Kerap Dipakai untuk Buat dan Sebarluaskan Konten Asusila, Apa Itu Grok AI?
- Grok AI kini tengah menjadi perbincangan hangat netizen global, termasuk Indonesia.
Pasalnya, fitur kecerdasan buatan atau AI pada Grok diduga disalahgunakan untuk membuat dan menyebarluaskan konten bernuansa asusila.
Konten tersebut mencakup manipulasi foto pribadi yang bersifat sensitif dan dilakukan tanpa persetujuan pemiliknya.
Bahkan, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) turut menelusuri dugaan pelanggaran privasi ini.
Berdasarkan penelusuran awal, Grok AI belum dilengkapi dengan pengaturan yang jelas dan memadai untuk mencegah produksi maupun distribusi konten asusila berbasis foto nyata warga Indonesia.
Situasi ini dinilai berpotensi melanggar hak privasi serta hak atas citra diri (right to one’s image), khususnya ketika foto seseorang dimanipulasi atau disebarluaskan tanpa izin yang sah.
Bagi yang belum tahu, Berikut ini penjelasan mengenai Grok AI yang sedang jadi perbincangan hangat.
Grok AI merupakan chatbot cerdas yang dikembangkan oleh perusahaan xAI milik Elon Musk. Grok hadir sebagai penantang chatbot AI populer seperti ChatGPT dan Gemini.
Keunikan Grok terletak pada kemampuannya mengakses informasi secara real-time melalui platform media sosial X (sebelumnya Twitter), yang juga dimiliki Elon Musk.
Nama “Grok” sendiri diambil dari istilah dalam novel fiksi ilmiah Stranger in a Strange Land, yang berarti memahami sesuatu secara mendalam.
Sesuai namanya, Grok dirancang untuk tidak sekadar menjawab pertanyaan, tetapi juga menganalisis konteks dan memberikan respons yang relevan dengan situasi terkini.
Salah satu keunggulan utama AI Grok adalah integrasi langsung dengan platform X. Dengan akses ke unggahan dan percakapan publik, Grok mampu merespons isu-isu terbaru, mulai dari tren global, perkembangan teknologi, hingga peristiwa politik internasional.
Hal ini membuat jawaban Grok dinilai lebih aktual dibandingkan AI lain yang umumnya bergantung pada data pelatihan dengan batas waktu tertentu.
Dari sisi gaya komunikasi, Grok dikenal memiliki karakter yang lebih santai dan lugas, bahkan terkadang menyelipkan humor atau sarkasme.
Pendekatan ini menjadi pembeda dibandingkan chatbot AI lain yang cenderung formal dan kaku.
Elon Musk, pemilik X, juga menyebut Grok sebagai AI yang mengedepankan kebebasan berekspresi.
Grok diklaim memiliki batasan sensor yang lebih longgar dalam menjawab pertanyaan sensitif, meski tetap berada dalam kerangka kebijakan keamanan yang ditetapkan pengembang.
Pendekatan tersebut memicu diskusi luas terkait etika, moderasi konten, dan potensi risiko penggunaan AI.
Dengan dukungan sumber daya besar dan figur Elon Musk di belakangnya, AI Grok diproyeksikan menjadi salah satu pemain penting dalam ekosistem kecerdasan buatan global.
Kehadirannya sekaligus menandai babak baru persaingan AI yang semakin ketat dan dinamis.
Tag: #kerap #dipakai #untuk #buat #sebarluaskan #konten #asusila #grok