WhatsApp dalam Pusaran Polemik, Digugat, Dikritik Elon Musk, hingga Diblokir Rusia
- Belakangan, WhatsApp menjadi sorotan. Aplikasi pesan instan buatan Meta ini berada di tengah berbagai polemik yang datang bertubi-tubi.
Pertama adalah gugatan hukum yang dilayangkan ke Meta soal keamanan WhatsApp. Kabar gugatan ini kemudian mendapat respons dan kritikan dari Elon Musk, pemilik platform X (Twitter) dan Pavel Durov (CEO Telegram).
Tak lama setelah kritikan Elon Musk dan Durov, giliran pemerintah Rusia yang membatasi layanan WhatsApp di negaranya. Bahkan, Rusia bersiap memblokir aplikasi ini secara total dan mengisolasi ratusan juta pengguna WhatsApp.
Baca juga: Akhirnya, WhatsApp Web Kebagian Dua Fitur Penting Ini
Gugatan soal keamanan dan enkripsi WhatsApp
Meta digugat oleh sekelompok pengguna dari berbagai negara, termasuk Australia, Brazil, India, Mexico, dan Afrika Selatan. Gugatan ini diajukan ke Pengadilan Distrik Amerika Serikat di San Francisco pada Jumat (23/1/2026).
Penggugat menuding klaim sistem keamanan enkripsi WhatsApp tidak sesuai kenyataan. Penggugat menyebut chat WhatsApp bisa diakses oleh tim internal perusahaan. Penggugat juga menuduh Meta menipu miliaran pengguna WhatsApp di seluruh dunia.
Penggugat menyoroti sistem end-to-end encryption yang diklaim membuat chat hanya bisa dilihat pengirim dan penerima. Sistem keamanan ini juga diatur aktif secara bawaan. Namun, dalam gugatan klaim tersebut dianggap palsu.
Penggugat menuduh Meta dan stafnya "menyimpan, menganalisis, hingga mampu mengakses hampir semua chat pengguna di WA yang diklaim privat."
"Seorang karyawan hanya perlu mengirimkan permintaan (melalui sistem internal Meta) kepada engineer Meta dengan memaparkan bahwa mereka perlu akses ke pesan WhatsApp untuk menjalankan tugasnya," begitu isi dokumen gugatan.
"Tim engineering Meta kemudian akan memberikan akses, yang sering kali tanpa pemeriksaan sama sekali, kemudian di komputer staf akan muncul window atau widget baru yang bisa menampilkan pesan WhatsApp milik pengguna mana pun, berdasarkan nomor User ID, yang sifatnya unik untuk setiap pengguna namun sama di seluruh produk Meta," lanjut isi dokumen.
Baca juga: WhatsApp Dituding Bisa Intip Chat Kita, Meta Digugat
Dokumen gugatan menyebut akses ini bisa membuka chat sejak awal penggunaan WhatsApp, termasuk chat yang sudah dihapus.
Dokumen gugatan tidak merinci penjelasan teknis yang memperkuat tudingan penggugat. Dokumen juga memuat tudingan bahwa perusahaan memberi ancaman berat kepada karyawan yang mengungkap aktivitas internal.
Pengacara penggugat meminta pengadilan mengabulkan tuntutan dan ganti rugi. Pengacara tersebut berasal dari firma Quinn Emanuel Urquhart & Sullivan dan Keller Postman.
Meta membantah tudingan tersebut.
"Setiap klaim bahwa pesan WhatsApp tidak dienkripsi, adalah sepenuhnya tidak masuk akal," kata juru bicara WhatsApp, Andy Stone.
"WhatsApp telah menggunakan end-to-end encryption dengan protokol Signal selama satu dekade. Gugatan ini hanyalah fiksi yang tak berdasar," imbuhnya.
Head of WhatsApp Will Cathcart juga memberikan bantahan.
"(Tuduhan) ini teramat sangat salah. WhatsApp tak bisa membaca pesan karena kunci enkripsi disimpan (stored) di ponsel Anda, dan kami tidak punya akses untuk membukanya," bantah Cathcart.
"Ini adalah gugatan yang tidak memiliki dasar kuat dan hanya ingin mendapat sorotan media, diajukan oleh perusahaan yang sama yang pernah membela NSO, setelah spyware mereka digunakan untuk menyerang jurnalis dan pejabat pemerintah," imbuh Cathcart.
NSO yang disebut Cathcart adalah perusahaan siber asal Israel yang membuat spyware Pegasus.
