Perusahaan Minyak AS Siap Masuk Venezuela, Risiko Lama Membayangi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perusahaan minyak AS siap menghadapi tantangan besar untuk kembali masuk ke Venezuela dan berinvestasi memulihkan produksi energi negara tersebut.
Pernyataan ini muncul beberapa jam setelah Nicolás Maduro ditangkap dan digulingkan oleh pasukan AS.
“Kita akan mengirimkan perusahaan-perusahaan minyak AS yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara tersebut,” kata Trump pada Sabtu (4/1/2026).
Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar asal AS yang masih beroperasi di Venezuela.
Perusahaan ini memproduksi minyak mentah berat untuk kilang di Pantai Teluk AS dan sejumlah fasilitas lain.
Exxon Mobil dan ConocoPhillips memiliki rekam jejak panjang di negara tersebut sebelum proyek mereka dinasionalisasi hampir dua dekade lalu pada era Presiden Hugo Chavez.
American Petroleum Institute, asosiasi industri minyak terbesar di AS, menyatakan terus memantau perkembangan situasi di Venezuela.
Direktur Program Energi Amerika Latin Baker Institute Universitas Rice, Francisco Monaldi, menilai Chevron berada di posisi paling diuntungkan jika pasar minyak Venezuela kembali terbuka. Perusahaan minyak AS lain dinilai akan menunggu kepastian stabilitas politik serta kejelasan lingkungan operasional dan kerangka kontrak.
“Perusahaan yang mungkin sangat tertarik untuk kembali adalah Conoco, karena mereka memiliki piutang lebih dari 10 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 167 triliun, dan kecil kemungkinan mereka akan dibayar tanpa kembali ke negara itu,” kata Monaldi.
Ia menambahkan, Exxon juga berpotensi kembali meski nilai piutangnya lebih kecil.
Monaldi menilai Exxon, Conoco, dan Chevron tidak akan terlalu khawatir berinvestasi di minyak berat.
Jenis minyak ini masih dibutuhkan di AS dan perusahaan-perusahaan tersebut relatif kurang fokus pada agenda dekarbonisasi.
Perusahaan energi Eropa dinilai lebih berhati-hati untuk masuk ke Sabuk Orinoco yang sangat produktif.
Pengalaman nasionalisasi aset minyak di masa lalu masih membekas. Conoco hingga kini menuntut ganti rugi miliaran dollar AS atas pengambilalihan tiga proyek minyak hampir dua dekade lalu. Exxon juga menjalani sengketa arbitrase panjang dengan Venezuela setelah hengkang pada 2007.
Chevron saat ini mengekspor sekitar 150.000 barel minyak mentah per hari dari Venezuela ke Pantai Teluk AS. Beberapa tahun terakhir, perusahaan ini harus bermanuver di tengah perubahan kebijakan Washington.
Trump sempat mencabut lisensi era Presiden Joe Biden pada Februari yang memungkinkan ekspor minyak Venezuela.
Juli kemudian, Chevron kembali memperoleh izin terbatas untuk melanjutkan operasi dan pertukaran minyak, dengan syarat tidak ada aliran dana ke pemerintahan Maduro.
CEO Chevron Mike Wirth pada Desember lalu menyebut telah berdiskusi dengan pemerintahan Biden dan Trump terkait pentingnya mempertahankan kehadiran AS di Venezuela lintas siklus politik.
Chevron telah beroperasi di negara tersebut lebih dari 100 tahun. Sabtu lalu, perusahaan menegaskan fokus utama tetap pada keselamatan karyawan dan integritas aset.
“Kami terus beroperasi sepenuhnya sesuai dengan semua hukum dan peraturan yang relevan,” kata juru bicara Chevron melalui email.
Perusahaan jasa ladang minyak global seperti SLB, Baker Hughes, Halliburton, dan Weatherford belum menyampaikan komentar. Peran mereka dinilai krusial untuk mendorong peningkatan produksi minyak mentah berat Venezuela.
Exxon dan Conoco juga belum merespons permintaan komentar. Perusahaan energi Italia Eni menyatakan memantau situasi dengan cermat dan menegaskan operasinya tidak terdampak.
Analis menilai rencana Trump membawa perusahaan minyak besar AS ke Venezuela akan menghadapi hambatan serius. Infrastruktur energi yang rusak parah membutuhkan waktu panjang dan investasi besar untuk pulih.
“Masih banyak pertanyaan tentang kondisi industri minyak Venezuela, tetapi jelas dibutuhkan puluhan miliar dollar AS untuk memulihkannya,” kata Kepala Analis Sektor Global Third Bridge, Peter McNally. Ia menilai perusahaan minyak Barat membutuhkan waktu setidaknya satu dekade sebelum berkomitmen penuh.
Trump menegaskan embargo AS terhadap minyak Venezuela tetap berlaku. Ia juga menyebut pasukan militer AS akan bertahan di posisinya hingga tuntutan Washington terpenuhi.
“Armada Amerika tetap siaga, dan AS mempertahankan semua opsi militer sampai tuntutan Amerika Serikat sepenuhnya dipenuhi dan dipuaskan,” kata Trump.
Sebulan terakhir, kapal tanker yang disewa Chevron menjadi salah satu dari sedikit kapal yang keluar masuk Venezuela. Aktivitas ini terjadi setelah Trump pada Desember mengumumkan “blokade” terhadap kapal tanker yang terkena sanksi.
Venezuela, pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, mengekspor sekitar 921.000 barel per hari pada November. Data Badan Informasi Energi AS menunjukkan produksi minyak negara tersebut pernah mencapai 3,2 juta barel per hari pada 2000.
Tag: #perusahaan #minyak #siap #masuk #venezuela #risiko #lama #membayangi