Rupiah Dekati Level 17.000, Pasar Cermati Langkah Bank Indonesia
- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terus berlanjut, bahkan membuka ruang spekulasi semakin lebarnya tekanan terhadap mata uang garuda.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah secara teoretis berpotensi melemah hingga ke posisi Rp 17.000 per dollar AS, meskipun arah pergerakannya sangat bergantung pada respons dan agresivitas Bank Indonesia (BI).
Menurutnya, pergerakan rupiah tidak bisa dilepaskan dari kebijakan stabilisasi yang ditempuh bank sentral.
Intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan likuiditas, hingga komunikasi kebijakan menjadi faktor penentu utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
"Bisa (rupiah melemah ke Rp 17.000 per dollar AS). Namun tergantung seberapa agresif BI intervensi dan tentunya pandangan BI akan nilai tukar tersebut," ujar Lukman kepada Kompas.com, Selasa (13/1/2026).
Ia menyebutkan, selama belum terjadi perubahan mendasar pada fundamental ekonomi domestik, arah nilai tukar rupiah pada dasarnya sulit diperkirakan secara pasti.
Faktor eksternal dan sentimen global masih akan sangat dominan mempengaruhi pergerakan mata uang Indonesia.
"Tidak bisa diperkirakan sejauh sebelum ada perubahan fundamental ekonomi domestik," paparnya.
Tekanan terhadap rupiah sendiri kembali terlihat pada penutupan perdagangan Selasa sore.
Nilai tukar rupiah mencatatkan level terlemah sepanjang sejarah terhadap dollar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,13 persen secara harian ke posisi Rp 16.877 per dollar AS.
Pelemahan tersebut sejalan dengan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang mencatat rupiah berada di level Rp 16.875 per dollar AS, juga melemah 0,13 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Tekanan rupiah saat ini, lanjut Lukman, terutama dipicu oleh penguatan kembali dollar AS setelah pernyataan bernada hawkish dari bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Sikap The Fed yang cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat membuat dollar AS kembali menjadi aset aman pilihan investor global.
Di sisi domestik, rupiah juga masih dibayangi kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Isu potensi defisit anggaran yang dikhawatirkan dapat melewati batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi salah satu sentimen negatif yang menekan rupiah.
Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia turut membebani pergerakan nilai tukar.
"Sebab utama rupiah melemah terhadap dollar AS yang rebound oleh pernyataan hawkish The Fed. Namun rupiah sendiri juga masih tertekan oleh kekhawatiran bahwa defisit anggaran bisa melewati 3 persen. Dan tentunya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh BI masih terus membebani," tukas Lukman.
Senada, HSBC memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga mencapai level Rp 17.000 per dollar AS pada akhir tahun 2026.
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist sekaligus Asean Economist HSBC, Pranjul Bhandari, mengatakan rupiah diperkirakan akan bergerak sedikit lebih lemah dibandingkan posisi saat ini yang berada di kisaran Rp 16.700-Rp 16.800 per dollar AS.
"Kami pikir pada akhir tahun 2026, kita mungkin akan mencapai angka Rp 17.000 atau sekitar itu. Jadi sedikit lebih lemah daripada saat ini," katanya dalam media briefing, Senin (12/1/2026).
Pranjul menjelaskan, secara umum terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar suatu negara, yakni kinerja perdagangan dan arus keuangan.
Namun, dalam konteks pelemahan rupiah tahun ini, tekanan lebih banyak berasal dari sisi arus modal.
Ia menilai depresiasi rupiah dipicu oleh masih berlanjutnya aliran keluar modal investasi portofolio, serta melemahnya penanaman modal asing (PMA) sejak tahun lalu.
Kondisi tersebut turut diperburuk oleh kinerja neraca pembayaran yang masih mencatat defisit cukup lebar sejak kuartal II-2025.
Defisit neraca pembayaran tercatat sebesar 6,7 miliar dollar AS pada kuartal II-2025 dan kembali berlanjut sebesar 6,4 miliar dollar AS pada kuartal III 2025.
"Arus masuk modal adalah bagian yang menjadi masalah, bukan perdagangan," ungkap Pranjul.
Di sisi lain, kinerja perdagangan Indonesia masih relatif kuat.
Hal ini tecermin dari neraca perdagangan yang mencatat surplus selama 67 bulan berturut-turut, sejak Mei 2020 hingga November 2025.
"Perdagangan bukanlah masalah yang mencolok saat ini. Saya pikir surplus perdagangan cukup kuat pada tahun 2025 dan neraca transaksi berjalan juga positif," lanjutnya.
Sementara itu, HSBC juga memperkirakan pergerakan dollar AS pada tahun ini cenderung stagnan atau sedikit melemah.
Proyeksi tersebut didorong oleh tingginya ketidakpastian kebijakan pemerintah Amerika Serikat, mulai dari dinamika geopolitik, pergantian pimpinan bank sentral AS (The Fed), hingga perkembangan kebijakan tarif resiprokal.
"Jadi ada begitu banyak hal yang berbeda dan ada banyak ketidakpastian seputar banyak hal. Perkiraan kami adalah indeks dollar AS secara umum akan bergerak mendatar atau sedikit melemah," ucap Pranjul.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sentimen positif bagi Indonesia karena tekanan tambahan terhadap rupiah dapat dihindari.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa rupiah tetap rentan terhadap perubahan arah mata uang Paman Sam.
Pasalnya, meski dollar AS cenderung melemah pada 2025, rupiah justru tercatat melemah sekitar 3,5 persen sepanjang tahun tersebut.
"Jika indeks dollar AS menguat, maka itu akan menjadi masalah besar bagi Indonesia, karena rupiah akan terlihat jauh lebih lemah," pungkasnya.
Tag: #rupiah #dekati #level #17000 #pasar #cermati #langkah #bank #indonesia