Efek Domino Krisis Memori Berlanjut, Router dan STB Terancam Naik
Ilustrasi router WiFi.(SHUTTERSTOCK/THEERASAN PHUTTIGORN)
15:06
17 Februari 2026

Efek Domino Krisis Memori Berlanjut, Router dan STB Terancam Naik

– Efek domino akibat krisis memori di industri teknologi masih bergulir. Kali ini harga perangkat seperti router broadband dan set-top box (STB) berpotensi naik dalam waktu dekat.

Pemicunya tentu adalah lonjakan harga komponen memori jenis DRAM dan NAND yang meroket lebih dari 600 persen dalam setahun terakhir.

Kenaikan ini terjadi akibat tingginya permintaan memori untuk server kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan margin keuntungan lebih besar, sehingga menjadi prioritas bagi produsen chip.

Menurut laporan dari lembaga riset pasar Counterpoint Research yang dirilis pekan lalu, dampak lonjakan harga memori paling terasa di segmen perangkat konsumen.

Produk seperti PC entry-level, smartphone, router, hingga set-top box menjadi kelompok yang paling terdampak krisis pasokan.

Nah, router disebut menjadi salah satu perangkat yang paling terdampak.

Baca juga: Harga RAM Dunia Naik, Vendor China Malah Jual Separuh Harga

Dalam sembilan bulan terakhir, Counterpoint mencatat, harga memori untuk perangkat broadband naik jauh lebih tinggi dibandingkan dengan smartphone.

Harga memori untuk smartphone "hanya" naik tiga kali lipat, sedangkan memori untuk perangkat broadband naik hampir tujuh kali lipat. Kenaikan ini berdampak signifikan terhadap biaya produksi.

Riset Counterpoint menunjukkan bahwa harga RAM untuk perangkat broadband seperti router dan STB melonjak tujuh kali lipat dalam sembilan bulan terakhir. Ini lebih tinggi dibanding harga RAM untuk smartphone yang naik tiga kali lipat dalam periode yang sama.Counterpoint Riset Counterpoint menunjukkan bahwa harga RAM untuk perangkat broadband seperti router dan STB melonjak tujuh kali lipat dalam sembilan bulan terakhir. Ini lebih tinggi dibanding harga RAM untuk smartphone yang naik tiga kali lipat dalam periode yang sama.

Menurut riset Counterpoint, jika setahun lalu kontribusi memori hanya sekitar 3 persen dari total biaya material (bill of materials/BOM) router, kini porsinya melonjak menjadi lebih dari 20 persen, terutama pada router kelas bawah dan menengah.

Dalam laporan Memory Price Tracker tersebut, Counterpoint mengatakan bahwa kenaikan harga ini diperkirakan akan terus berlanjut setidaknya hingga Juni 2026.

Meski ada peluang harga mencapai puncaknya pada paruh pertama 2026, kendala pasokan diprediksi masih akan membayangi pasar.

Kenaikan tajam ini membuat produsen perangkat (OEM) dengan daya tawar lemah berada dalam posisi paling rentan.

Kondisi ini menjadi alarm bagi perusahaan telekomunikasi yang tengah menargetkan ekspansi layanan broadband secara agresif pada 2026, baik berbasis fiber maupun fixed wireless access (FWA).

Baca juga: Pasar Ponsel Dunia: 2025 Naik, 2026 Terancam Hadapi Krisis

Ketersediaan perangkat pelanggan seperti router, customer premises equipment (CPE), dan set-top box bisa terhambat, sementara biaya pengadaannya ikut meningkat.

Apalagi, operator telekomunikasi juga mulai mendorong penggunaan CPE berbasis AI untuk layanan fixed broadband maupun wireless broadband.

Perangkat semacam ini membutuhkan kapasitas komputasi dan memori yang lebih besar, sehingga tekanan biaya berpotensi makin tinggi.

"Penting bagi perusahaan telekomunikasi untuk memantau dinamika harga ini dengan cermat, mengidentifikasi OEM mana yang telah mengamankan pasokan yang cukup, dan melacak biaya BOM dan tren harga yang diperbarui," tulis Counterpoint, sebagaimana dikutip KompasTekno.

Tag:  #efek #domino #krisis #memori #berlanjut #router #terancam #naik

KOMENTAR