustrasi perdagangan digital lintas batas.Dok. Shutterstock Ilustrasi perdagangan digital lintas batas.

“Kekhawatiran meningkat atas penurunan ekonomi, inflasi yang meningkat, dan potensi gelembung aset karena negara-negara menghadapi beban utang yang tinggi dan pasar yang bergejolak,” tulis ekonom Saadia Zahidi, direktur pelaksana WEF, dalam laporan tersebut, dikutip dari CNBC.

Menurut WEF, tekanan geoekonomi ini tidak berdiri sendiri.

Risiko tersebut berinteraksi dengan volatilitas pasar keuangan, ketidakpastian kebijakan, dan fragmentasi sistem perdagangan global yang selama beberapa dekade terakhir menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi dunia.

Dunia bisnis di tengah "krisis ganda"

Dalam penyusunan laporan risiko global ini, WEF bermitra dengan perusahaan pialang asuransi terbesar di dunia, Marsh yang pada hari yang sama mengumumkan perubahan nama dari Marsh McLennan.

CEO Marsh, John Doyle, menyebut kondisi global saat ini bukan sekadar krisis tunggal. Dalam wawancara eksklusif dengan CNBC, Doyle mengatakan dunia sedang menghadapi tekanan yang datang dari berbagai arah secara bersamaan.

“Saat ini bukanlah momen krisis global besar, melainkan momen krisis ganda,” kata Doyle.

Ia menguraikan sejumlah tantangan utama yang kini dihadapi dunia usaha, mulai dari perang dagang dan perang budaya, percepatan revolusi teknologi, hingga meningkatnya dampak cuaca ekstrem.

Menurut Doyle, kombinasi risiko tersebut menciptakan lingkungan usaha yang jauh lebih kompleks dibandingkan satu dekade lalu.

“Ini adalah banyak hal yang harus dihadapi dan dikelola oleh bisnis,” ujarnya.

Disinformasi dan polarisasi sosial

Di luar risiko geoekonomi, laporan WEF juga menempatkan informasi yang salah dan disinformasi sebagai risiko jangka pendek terbesar kedua.

Ilustrasi hoaks, Ilustrasi cek faktaDok. SHUTTERSTOCK Ilustrasi hoaks, Ilustrasi cek fakta

Fenomena ini dinilai memperburuk ketidakpercayaan publik terhadap institusi, memperlemah kohesi sosial, dan menyulitkan perumusan kebijakan publik yang efektif.

Setelah disinformasi, risiko jangka pendek berikutnya adalah polarisasi masyarakat, yang didefinisikan sebagai semakin lebarnya kesenjangan antara kelompok-kelompok dengan pandangan yang sangat berlawanan.

Polarisasi ini, menurut laporan tersebut, menciptakan hambatan serius bagi kerja sama lintas sektor dan lintas negara.

WEF menilai bahwa kombinasi disinformasi dan polarisasi sosial menggerus kemampuan masyarakat global untuk merespons guncangan ekonomi dan krisis bersama secara kolektif.

Ketika kepercayaan melemah dan masyarakat terfragmentasi, ruang untuk kompromi dan kolaborasi menjadi semakin sempit.

Dalam perspektif jangka panjang, ketidaksetaraan diidentifikasi sebagai risiko yang paling saling terkait dalam 10 tahun ke depan. Ketimpangan pendapatan, akses terhadap pendidikan dan teknologi, serta perbedaan peluang ekonomi dipandang memperkuat berbagai risiko lain, termasuk instabilitas sosial dan politik.

AI melonjak dalam daftar risiko

Isu yang paling menonjol dan meningkat paling cepat dalam survei terbaru ini adalah potensi dampak negatif dari AI.

Risiko ini melonjak dari peringkat ke-30 di antara risiko jangka pendek tahun lalu, menjadi peringkat kelima dalam daftar risiko jangka panjang terbaru.

WEF mencatat bahwa perkembangan AI, khususnya dalam pembelajaran mesin, berlangsung sangat cepat dan mulai beririsan dengan kemajuan di bidang komputasi kuantum. Konvergensi dua teknologi ini menciptakan lanskap yang sangat dinamis dan sulit diprediksi.

Ilustrasi Artificial IntelligenceSHUTTERSTOCK/NUTTAPONG PUNNA Ilustrasi Artificial Intelligence

Dalam laporannya, WEF memperingatkan bahwa percepatan teknologi tersebut dapat menyebabkan situasi di mana manusia kehilangan kendali. Risiko ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial dan ekonomi.