WhatsApp pernah mengeklaim Pegasus mengeksploitasi sistem video call mereka pada 2019. Meta kemudian menggugat NSO Group. Gugatan tersebut dikabulkan pengadilan federal Amerika Serikat pada November 2025.
Baca juga: Elon Musk Sebut WhatsApp Tak Aman, Bos WA Langsung Kasih Ulti
Kritik Elon Musk dan Pavel Durov
Isu gugatan ini ramai dibahas di media sosial. Elon Musk dan Pavel Durov ikut mengomentari keamanan WhatsApp.
Elon Musk mengutip posting berisi ringkasan berita gugatan WhatsApp di X. Posting itu menampilkan tangkapan layar berita Bloomberg berjudul "Lawsuit Claims Meta Can See WhatsApp Chats in Breach of Privacy".
"WhatsApp enggak aman. Bahkan Signal sekalipun dipertanyakan (keamanannya). Pakai X Chat," tulis Musk, mengutip (quote) tangkapan layar berita tadi.
Tangkapan layar posting Elon Musk yang mengatakan bahwa WhatsApp tidak aman. Tudingan ini langsung dibantah Head of WhatsApp, Will Cathcart.
Kritikan tak cuma datang dari Elon Musk. Pavel Durov, pendiri dan pemilik Telegram juga melontarkan kritikan soal keamanan WhatsApp.
"Sangat tidak masuk akal mempercayai bahwa WhatsApp benar-benar aman di tahun 2026. Saat kami menganalisa bagaimana WhatsApp mengimplementasikan "enkripsi" mereka, kami temukan sejumlah celah serangan," kata Durov.
Musk kemudian membalas pernyataan tersebut dengan komentar "Benar".
— Elon Musk (@elonmusk) January 27, 2026
Pemblokiran WhatsApp di Rusia
WhatsApp juga menghadapi pembatasan akses di Rusia. Pemerintah Rusia berupaya memblokir total WhatsApp. Pemerintah juga mendorong warga menggunakan aplikasi dalam negeri bernama Max.
Aplikasi Max dirancang sebagai super-app. Sejak 2025, aplikasi ini wajib terpasang di semua perangkat baru yang dijual di Rusia. Penggunaan Max juga wajib bagi pegawai pemerintah, guru, dan siswa.
WhatsApp mengonfirmasi upaya pemblokiran melalui unggahan di X.
“Hari ini pemerintah Rusia mencoba memblokir WhatsApp sepenuhnya sebagai upaya mendorong warganya beralih ke aplikasi pengawasan buatan dalam negeri,” tulis WhatsApp dalam posting di X (Twitter).
WhatsApp menilai kebijakan ini sebagai langkah mundur. Kebijakan ini berdampak pada lebih dari 100 juta pengguna WhatsApp di Rusia. Perusahaan juga menegaskan akan terus berupaya menjaga pengguna tetap terhubung.
Today the Russian government attempted to fully block WhatsApp in an effort to drive people to a state-owned surveillance app. Trying to isolate over 100 million users from private and secure communication is a backwards step and can only lead to less safety for people in Russia.…
— WhatsApp (@WhatsApp) February 12, 2026
Financial Times melaporkan WhatsApp telah dihapus dari direktori online Roskomnadzor, yakni badan pengawas komunikasi Rusia.
Baca juga: WhatsApp Umumkan Pemblokiran di Rusia, 100 Juta Pengguna Terisolasi
Pemerintah Rusia menyatakan WhatsApp bisa kembali normal jika Meta mematuhi hukum Rusia. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyampaikan pernyataan tersebut.
Ia menyebut peluang pemulihan akses bergantung pada kepatuhan terhadap regulasi lokal.
Pembatasan WhatsApp sudah dimulai sejak akhir 2025. Pemerintah Rusia menilai WhatsApp tidak patuh terhadap regulasi lokal.
Roskomnadzor menuduh WhatsApp digunakan untuk mengorganisasi aksi teror. Roskomnadzor juga menuduh WhatsApp digunakan untuk merekrut pelaku serta melakukan penipuan dan kejahatan lain terhadap warga Rusia.
Pembatasan ini memicu keluhan dari ribuan pengguna. Keluhan muncul karena komunikasi terganggu pada periode Natal dan Tahun Baru.
Pemerintah Rusia juga menuntut WhatsApp dan Telegram menyimpan data pengguna Rusia di dalam negeri. Ketentuan ini memicu ketegangan antara perusahaan teknologi global dan pemerintah Rusia.
Tag: #whatsapp #dalam #pusaran #polemik #digugat #dikritik #elon #musk #hingga #diblokir #rusia