IHSG Gagal Tembus 9.000, ''Big Caps'' Kehilangan Tenaga
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mampu menembus level psikologis 9.000 hingga penutupan perdagangan Selasa (30/12/2025).
Sejumlah faktor, mulai dari penipisan likuiditas musiman, melemahnya saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), hingga belum kuatnya dukungan fundamental emiten, dinilai menjadi penyebab utama tertahannya laju penguatan indeks.
Sebelumnya Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, memperkirakan pergerakan IHSG ke posisi 9.000 pada Desember tahun ini.
Ilustrasi IHSG
Bahkan, indeks bergerak menguat di kisaran 32.000 dalam waktu sepuluh tahun mendatang.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, mengatakan dinamika pasar saham domestik menjelang akhir tahun cenderung melambat.
Kondisi itu merupakan pola musiman yang hampir selalu terjadi setiap menjelang tutup tahun. Akibatnya indeks kesulitan melanjutkan reli yang lebih agresif.
"Penipisan likuiditas dan pelemahan saham penopang. Likuiditas menipis menjelang akhir tahun 2025, likuiditas pasar cenderung menipis secara musiman,” ujar Azharys kepada Kompas.com, Rabu (31/12/2025).
Di sisi lain, saham-saham konglomerasi berkapitalisasi besar yang sebelumnya menjadi penopang utama kenaikan IHSG justru menunjukkan kecenderungan melemah, membuat pergerakan indeks kehilangan tenaga pendorong yang signifikan.
“Saham-saham konglomerasi berkapitalisasi besar (big caps) yang sebelumnya menjadi penopang utama kenaikan IHSG justru menunjukkan pelemahan,” paparnya.
Menurut Azharys, fenomena window dressing yang lazim terjadi menjelang akhir tahun memang masih terlihat pada sejumlah saham besar.
Ilustrasi pasar saham. Libur bursa saham Desember 2025. Hari libur bursa Desember 2025. Jadwal libur bursa Desember 2025. Tanggal libur bursa Desember 2025.
Namun, dampaknya lebih bersifat menjaga stabilitas indeks secara psikologis, bukan menjadi motor penggerak reli lanjutan.
Karena itu, alih-alih mendorong IHSG ke level yang lebih tinggi, saham-saham big caps justru lebih banyak berperan sebagai penahan agar koreksi tidak terlalu dalam.
“Alih-alih memicu rally signifikan, efek window dressing saham-saham ini hanya menjadi penopang psikologis pasar, bukan pendorong kuat untuk mengejar 9.000,” ucap Azharys.
Selain faktor likuiditas dan pergerakan saham penopang. Ia menilai kenaikan IHSG yang sempat terjadi juga belum sepenuhnya ditopang oleh penguatan fundamental perusahaan yang solid.
Pergerakan IHSG masih didominasi sentimen jangka pendek dan faktor teknikal, sementara perbaikan kinerja emiten secara menyeluruh belum terlihat signifikan.
Pandangan tersebut sejalan dengan penilaian Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta.
Ia menilai ekspektasi pasar terhadap Santa Claus rally juga tidak sepenuhnya terwujud di pasar saham domestik. Nafan mencatat pola Santa Claus rally di Indonesia berbeda dengan yang terjadi di pasar global.
Jika mencermati pergerakan IHSG sepanjang Desember penguatan baru mulai terlihat memasuki pekan keempat. Sebelumnya, indeks cenderung bergerak terbatas dan memasuki fase konsolidasi.
Menjelang Natal hingga 31 Desember 2025, IHSG sempat bergerak mendatar sebelum akhirnya menutup bulan dengan kondisi konsolidasi yang relatif stabil.
Nafan menambahkan, pergerakan IHSG lebih banyak dipengaruhi oleh saham-saham konglomerasi, serta saham lapis kedua dan ketiga yang menjadi perhatian investor ritel dan semi-institusi.
Ilustrasi saham.
Sebaliknya, saham-saham blue chip masih menunjukkan kinerja harga yang relatif kurang agresif.
“Bahkan untuk saham-saham blue chip itu pun juga pergerakan harga sahamnya masih rata-rata underwhelming,” ungkapnya.
Dari sisi domestik, ia menilai fondasi ekonomi Indonesia sebenarnya masih cukup kuat. Permintaan domestik tetap solid, inflasi relatif terjaga, serta terdapat peluang pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Indonesia (BI) pada tahun depan.
Pelonggaran tersebut diperkirakan dapat dilakukan sebanyak dua kali, masing-masing pada akhir kuartal I-2026 dan akhir kuartal II-2026.
Namun, dari sisi global, pelaku pasar masih dibayangi berbagai sentimen negatif, terutama terkait dinamika geopolitik yang meningkatkan sikap kehati-hatian investor.
Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat juga sempat menekan pasar, seiring berkurangnya harapan pelonggaran agresif dari Federal Reserve (The Fed).
Meski demikian, rilis data ekonomi Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan, seperti data Producer Price Index (PPI) dan estimasi kedua pertumbuhan ekonomi AS (US GDP) kuartal III, kembali memunculkan optimisme pasar.
Data tersebut membuka peluang bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk mempertimbangkan pelonggaran moneter lanjutan.
Kondisi tersebut membuat dampak Santa Claus rally global lebih terasa pada awal hingga pertengahan Desember, khususnya di pasar Amerika Serikat yang didominasi saham-saham teknologi dan sentimen kecerdasan buatan (AI).
Sementara di Indonesia, tanpa dukungan reli yang kuat dari saham-saham blue chip, penguatan indeks menjadi terbatas.
Pada akhirnya, kombinasi likuiditas yang menipis, melemahnya saham-saham penopang utama, serta kehati-hatian investor membuat IHSG belum mampu menembus level 9.000 hingga akhir tahun.
Seandainya saham-saham berkapitalisasi besar di Tanah Air mampu melanjutkan reli yang lebih kuat dan Santa Claus rally berlangsung sepanjang Desember, IHSG berpeluang mencapai level tersebut, sejalan dengan target yang pernah disampaikan oleh Purbaya maupun Bursa Efek Indonesia (BEI).
Namun hingga akhir 2025, target tersebut masih tertahan oleh realitas pasar yang bergerak lebih hati-hati.