Salah satu dampak yang disoroti adalah potensi perpindahan tenaga kerja dalam skala besar.

Otomatisasi dan adopsi AI dapat mendorong peningkatan produktivitas, namun pada saat yang sama berisiko memperlebar ketimpangan pendapatan.

Menurut laporan WEF, perpindahan tenaga kerja yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu peningkatan kesenjangan sosial, kontraksi pengeluaran konsumen, serta menciptakan siklus negatif berupa perlambatan ekonomi dan meningkatnya ketidakpuasan sosial.

Risiko iklim tetap mendominasi risiko jangka panjang

Di tengah lonjakan kekhawatiran terhadap AI dan ketegangan geopolitik, cuaca ekstrem tetap menjadi perhatian utama para pemimpin global untuk dekade berikutnya. Risiko lingkungan ini secara konsisten menempati posisi teratas dalam daftar risiko jangka panjang.

Kerugian global yang diasuransikan akibat bencana alam diperkirakan mencapai 107 miliar dollar AS pada tahun 2025.

Angka tersebut melampaui 100 miliar dollar AS untuk tahun keenam berturut-turut, dan menunjukkan peningkatan tajam dibandingkan awal tahun 2000-an.

Doyle menyoroti kebakaran hutan di California pada awal 2025 sebagai contoh nyata meningkatnya risiko iklim. Menurut dia, peristiwa tersebut menegaskan pentingnya regulasi yang memungkinkan tarif asuransi mencerminkan risiko yang sebenarnya.

“Ada pengambil risiko. Ada investor dan perusahaan asuransi yang bersedia membiayai risiko ini," tutur Doyle.

“Ini juga memastikan bahwa kode bangunan sesuai, bahwa kita belajar dari peristiwa sebelumnya dan bahwa teknologi diterapkan sehingga risiko dapat dikelola secara efektif,” imbuhnya. 

Laporan WEF secara eksplisit memperingatkan bahwa panas ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan, dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya kemungkinan akan menjadi lebih intens dan sering terjadi.

Ilustrasi menjaga keseimbangan alam. Perubahan iklimSHUTTERSTOCK/ParabolStudio Ilustrasi menjaga keseimbangan alam. Perubahan iklim

Pergeseran persepsi terhadap risiko lingkungan

Menariknya, meskipun cuaca ekstrem tetap menjadi perhatian utama, beberapa risiko lingkungan lainnya justru bergeser ke bawah dalam daftar kekhawatiran para pemimpin global.

Risiko seperti perubahan kritis pada sistem Bumi, hilangnya keanekaragaman hayati dan keruntuhan ekosistem, serta polusi tidak lagi berada di posisi setinggi tahun-tahun sebelumnya.

WEF menilai pergeseran ini mencerminkan perubahan persepsi mengenai ancaman paling mendesak yang dihadapi dunia saat ini.

Tekanan ekonomi, geopolitik, dan sosial jangka pendek dinilai semakin mendominasi perhatian, meskipun risiko lingkungan struktural tetap ada dan saling terkait dengan risiko lainnya.

Pentingnya kolaborasi lintas sektor

Di tengah kompleksitas dan tumpang tindih berbagai risiko tersebut, laporan WEF menekankan pentingnya kerja sama sebagai prasyarat utama untuk membangun ketahanan global. Laporan tersebut menyebut bahwa “koalisi dari mereka yang bersedia” menjadi semakin krusial.

Kolaborasi antara pemerintah, lembaga akademis, dunia usaha, dan warga negara dinilai penting untuk merumuskan solusi yang dapat diterapkan terhadap tantangan global terbesar.

Tanpa kerja sama lintas sektor, berbagai risiko, mulai dari disinformasi hingga perubahan iklim, dinilai akan semakin sulit dikelola.

Laporan Global Risk Report kembali menegaskan bahwa dunia memasuki periode dengan tingkat ketidakpastian tinggi, di mana tekanan geopolitik, ekonomi, teknologi, dan lingkungan saling berkelindan.

Dalam konteks tersebut, kemampuan untuk bekerja sama dan membangun kepercayaan menjadi faktor kunci dalam menghadapi masa depan yang semakin kompleks.

Tag:  #ketegangan #global #jadi #ancaman #utama #ekonomi #2026

KOMENTAR