Banyak Kasus Terlambat Ditangani, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru
Dokter spesialis paru, dr. Jaka Pradipta, Sp.P (K) Onk. (Dok. Ist)
23:20
6 Mei 2026

Banyak Kasus Terlambat Ditangani, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru

Kanker paru masih menjadi salah satu jenis kanker paling mematikan, baik di dunia maupun di Indonesia. Tingginya angka kematian bukan tanpa alasan—banyak pasien baru terdiagnosis saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut, sehingga peluang keberhasilan terapi menjadi semakin kecil.

Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, kanker paru menjadi penyumbang kasus dan kematian tertinggi akibat kanker secara global. Di Indonesia sendiri, kanker paru menyumbang sekitar 9,5% dari total kasus kanker dan 14,1% dari total kematian akibat kanker.

Dokter spesialis paru, dr. Jaka Pradipta, Sp.P (K) Onk, menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan kanker paru saat ini adalah keterlambatan diagnosis.

“Kanker paru masih menjadi salah satu beban kesehatan terbesar di Indonesia, dengan angka kematian tertinggi di antara jenis kanker lainnya. Yang menjadi tantangan utama adalah sebagian besar pasien datang dalam stadium lanjut, sehingga peluang keberhasilan terapi menjadi lebih terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih diperlukan upaya yang lebih kuat dalam meningkatkan kesadaran, deteksi, dan penanganan kanker paru secara lebih komprehensif,” jelasnya.

Padahal, dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, peluang hidup pasien bisa meningkat. Salah satu metode skrining yang kini mulai banyak direkomendasikan adalah low-dose CT scan (LDCT), yang mampu mendeteksi kanker paru lebih awal, bahkan sebelum gejala muncul.

Selain deteksi dini, kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan juga menjadi faktor krusial yang menentukan hasil terapi. Saat ini, pilihan pengobatan kanker paru pun semakin berkembang, mulai dari kemoterapi, terapi target, hingga imunoterapi.

“Dalam penanganan kanker paru, kepatuhan terhadap terapi merupakan salah satu faktor kunci yang sangat menentukan hasil pengobatan. Pasien yang konsisten menjalani anjuran terapi dari dokter memiliki peluang lebih besar untuk mencapai hasil pengobatan yang optimal, memperlambat progresi penyakit, hingga meningkatkan harapan dan kualitas hidup. Sebaliknya, jika pasien tidak patuh terhadap terapi, dapat meningkatkan risiko komplikasi dan mempercepat perburukan kondisi pasien,” tambah dr. Jaka.

Namun, perjalanan pengobatan kanker tidak hanya soal medis. Banyak pasien juga menghadapi tantangan lain, mulai dari efek samping terapi, tekanan psikologis, hingga kendala akses layanan kesehatan.

Karena itu, pendekatan kolaboratif menjadi penting. Salah satunya melalui penguatan peran patient navigator atau pendamping pasien, yang membantu pasien memahami proses pengobatan, mengakses layanan kesehatan, hingga memberikan dukungan emosional selama terapi berlangsung.

Upaya ini turut didorong oleh AstraZeneca Indonesia bersama Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC) melalui kegiatan Training of Trainers (ToT), yang bertujuan meningkatkan kapasitas para pendamping pasien kanker paru.

Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menekankan bahwa penanganan kanker paru membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

“Patient navigator memiliki peran penting, di mana mereka hadir sebagai sumber kekuatan, pendamping dalam memahami perjalanan pengobatan, dan penghubung antara pasien dengan sistem layanan kesehatan. Kami percaya bahwa dengan memperkuat komunitas pasien, kepatuhan terapi dapat meningkat dan pada akhirnya berkontribusi pada hasil pengobatan yang lebih baik,” ujarnya.

Senada, Ketua Umum CISC, Aryanthi Baramuli Putri, menyoroti bahwa pasien kanker paru tidak hanya menghadapi tantangan medis, tetapi juga beban emosional dan sosial.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin memperkuat peran patient navigator kami sebagai pendamping yang mampu membantu pasien memahami perjalanan pengobatan serta memberikan dukungan yang dibutuhkan. Kami percaya bahwa dengan edukasi yang tepat dan dukungan yang berkelanjutan, pasien memiliki peluang lebih besar untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik,” ungkapnya.

Dengan edukasi yang semakin luas dan dukungan yang terintegrasi, diharapkan lebih banyak pasien kanker paru bisa terdeteksi lebih dini, mendapatkan terapi yang tepat, serta menjalani pengobatan dengan lebih optimal.

Editor: Vania Rossa

Tag:  #banyak #kasus #terlambat #ditangani #dokter #ingatkan #pentingnya #deteksi #dini #kanker #paru

KOMENTAR