Tren Paperless Meningkat, Epson Optimistis Pasar Printer Tetap Tumbuh
Epson Lifestudio Pop EF-61G dalam acara peresmian Epson Lifestudio di Ciputra Artrpreneur, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa(3/2/2026).(KOMPAS.com/Bill Clinten)
07:00
13 Februari 2026

Tren Paperless Meningkat, Epson Optimistis Pasar Printer Tetap Tumbuh

– Perkembangan layanan digital membuat penggunaan dokumen fisik mulai ditinggalkan.

Istilah paperless pun kerap digaungkan sebagai masa depan dunia kerja dan pendidikan, di mana aktivitas administrasi tidak lagi bergantung pada kertas.

Namun di lapangan, kebutuhan mencetak dokumen menggunakan mesin cetak (printer) ternyata belum sepenuhnya hilang.

Hal ini disampaikan Managing Director Epson Indonesia, Ng Ngee Khiang dalam sebuah sesi di acara Media Gathering Epson Indonesia di The Berkeley Hotel, Bangkok, Thailand pada Kamis (12/2/2026).

Baca juga: Epson Klaim Masih Kuasai Pasar Printer dan Proyektor di Indonesia

Menurut Khiang, digitalisasi sebenarnya memang mengubah perilaku pengguna. Namun, hal ini tidak serta-merta menghapus kebutuhan perangkat cetak, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia.

“Walaupun tren digitalisasi berkembang, kebutuhan printer masih ada karena untuk keperluan aktivitas sekolah, UMKM, dan perkantoran," jelas Khiang.

"Ini merupakan segmen yang 'ramai' dan berkontribusi dalam bisnis Epson, dan di segmen ini, dokumen fisik masih diperlukan,” imbuhnya.

Khiang melanjutkan, perubahan justru kini lebih terasa pada pergeseran segmen pengguna. 

Jika beberapa tahun lalu printer identik dengan kebutuhan rumah tangga, kini permintaan cenderung bergeser ke sektor bisnis dan institusi pendidikan yang membutuhkan volume cetak lebih tinggi dan konsisten.

Tak mau perang harga

Managing Director Epson Indonesia, Ng Ngee Khiang di sela acara Media Gathering yang digelar Epson di The Berkeley Hotel, Pratunam, Bangkok, Thailand pada Kamis (12/2/2026). KOMPAS.com/Bill Clinten Managing Director Epson Indonesia, Ng Ngee Khiang di sela acara Media Gathering yang digelar Epson di The Berkeley Hotel, Pratunam, Bangkok, Thailand pada Kamis (12/2/2026). 

Di saat bersamaan, industri printer juga menghadapi tekanan dari sisi lain, yakni masuknya berbagai produk berharga murah yang membuat persaingan pasar semakin ketat.

Melihat ini, Khiang mengatakan Epson memilih untuk tidak terlibat dalam "perang harga" dan lebih menekankan nilai penggunaan jangka panjang dibanding harga awal perangkat.

“Kami, dan mungkin semua orang, tahu harga perangkat Epson memang mahal dibanding lainnya. Nah, kami di sini tidak ingin bersaing semata-mata di harga. Fokus kami ada pada kualitas produk, daya tahan, dan nilai jangka panjang bagi pengguna,” ujar Khiang.

Baca juga: Kode Error Printer Muncul? Ini Arti dan Cara Mengatasinya

Pendekatan tersebut, kata Khiang, berangkat dari pertimbangan bahwa banyak pengguna kini mulai memperhitungkan total biaya penggunaan perangkat, termasuk konsumsi tinta dan ketahanan mesin, bukan hanya harga beli awal.

Selain segmen printer, dinamika serupa juga terjadi di kategori proyektor yang mulai menghadapi persaingan dari teknologi layar interaktif.

Meski demikian, Epson menilai perangkat visual tersebut saat ini masih tetap relevan karena memiliki ceruk penggunaan tersendiri.

“Untuk kebutuhan ruang kelas atau meeting room, proyektor masih punya keunggulan dari sisi ukuran tampilan dan efisiensi biaya,” ungkap Khiang.

Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah arus digitalisasi dan persaingan perangkat murah, kebutuhan perangkat cetak dan visual di Indonesia ternyata belum hilang, melainkan berubah mengikuti pola pakai penggunanya.

Tag:  #tren #paperless #meningkat #epson #optimistis #pasar #printer #tetap #tumbuh

KOMENTAR