Ini 3 Penyebab Harga Bitcoin Terjun Bebas Minggu Ini
- Harga Bitcoin dan aset kripto lain mengawali Februari dengan tekanan berat.
Khusus Bitcoin, mata uang kripto (cryptocurrency) paling bernilai di dunia ini kini diperdagangkan di bawah 80.000 dollar AS pada sepekan terakhir.
Anjlok hampir 38 persen dari puncak tertingginya di atas 126.000 dollar AS atau kira-kira Rp 2,1 miliar) pada Oktober 2025.
Yang terbaru, harga BTC per kepingnya sempat menyentuh area terendah sejak 2024, yakni di level 72.884 dollar AS atau sekitar Rp 1,22 miliar (kurs Rp 16.765) pada sesi perdagangan Selasa (3/2/2026) waktu AS.
Baca juga: Harga Bitcoin Makin Terperosok, Sentuh Angka Terendah Sejak 2024
Lantas, sebenarnya apa yang menyebabkan harga aset kripto paling bernilai di dunia ini terjun bebas?
Berikut KompasTekno rangkumkan setidaknya tiga faktor utama penyebab harga Bitcoin anjlok pada awal Februari ini.
1. Nama calon ketua The Fed yang baru
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed) untuk menggantikan Jerome Powell.
Tekanan utama datang dari penguatan signifikan dollar AS. Penguatan ini dipicu oleh ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang makin ketat, terutama setelah Kevin Warsh dinominasikan sebagai calon Ketua The Fed (bank sentral AS) berikutnya oleh Presiden AS Donald Trump.
Trump memilih calon pengganti Jerome Powell itu pada Jumat (30/1/2026). Setelah itu, investor bereaksi dengan sentimen negatif.
Menurut pendiri 10x Research, Markus Thielen, arah kebijakan yang dibawa Warsh berpotensi menjadi kabar buruk bagi kripto karena menekankan disiplin moneter, suku bunga riil yang lebih tinggi, serta pengetatan likuiditas.
Warsh juga dikenal sebagai sosok hawkish dalam kebijakan moneter. Ia kerap mengkritik pelonggaran moneter berlebihan dan mendukung kerangka mata uang digital bank sentral, sebagaimana dihimpun dari Forbes.
Dalam dunia bank sentral, hawkish menandakan bahwa bank sentral cenderung menjaga suku bunga tetap tinggi demi menekan inflasi.
Kalau pejabat The Fed hawkish, suku bunga cenderung bakal dijaga tetap tinggi atau naik, sedangkan inflasi ditekan supaya turun. Dengan rumus suku bunga riil = suku bunga acuan dikurangi inflasi, ini berpotensi membuat suku bunga riil jadi lebih tinggi.
Suku bunga riil tinggi itu racun buat aset berisiko, termasuk kripto. Karena salah satu dampaknya adalah membuat dollar AS jadi lebih menarik. Biaya pinjaman menjadi sangat mahal dan imbal hasil menabung menjadi sangat menarik karena daya beli uang meningkat.
Alhasil investor lebih pilih memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, misalnya menyimpan uang di dollar atau obligasi AS.
Kondisi tersebut membuat investor menarik dana dari aset-aset berisiko, termasuk kripto, seperti Bitcoin, Ethereum, dan lainnya. Semakin banyak investor yang jual BTC dalam waktu singkat, harga BTC otomatis terjun bebas.
Baca juga: Siapa Satoshi Nakamoto, Sosok Misterius Pembuat Bitcoin yang Kekayaannya Melejit?
2. Regulasi kripto AS molor, minat investor surut
ilustrasi harga Bitcoin. Harga Bitcoin terus anjlok. Harga Bitcoin anjlok dan menyeret pasar kripto hingga turun di bawah 3 triliun dollar AS. Aset kripto terbesar ini memasuki bulan terburuk sejak kejatuhan industri kripto pada 2022. Sepanjang November, harga Bitcoin turun sekitar seperempat nilai totalnya.
Molornya kepastian regulasi kripto di Amerika Serikat ikut menekan minat investor, terutama dari kalangan institusional (organisasi atau entitas yang mengelola dana publik atau dana perusahaan).
Harapan pasar terhadap aturan yang lebih jelas kembali tertunda. Ini membuat banyak pemain besar memilih bersikap defensif dan menahan diri untuk makin terjun ke aset kripto.
Tekanan ini tercermin dari arus keluar dana yang terus terjadi pada produk investasi kripto, khususnya ETF Bitcoin spot.
Produk investasi berbasis aset digital kembali mencatat arus keluar yang signifikan. Data CoinShares menunjukkan, pada akhir Desember 2025 hampir 990 juta dollar AS keluar dari dana kripto global dalam sepekan. Sebagian besar penarikan terjadi di Amerika Serikat.
Tren tersebut berlanjut pada pertengahan Januari 2026, ketika sekitar 378 juta dollar AS kembali keluar hanya dalam sehari saja.
Pengamat pasar menilai waktu keluarnya dana ini bukan kebetulan. Kongres AS hingga kini belum juga mengesahkan Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act), yang sejak lama dinanti sebagai payung hukum utama industri kripto.
CoinShares menilai arus keluar tersebut mencerminkan frustrasi investor terhadap kebijakan yang tak kunjung jelas, ditambah kekhawatiran akan aksi jual dari pemegang besar aset kripto.
Ketidakpastian ini membuat investor secara umum enggan masuk agresif, bahkan memilih jual.
CLARITY Act sendiri merupakan rancangan undang-undang bipartisan yang bertujuan memperjelas pembagian kewenangan antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dalam mengatur aset digital.
RUU ini telah lolos dari DPR AS pada Juli 2025, tapi sejak itu mandek di Senat.
Akibatnya, ketidakjelasan regulasi yang telah berlangsung bertahun-tahun kembali berlarut. Ini mendorong sebagian perusahaan dan modal kripto mengalir ke wilayah dengan aturan lebih pasti, seperti Uni Eropa, Singapura, dan kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Harga Bitcoin Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, Ini Pemicunya
3. Geopolitik memanas, investor pilih aman
Ilustrasi aset kripto. Aturan pajak kripto baru resmi berlaku mulai 1 Agustus 2025.
Tekanan terhadap harga Bitcoin makin diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ini setelah kepala militer Iran melontarkan peringatan soal kemungkinan serangan terhadap Israel.
Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengisyaratkan opsi aksi militer terhadap Iran, yang membuat pasar global kembali waspada.
Situasi ini diperburuk oleh laporan pergerakan militer Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah. Dalam beberapa hari terakhir, militer AS mulai memindahkan pasukan dan peralatan, menyusul pernyataan Trump yang mempertimbangkan serangan terhadap Iran.
Dalam kondisi geopolitik yang tidak pasti seperti ini, investor global cenderung masuk ke mode defensif.
Ketidakpastian dianggap sebagai musuh utama pasar, sehingga aset-aset berisiko tinggi seperti kripto menjadi yang pertama dilepas.
Dana investor biasanya dialihkan ke instrumen yang dianggap lebih aman dan stabil, seperti uang tunai, obligasi pemerintah, serta logam mulia.
Itu dia tiga faktor utama yang bikin harga Bitcoin anjlok pada beberapa waktu belakangan ini, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Decrypt, Fast Company, dan sumber lainnya, Rabu (4/2/2026).