Eks Google Ungkap Masa Depan Lulusan Hukum dan Kedokteran di Era AI
Ilustrasi mahasiswa Prodi Kedokteran. Biaya kuliah Kedokteran Unair, Unpad, UB, dan UNS.(Freepik/KamranAydinov)
10:03
14 Februari 2026

Eks Google Ungkap Masa Depan Lulusan Hukum dan Kedokteran di Era AI

- Sebagian besar masyarakat, khususnya generasi muda, mungkin masih meyakini bahwa kuliah di bidang hukum atau kedokteran adalah "tiket emas" untuk mendapatkan karier mapan dengan gaji ratusan juta rupiah di masa depan.

Namun, pandangan tradisional tersebut kini dibantah keras oleh Jad Tarifi, mantan eksekutif Google sekaligus pendiri tim kecerdasan buatan (AI) generatif pertama di raksasa teknologi itu.

Pria yang kini menjabat sebagai CEO startup AI Integral ini secara blak-blakan menyebut bahwa menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah hukum atau kedokteran kini tidak lagi menjamin karir masa depan.

Lantas, mengapa gelar hukum, kedokteran, hingga S3 (Ph.D.) dinilai berisiko usang di era kecerdasan buatan? 

Adapun penyebab utama dari ketidakrelevanan gelar tinggi ini adalah metode pendidikan yang masih sangat bergantung pada hafalan dan pengenalan pola.

Menurut Tarifi, pekerjaan dasar seorang pengacara junior atau dokter muda sering kali berkutat pada tugas rutin. Misalnya, memilah tumpukan dokumen hukum, mencari preseden kasus, atau mendiagnosis gejala klinis dasar berdasarkan buku teks medis.

Kemampuan menghafal dan menarik informasi semacam itu kini sudah bisa diambil alih oleh model bahasa besar (LLM), seperti ChatGPT dengan sangat cepat dan akurat.

Bahkan, model AI generasi terbaru diketahui sudah terbukti mampu lulus ujian sertifikasi pengacara hukum dan ujian lisensi medis di Amerika Serikat dengan nilai yang melampaui rata-rata manusia.

Baca juga: Mahasiswa Ketahuan Nitip Absen, Minta Maaf tapi Suratnya Bikin Pakai AI

Ilsutrasi AI bantu coding.Ist Ilsutrasi AI bantu coding.Durasi studi vs evolusi AI

Selain masalah hafalan, lamanya studi kedokteran, hukum, atau program doktor yang umumnya memakan waktu lima hingga delapan tahun dinilai terlampau lama.

Tarifi menggarisbawahi bahwa kecepatan evolusi AI saat ini berbanding terbalik dengan lambatnya kurikulum akademik.

"AI itu sendiri akan berubah secara fundamental pada saat Anda menyelesaikan studi tersebut," ujarnya, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Fortune.

Artinya, alih-alih lulus sebagai ahli di bidang mutakhir, mahasiswa justru berisiko mendapati bahwa pengetahuan teori yang mereka pelajari selama bertahun-tahun sudah bisa dieksekusi secara otomatis oleh software saat mereka diwisuda.

Baca juga: Anak Magang Dipaksa Serahkan Hadiah Nvidia RTX 5060, Akhirnya Pilih Resign

Bukan lagi jaminan gaji besar

Lebih lanjut, Tarifi menyoroti motivasi generasi muda. Dulu, gelar lanjutan menjamin pekerjaan dengan gaji enam digit (ratusan ribu dollar AS).

Namun, karena nilai dari sekadar "mengetahui informasi" kini mendekati angka nol akibat AI, jaminan finansial tersebut perlahan memudar.

Ia menyarankan agar pengguna atau mahasiswa hanya mengejar gelar kedokteran, hukum, atau S3 jika mereka benar-benar terobsesi dan memiliki passion mendalam terhadap riset murni di bidang tersebut, bukan semata-mata mencari keamanan finansial.

Bila gelar tinggi bukan lagi jaminan mutlak untuk karier yang aman dari otomatisasi, apa yang harus dilakukan generasi muda?

Sebagai informasi, Tarifi menilai sistem pendidikan formal saat ini sudah tertinggal zaman. Ia menyarankan mahasiswa untuk lebih cepat terjun ke dunia nyata guna mengasah keterampilan praktis.

Tak menutup kemungkinan, kesuksesan dokter dan pengacara di masa depan tidak lagi diukur dari seberapa banyak pasal atau penyakit yang mereka hafal, melainkan dari tingkat empati, kecerdasan emosional, kemampuan beradaptasi, dan cara membangun koneksi antarmanusia, sebuah keahlian yang belum bisa direplikasi oleh AI manapun.

Baca juga: Profesor Ini Tantang AI Tercerdas Kerjakan Soal Matematika, Jawabannya “Asbun”

Tag:  #google #ungkap #masa #depan #lulusan #hukum #kedokteran

KOMENTAR