Legenda Hutan Donoloyo di Wonogiri, Konon Bayangan Pohonnya Sampai Demak
Foto Hutan Jati Donoloyo(Dok. PEMKAB WONOGIRI)
12:07
16 Januari 2024

Legenda Hutan Donoloyo di Wonogiri, Konon Bayangan Pohonnya Sampai Demak

Hutan Jati Donoloyo merupakan kawasan hutan jati yang terletak di Desa Watusono, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Hutan ini terdiri dari ratusan pohon jati tua, bahkan terdapat pohon yang usianya mencapai 500 tahun.

Melansir laman resmi Pemerintah Kabupaten Wonogiri, hutan dengan nama Donoloyo tersebut konon dulunya merupakan pemasok kayu jati untuk kerajaan Majapahit.

Nama Donoloyo sendiri berasal dari seorang tokoh desa, sekaligus laskar kerajaan Majapahit, Ki Ageng Donoloyo.

          Lihat postingan ini di Instagram                      

Sebuah kiriman dibagikan oleh Kompas Travel (@kompas.travel)

Saat itu dia sengaja menanam pohon jati di kawasan tersebut untuk persediaan bahan bangunan kerajaan.

Legenda Hutan Donoloyo, terlihat sampai Demak

Melansir Humas Kabupaten Wonogori, hutan ini kemudian ditemukan dan dapat dilihat dari Demak pada saat perkembangan agama islam di Jawa.

Awal mulanya para wali saat itu mendirikan sebuah Masjid, yang berlokasi di Demak sebagai pusat dari berkembangnya agama Islam.

Para wali kemudian mengutus Sunan Kalijaga untuk mencari pohon yang akan digunakan sebagai tiang dalam membuat Masjid Agung.

Berkat karomah (kemampuan istimewa dari Tuhan), Sunan Kalijaga saat itu dapat melihat bayangan sebuah pohon besar dari Demak.

Dalam pencariannya, Sunan Kalijaga akhirnya menuju arah selatan Jawa, hingga tiba di hutan jati di seberang sungai.

Masjid Tiban Wonokerso di Baturetno, Wonogiri yang konon dibangun Wali Songo dan lebih tua dari Masjid Agung Demak.KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA Masjid Tiban Wonokerso di Baturetno, Wonogiri yang konon dibangun Wali Songo dan lebih tua dari Masjid Agung Demak.

Di tempat itulah Sunan Kalijaga beristirahat, lalu mendirikan masjid yang sekarang dikenal sebagai Masjid Tiban Wonokerso di Baturetno. Sunan Kalijaga lalu meneruskan perjalanannya ke arah timur laut, untuk menemukan bayangan pohon yang dilihatnya.

Setelah beberapa waktu melakukan perjalanan, Sunan Kalijaga akhirnya sampai di hutan Jati Donoloyo. Di sinilah ternyata asal muasal bayangan pohon yang terlihat hingga wilayah Demak itu.

Sunan Kalijaga kemudian menebang pohon Jati induk ini untuk dijadikan tiang utama Masjid Agung Demak. Sisa pangkal (Pok) pohon jati inilah yang sekarang dijadikan petilasan atau punden di Hutan Donoloyo.

Disekitar petilasan tersebut, masih terdapat beberapa pohon Jati yang berukuran besardengan diameter lebih dari satu meter, sehingga menambah aura spiritual yang kuat.

Menurut juru kunci Petilasan Donoloyo, Sunaro, petilasan ini masih sering dikunjungi orang untuk bermunajat kepada Tuhan maupun hanya sakedar menenangkan batin yang sedang dirundung suatu masalah.

“Pohon jati tertua di hutan ini diberi nama Jati Petruk dan Jagal Abilawa yang memiliki diameter cukup besar” katanya, dikutip dari laman Humas Kabupaten Wonogori.

Ilustrasi Keraton Surakarta, Keraton SoloShutterstock/Setyo Adhi Pamungkas Ilustrasi Keraton Surakarta, Keraton Solo

Setelah Majapahit runtuh pohon jati tersebut digunakan di era Wali Songo, tepatnya untuk pembangunan Masjid Demak dan Keraton Surakarta.

Kualitas kayu dari hutan Donoloyo khususnya di kawasan Punden memang tidak perlu diragukan. Kayu jati di hutan tersebut rata-rata memiliki tinggi sepuluh meter dengan diameter satu meter.

Tidak heran jika bangunan tempo dulu dengan bahan kayu jati asal alas Donoloyo tidak lapuk meski sudah berumur puluhan tahun.

Tak ada yang berani mengambil kayu di Hutan Donoloyo

Karena keunikannya, hutan Donoloyo kemudian ditetapkan sebagai Cagar Alam Donoloyo oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah yang mencakup area kurang lebih 9,2 hektar.

Foto Hutan Jati DonoloyoDok. PEMKAB WONOGIRI Foto Hutan Jati Donoloyo

Seiring dengan usia pohon jati yang semakin tua dan rapuh, terdapat beberapa pohon yang tumbang akibat akar pohon sudah lapuk dan akar muda belum kuat menyangga batang utama yang besar.

Pohon yang tumbang ini kemudian dibiarkan dan tidak ada seorang pun berani mengambilnya, bahkan rantingnya sekalipun.

Hal ini karena kepercayaan masyarakat yang menganggap bahwa, ketika kita membawa pohon, ranting, daun dan apapun dari hutan tersebut akan celaka dan secara magis akan dikembalikan ke tempat semula.

Hingga sekarang kepercayaan ini masih begitu kuat dan tidak seorang pun berani melakukan pencurian di hutan jati ini.

 

Editor: Marsha Awang Lisba Siella

Tag:  #legenda #hutan #donoloyo #wonogiri #konon #bayangan #pohonnya #sampai #demak

KOMENTAR