AS Gulingkan Maduro, Pengamat: Harga Minyak Dunia Berpotensi Melonjak
ilustrasi minyak mentah(SHUTTERSTOCK)
18:08
5 Januari 2026

AS Gulingkan Maduro, Pengamat: Harga Minyak Dunia Berpotensi Melonjak

- Langkah Amerika Serikat (AS) menginvasi Venezuela dengan menggulingkan Presiden Nicolas Maduro berpotensi memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.

Pasalnya, Venezuela merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gajah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai, langkah Presiden AS Donald Trump ingin mengontrol produksi dan suplai minyak Venezuela akan berdampak terhadap pasar minyak global.

"Kalau kita lihat, kebiasaan AS itu kan ingin menguasai sumber-sumber minyak, terutama di Timur Tengah dan sekarang di Amerika Selatan. Venezuela kan juga termasuk penghasil minyak," ujarnya kepada Kompas.com, Senin (5/1/2026).

Menurut Fahmy, besaran kenaikan harga minyak dunia sangat bergantung pada sejauh mana dampak invasi AS terhadap stabilitas Venezuela dan kawasan sekitarnya.

Ia menjelaskan, persoalan Venezuela tidak bisa dilepaskan dari kepentingan negara besar lain seperti China dan Rusia.

Kedua negara merupakan mitra ekonomi utama Venezuela, serta sama-sama menentang dominasi AS.

China diketahui menjadi salah satu pengimpor minyak terbesar dari Venezuela, sementara Rusia juga memiliki kepentingan geopolitik yang kuat di kawasan tersebut.

Fahmy pun menilai, selama konflik tidak berkembang menjadi perang terbuka yang melibatkan banyak negara, kenaikan harga minyak dunia cenderung tidak ekstrem.

Dalam skenario ini, penguasaan Venezuela oleh AS hanya akan membuat suplai minyak dari negara tersebut berada di bawah kendali Washington.

"Kalau misalnya konflik tadi meluas, itu sudah pasti akan berpengaruh pada harga minyak. Tapi kalau misalnya tidak meluas, tetapi penguasaan oleh AS yang artinya suplai dari Venezuela itu kan ditentukan oleh AS, maka saya perkirakan itu berpotensi meningkatkan harga minyak dunia," jelas dia.

Ia menuturkan, jika konflik tidak melibatkan China maupun Rusia secara langsung, harga minyak dunia berpeluang naik sekitar 10-20 dollar AS per barrel.

Namun, situasinya akan berbeda apabila konflik meluas dan menyeret kekuatan besar lainnya.

Terlebih Rusia yang juga merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar dunia.

"Kalau eskalasinya meningkat dan melibatkan China serta Rusia, tidak menutup kemungkinan harga minyak dunia bisa menembus di atas 100 dollar AS per barrel," ucapnya.

Fahmy berkaca pada perang yang terjadi antara Rusia-Ukraina.

Meski konflik tersebut tidak berkembang menjadi perang global, dampaknya terhadap harga minyak dan gas dunia sangat signifikan karena Rusia merupakan produsen energi utama.

Sanksi dan pembatasan ekspor membuat harga energi melonjak tajam.

"Jadi kalau konflik tidak meluas, dan nanti minyak Venezuela ke China dibatasi oleh AS, maka ini pasti akan menaikkan harga minyak dunia," ucap dia.

Sebelumnya, pasukan AS atas perintah Trump menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Keduanya dibawa ke AS dan didakwa atas tuduhan perdagangan narkoba di Pengadilan Distrik Selatan New York.

Trump pun menyatakan bakal mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak asal AS untuk menggarap ladang minyak Venezuela usai penggulingan Maduro.

Ia mengumumkan bahwa perusahaan-perusahaan minyak besar AS akan menghabiskan miliaran dollar AS untuk berinvestasi di Venezuela, termasuk memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah.

"Kami akan membawa perusahaan-perusahaan minyak besar AS, yang terbesar di mana pun di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dollar, dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, yakni infrastruktur minyak," ujar Trump dalam konferensi pers yang dikutip dari CNBC, Minggu (4/1/2026).

"Mari kita mulai menghasilkan uang untuk negara ini," imbuhnya.

Venezuela merupakan salah satu pendiri Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC.

Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar di dunia yakni 303 miliar barrel, atau sekitar 17 persen dari cadangan global, menurut U.S. Energy Information Administration (EIA).

Venezuela menasionalisasi industri minyaknya pada 1976 dengan mengambil alih aset perusahaan minyak internasional untuk membentuk perusahaan negara Petróleos de Venezuela S.A. (PDVSA).

Produksi minyak Venezuela mencapai puncaknya di angka 3,5 juta barrel per hari pada akhir 1990-an, namun sejak itu mengalami penurunan signifikan, kata analis minyak Kpler, Matt Smith.

Saat ini, produksi minyak Venezuela berada di kisaran 800.000 barrel per hari, berdasarkan data Kpler.

Sebagai perbandingan, pada pekan 26 Desember 2025, produksi minyak AS mencapai sekitar 13,8 juta barrel per hari.

Tag:  #gulingkan #maduro #pengamat #harga #minyak #dunia #berpotensi #melonjak

KOMENTAR