Saat AI Terpintar Tampak Bodoh di Hadapan Matematikawan…
Ilustrasi program AI terpintar yang asal jawab soal matematika buatan profesor matematika. (Ilustrasi dibuat menggunakan AI. KOMPAS.com/Zulfikar Hardiansyah)
12:39
16 Februari 2026

Saat AI Terpintar Tampak Bodoh di Hadapan Matematikawan…

- Kecerdasan program Artificial Intelligence (AI) kerap disandingkan dengan kemampuannya menjawab soal matematika. Namun, beberapa program AI tercerdas saat ini justru tampak bodoh di hadapan matematikawan saat mengerjakan soal matematika.

Belakangan ini, terdapat eksperimen untuk menguji kecerdasan AI dalam menjawab soal matematika buatan profesor matematika Martin Hairer dan tim matematikawan elit dari Harvard, Standford, dan MatchSci.ai.

Baca juga: 28 Tahun Lalu, AI Berhasil Mengalahkan Grandmaster Catur Legendaris

Dari hasil eksperimen bertajuk “First Proof” itu, Hairer yang pernah meraih Fields Medal 2014 (penghargaan paling bergengsi di dunia matematika) bahkan menyamakan jawaban AI dengan "mahasiswa S1 yang kurang pintar".

Jawaban AI bertele-tele dan sering mengarang

Dalam eksperimen ini, mereka menguji model AI tercanggih saat ini, termasuk ChatGPT-5.2 Pro dan Google Gemini 3.0 Deep Think, menggunakan soal-soal riset yang belum pernah dipublikasikan.

Eksperimen ini bertujuan untuk memastikan AI tidak bisa "menyontek" jawaban dari data latihannya di internet. Hasilnya mengecewakan. Hairer menemukan bahwa AI cenderung memberikan jawaban yang bertele-tele.

"Model AI cenderung memberikan banyak detail bertele-tele pada bagian yang mudah. Namun, pada inti argumen yang sulit, detailnya sangat minim," kata Hairer.

Kemudian, ia turut menambahkan, AI seolah tahu titik awal dan tujuan akhirnya, tetapi tidak tahu jalan untuk sampai ke sana.

Alhasil, AI sering kali hanya "mengarang" atau melakukan hand-waving (memberikan argumen yang tidak jelas/kabur) di tengah-tengah pembuktian, berharap pembaca tidak menyadarinya.

Membantah AI bakal menyingkirkan bidang matematika

Eksperimen tim matematikawan elit itu bermula dari e-mail seorang siswa SMA yang dikirim ke Hairer. Siswa tersebut khawatir masa depannya di bidang matematika akan sirna karena kemampuan AI yang makin canggih setiap harinya.

Namun, menurut Hairer, matematika masih "aman" dari ancaman AI. Hairer menenangkan siswa tersebut dengan argumen yang kuat.

Ia mengakui bahwa Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT memang jago menyelesaikan soal-soal latihan standar yang sudah ada jawabannya di internet.

Baca juga: 8 Aplikasi AI yang Bisa Jawab Soal Matematika, Gratis dan Mudah Dipakai

Namun, ia menegaskan belum pernah melihat satu pun contoh di mana AI mampu mencetuskan ide atau konsep matematika yang benar-benar orisinal.

"Saya belum melihat contoh yang masuk akal di mana LLM menghasilkan ide atau konsep baru yang benar-benar orisinal," ujar Hairer.

AI belum bisa menggantikan matematikawan

Dari hasil eksperimen yang dijalankan, tim peneliti menyimpulkan jika AI belum bisa menggantikan matematikawan. Adapun beberapa alasan kenapa AI masih belum bisa menggantikan profesor matematika adalah sebagai berikut:

  • Lemah di visual, AI terkenal buruk dalam penalaran visual (visual reasoning), jadi soal yang butuh imajinasi ruang pasti gagal.
  • Daya ingat pendek, jika jawaban membutuhkan pembuktian panjang lebih dari 5 halaman, kualitas jawaban AI langsung drop dan mulai ngawur.
  • Cuma "Yes Man", Tamara Kolda, salah satu penulis makalah, menyebut AI membosankan karena tidak bisa diajak debat. AI hanya mengikuti sudut pandang penggunanya, padahal kemajuan sains butuh perdebatan ide.

Terjebak "Infinite Loop"

Lauren Williams, profesor matematika dari Harvard yang terlibat dalam riset ini, menemukan fenomena unik lainnya. Saat diuji dengan masalah riset sungguhan, AI sering terjebak dalam lingkaran setan (infinite loop).

AI akan memberikan jawaban, lalu mengoreksi dirinya sendiri ("Tunggu, ada yang salah!"), memberikan jawaban baru, mengoreksinya lagi, dan begitu seterusnya tanpa pernah sampai pada solusi final yang benar.

Baca juga: Google Ungkap Pencapaian Besar AI Gemini di Bidang Matematika

Tamara Kolda, salah satu penulis riset dari MathSci.ai, juga memperingatkan bahaya lain yang lebih fundamental. Menurut dia, AI justru berpotensi memperlambat kemajuan sains di masa depan.

Alasannya, AI hanya akan mengulang sudut pandang yang diperintahkan kepadanya, berbeda dengan rekan kerja manusia yang bisa berdebat dan memberikan perspektif baru yang menantang, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari The New York Times, Selasa (10/2/2026).

Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

Tag:  #saat #terpintar #tampak #bodoh #hadapan #matematikawan

KOMENTAR