Kredit Perbankan Diprediksi Tumbuh Terbatas pada 2025
- Pertumbuhan kredit perbankan masih akan positif pada 2025. Hanya saja tidak akan agresif. Sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional dan perlambatan penurunan suku bunga acuan global.
"Untuk 2025, kami melihat bahwa pertumbuhan kredit perbankan masih akan positif. Perkiraan sebelumnya bahwa penurunan suku bunga AS akan agresif, ternyata dengan situasi terkini menjadi less aggressive dan cenderung masih dalam level yang relatif tinggi," ucap Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae lewat jawaban tertulis, Senin (27/1).
Meski demikian, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih akan cukup baik bakal menarik minat investasi ke domestik. Dengan begitu akan mendatangkan aliran dana ke dalam negeri. Sehingga meningkatkan investasi, perluasan usaha, serta meningkatkan demand kredit.
Selain itu, proyeksi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) tahun ini juga diharapkan dapat berdampak positif pada penurunan biaya dana (cos of fund). Namun tetap cukup menarik bagi nasabah untuk menempatkan dananya di perbankan. Yang mana dapat meningkatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).
Jika penghimpunan dana cukup positif, maka ketersediaan likuiditas akan terjaga. Yang kemudian menjadi sumber dana utama dalam melaksanakan penyaluran kredit perbankan. Hanya saja, perlu juga mewaspadai risiko yang timbul akibat ketidakpastian global.
"Seperti melambatnya penurunan suku bunga global seiring kecenderungan meningkatnya laju inflasi. Meningkatnya volatilitas pasar keuangan dan fluktuasi perdagangan global. Serta harga komoditas yang disebabkan Trump Effect, ketegangan geopolitik yang masih berlanjut," beber Dian.
Pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2024 mencatatkan double digit. Yakni sebesar 10,39 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp 7.827 triliun. Didorong oleh kredit investasi yang naik 13,62 persen YoY dan kredit konsumsi 10,61 persen YoY.
"Sedangkan kredit modal kerja tumbuh 8,35 persen," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam paparan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Kualitas kredit terjaga dengan rasio kredit macet alias non-performing loan (NPL) gross di level 2,08 dan NPL net 0,74 persen. Loan at risk (LaR) juga turun menjadi 9,28 persen. Di sisi lain, DPK perbankan meningkat 4,48 persen menjadi Rp 8.837 triliun.
"Dengan giro, tabungan, dan deposito masing-masing tumbuh sebesar 3,34 persen; 6,78 persen; dan 3,50 persen," terang Mahendra.
BI memperkirakan pertumbuhan kredit tumbuh dalam kisaran 11-13 persen pada 2025. Sejalan prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap baik dan dukungan kebijakan makroprudensial bank sentral. "Dengan memperkuat strategi kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk meningkatkan kredit/pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja. Termasuk UMKM dan ekonomi hijau mulai Januari 2025, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo.
Hingga pekan kedua Januari 2025, BI telah menyalurkan insentif KLM senilai Rp 295 triliun. Disalurkan antara lain ke sektor pertanian, perdagangan, manufaktur, transportasi, pergudangan, pariwisata dan ekonomi kreatif, konstruksi, real estate, serta perumahan rakyat. Ada pula penyaluran ke sektor ultra mikro, UMKM, dan sektor hijau.
"Melalui bank BUMN sebesar Rp129,1 triliun, bank BUSN (bank umum swasta nasional) senilai Rp 130,6 triliun, BPD (bank pembangunan daerah) Rp 29,9 triliun, dan KCBA (kantor cabang bank asing) Rp 5 triliun," jelasnya.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja menuturkan, kondisi pelemahan daya beli masyarakat tahun ini berbeda dibanding periode 2020-2021 ketika pandemi Covid-19. Saat itu masyarakat dibantu oleh bantuan sosial (bansos) serta dukungan berbagai promo e-commerce. Makanya, dia cukup berhati-hati dalam menentukan target kredit konsumer.
Sekarang harga barang dan jasa mulai merangkak naik. Seperti, biaya layanan antar e-commerce makin mahal. "Buying power makin melemah dan itu terefleksi dari penjualan para produsen kita, SME (small medium enterprise) komersil yang relatively agak stagnan. Itu menyebabkan kita tahun ini harus lebih hati-hati dalam menentukan pricing daripada kredit konsumer," ujar Jahja.
BCA akan memastikan cicilan tersebut betul-betul bisa dilunasi. Jangan sampai konsumen mengambil cicilan hanya karena melihat bunga kredit murah.
Misalnya, cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) tidak hanya 1-2 tahun. Tapi sampai 15 tahun.
"Saat ini kalau dia pinjam, sampai the whole time dia (mesti) bisa bayar. Kalau nggak, hanya di awal saja dia bisa bayar, ternyata 1 tahun, 2 tahun dia macet. Karena begitu harga disesuaikan dengan kondisi semula, itu cicilan pasti akan naik," ungkap Jahja.
Kredit Perbankan Tumbuh Terbatas di 2025
-proyeksi pertumbuhan sekitar 11-13 persen
-dipengaruhi pertumbuhan ekonomi yang baik, aliran dana yang meningkat, serta penurunan suku bunga BI
-sektor prioritas: UMKM, ekonomi hijau, dan sektor-sektor yang mendukung penciptaan lapangan kerja
-tantangan: pelemahan daya beli masyarakat serta peningkatan biaya barang dan jasa
Sumber: OJK, BI, BCA
Tag: #kredit #perbankan #diprediksi #tumbuh #terbatas #pada #2025