Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Risiko Pasokan Iran dan Venezuela
Ilustrasi minyak mentah. Harga minyak dunia menguat pada Jumat (9/1/2026) seiring pasar mencermati eskalasi protes di Iran dan perkembangan kesepakatan ekspor minyak Venezuela.(Freepik)
20:20
9 Januari 2026

Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Risiko Pasokan Iran dan Venezuela

- Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat (9/1/2026), seiring pelaku pasar menilai risiko pasokan dari Iran dan ketidakpastian arah ekspor minyak Venezuela. Perkembangan geopolitik kembali menjadi pendorong utama pergerakan harga energi global.

Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent naik 59 sen atau 0,95 persen menjadi 62,58 dollar AS per barel pada pukul 12.04 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 54 sen atau 0,9 persen ke level 58,30 dollar AS per barel.

Kedua acuan harga tersebut telah melonjak lebih dari 3 persen pada perdagangan Kamis, setelah mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut. Secara mingguan, Brent diperkirakan naik sekitar 3 persen, sedangkan WTI menguat 1,7 persen.

Pasar menaruh perhatian besar pada situasi di Iran. Aksi protes di negara produsen minyak utama Timur Tengah itu dinilai terus menguat dan memicu kekhawatiran gangguan pasokan.

“Iran protests seem to be gathering momentum, leading the market to worry about disruptions,” kata Kepala Analisis Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen.

Selain Iran, kekhawatiran pasokan juga dipicu oleh risiko meluasnya perang Rusia–Ukraina ke ekspor minyak Rusia. Situasi tersebut menambah ketidakpastian di tengah pasar energi global yang sensitif terhadap isu geopolitik.

Di sisi lain, perhatian pasar tertuju pada pertemuan Gedung Putih dengan perusahaan minyak dan rumah dagang untuk membahas ekspor minyak Venezuela.

Presiden AS Donald Trump meminta Venezuela memberikan akses penuh kepada Amerika Serikat terhadap sektor minyaknya, hanya beberapa hari setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Pejabat AS menyatakan Washington akan mengendalikan penjualan dan pendapatan minyak Venezuela tanpa batas waktu.

Sejumlah perusahaan, termasuk Chevron, serta rumah dagang global Vitol dan Trafigura, bersaing memperoleh kontrak untuk memasarkan hingga 50 juta barel minyak PDVSA yang saat ini tersimpan di persediaan.

Persediaan tersebut menumpuk di tengah embargo minyak ketat, yang telah melibatkan penyitaan empat kapal tanker, menurut dua sumber Reuters.

“Pasar akan mencermati hasilnya dalam beberapa hari ke depan terkait bagaimana minyak Venezuela yang tersimpan akan dijual dan dikirimkan,” kata analis pasar Moomoo ANZ, Tina Teng.

Sementara itu, pemadaman internet nasional dilaporkan terjadi di Iran pada Kamis (8/1/2026), menurut NetBlocks. Aksi protes berlanjut di Teheran, Mashhad, Isfahan, dan sejumlah wilayah lain akibat tekanan ekonomi.

Di kawasan Eropa Timur, militer Rusia menyatakan telah menembakkan rudal hipersonik Oreshnik ke Ukraina, termasuk ke infrastruktur energi yang mendukung kompleks industri militer negara tersebut.

Meski harga minyak bergerak naik, ruang penguatan dinilai terbatas.

Haitong Futures mencatat persediaan minyak global terus meningkat, sehingga kelebihan pasokan masih menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan harga. Tanpa eskalasi risiko yang lebih besar di Iran, reli harga diperkirakan sulit berlanjut.

Tag:  #harga #minyak #dunia #menguat #tengah #risiko #pasokan #iran #venezuela

KOMENTAR