Kata-Kata Pelatih Parma Carlos Cuesta Usai Bungkam AC Milan di San Siro
- Pelatih Parma yang baru berusia 30 tahun, Carlos Cuesta, menyebut gol kemenangan timnya atas AC Milan adalah sesuatu yang sudah direncanakan.
Parma arahan Carlos Cuesta membuat kejutan pada pekan ke-26 Liga Italia 2025-2026. Tim beralias Il Crociati itu menang 1-0 di markas AC Milan, Stadion San Siro, Minggu (22/2/2026).
Gol semata wayang Mariano Troilo pada menit ke-80 memastikan skor AC Milan vs Parma 1-0.
AC Milan pun akhirnya tumbang setelah sempat tak terkahalahkan dalam 25 laga beruntun di Liga Italia.
Sebelum ini, kali terakhir AC Milan takluk dalam ajang Serie A Liga Italia 2025-2026 adalah pada pekan pertama, yakni ketika mereka dibekuk klub Emil Audero, Cremonese, dengan skor 1-2, juga di San Siro.
“Tidak mudah untuk tetap fokus selama itu melawan tim sekuat ini, di stadion seperti ini,” kata Carlos Cuesta usai laga melawan AC Milan, dilansir dari Football Italia.
“Mereka memang akan selalu mendominasi penguasaan bola, jadi kami harus tetap terorganisasi dan mentalitas yang ditunjukkan skuad ini sungguh luar biasa,” tutur Cuesta menambahkan.
Kemenangan di kandang Milan menjadi sensasi terbaru Carlos Cuesta. Sebelum musim bergulir, eks asisten Mikel Arteta tersebut sudah mengundang perhatian.
Cuesta ditunjuk sebagai pelatih Parma ketika baru berusia 29 tahun. Saat musim 2025-2026 berjalan usianya baru menyentuh kepala tiga, alias 30 tahun.
Bahkan, usia Carlos Cuesta 10 tahun lebih muda dari gelandang andalan AC Milan saat ini, Luka Modric yang mentas selama 90 menit dalam duel melawan Parma di San Siro.
Carlos Cuesta pun merupakan pelatih termuda yang memimpin sebuah tim di pentas Serie A dalam kurun 86 tahun belakangan.
Bersama Cuesta, Parma menunjukkan permainan alot. Milan tahu betul kekuatan Parma mengingat pada pertemuan pertama musim ini di Stadion Ennio Tardini, mereka juga hanya bisa meraih hasil imbang 2-2.
Kejelian Carlos Cuesta meramu strategi kembali terlihat ketika Parma membuat gebrakan besar dengan mengalahkan AC Milan di San Siro.
Gol kemenangan Parma yang dibuat Mariano Troilo bermula dari skema sepak pojok. Troilo menanduk masuk operan Emanuele Valeri.
Proses gol Troilo mengundang kontroversi. Wasit sempat lama mengecek keabsahan gol melalui VAR (Video Asisstant Referee) lantaran ada dugaan Lautaro Valenti menghalangi pandangan kiper Milan, Mike Maignan.
Lalu, hal lain yang ditinjau adalah kontak antara Troilo dengan Davide Bartesaghi saat bola datang.
Sekilas, apa yang dilakukan Parma dalam situasi bola mati mirip dengan taktik Arsenal di situasi tendangan penjuru.
Bukan hal yang aneh, mengingat Carlos Cuesta pernah berkolaborasi bersama Mikel Arteta di Arsenal pada kurun 2020-2025.
Dalam rentang itu, Cuesta bekerja sama dengan seorang pelatih spesialis bola mati, Nicolas Jover.
“Ketika kami berlatih situasi bola mati, kami mencoba menyiapkan pemain-pemain agar siap mencetak gol,” tutur Cuesta mengisyaratkan bahwa posisi Valenti telah diatur sedemikian rupa dalam situasi tendangan penjuru.
Parma pun berhasil meneruskan momentum positif mereka. Crociati kini selalu menang dalam tiga partai beruntun setelah sebelumnya menumbangkan Bologna dan Verona.
Walau begitu, Cuesta ogah jemawa dan meminta timnya untuk senantiasa waspada.
“Pertandingan berubah dengan cepat. Kami adalah tim yang sama. Yang bergantung pada kami adalah kualitas kerja kami, dan kami harus melakukannya lebih sering dan dengan lebih baik,” ucap Carlos Cuesta, pelatih Spanyol kelahiran Palma, 29 Juli 1995 ini.
Tag: #kata #kata #pelatih #parma #carlos #cuesta #usai #bungkam #milan #siro