Industri Tekstil di Ujung Tanduk, Banjir Impor dan Kredit Macet Biang Keroknya?
- Industri tekstil nampak masih menghadapi tantangan yang kompleks. Bukan hanya akibat dampak persaingan produk impor namun juga tertutupnya akses pembiayaan dari perbankan karena dianggap sebagai Sunset Industry.
Hal ini diungkap General Manager PT Mayer Indah Indonesia, Melisa Suria, saat mengadu ke Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Selasa (23/12/2025).
Melisa mengungkapkan bahwa sejak awal September hingga Desember, pihaknya telah mendatangi lebih dari 20 bank untuk mengajukan pinjaman modal kerja.
"Mereka bilang itu adalah kebijakan bank swasta tersebut bahwa industri tekstil tidak bisa diberikan pembiayaan karena sudah terlalu bleeding (risiko tinggi), bahasanya seperti itu,” ujar Melisa di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada Selasa (23/12/2025).
Namun sayangnya sejumlah bank, termasuk bank-bank milik negara (HIMBARA), disebut memberikan lampu merah terhadap sektor tekstil.
Ditolaknya pengajuan kredit tersebut, membuat banyak produsen lokal kesulitan bertahan di tengah biaya operasional yang terus berjalan.
Padahal menurut Melisa PT Mayer Indah Indonesia bukan pemain baru di industri ini. Perusahaan yang berdiri sejak 1973 tersebut memproduksi kain bordir dan kain kebaya yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari industri fesyen dan budaya Indonesia.
Ia menceritakan, tekanan pada industri tekstil di perusahaan ini mulai terasa sejak pandemi Covid-19 dimana produk-produk miliknya sebagian besar digunakan untuk busana pesta dan perayaan. Sedangkan saat pandemi aktivitas tersebut otomatis terhenti.
Realita lapangan yang berat untuk industri tekstil
Lalu setelah pandemi Covid-19 mereda kegiatan ekonomi yang kembali normal baru bisa membuat perusahaan menjalankan kembali produksinya secara wajar.
Sayangnya kata Melisa, realita di lapangan justru semakin berat. Di mana masuknya banjir produk impor yang membuat harga kain lokal justru kian sulit bersaing.
Sepanjang proses tersebut banyak konveksi yang selama ini menjadi pelanggan terpaksa menghentikan produksi dan memulangkan para penjahitnya ke tempat asal.
Di tengah kondisi tersebut pemerintah mengumumkan berbagai stimulus dan penyaluran dana untuk menggerakkan perekonomian namun sayangnya hal ini dinilai belum terasa di level industri tekstil.
"Kita bukan bikin baru jualan, kita terima order dulu baru bikin. Saya sudah bawa, ini loh dasarnya saya butuh pinjaman untuk modal kerja, untuk beli benang," jelasnya.
Tanggapan Purbaya
Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa disepakati adanya dukungan pembiayaan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Sehingga PT Mayer Indah Indonesia diminta mengajukan pinjaman ke bank-bank Himbara serta berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dengan catatan kewajiban BPJS Ketenagakerjaan telah diselesaikan.
Tag: #industri #tekstil #ujung #tanduk #banjir #impor #kredit #macet #biang #keroknya