3 Kerugian Timnas Indonesia Jadikan Jordi Amat Gelandang Bertahan
- Menggeser Jordi Amat ke gelandang bertahan berisiko mengekspos masalah stamina dan mobilitas sang pemain saat menghadapi intensitas tinggi di level internasional.
- Kehadiran Jordi di lini tengah dapat mematikan potensi dan jam terbang gelandang murni Timnas Indonesia yang memiliki visi serangan lebih natural.
- Kesuksesan eksperimen di Liga 1 bersama Persija Jakarta tidak menjamin taktik serupa akan berhasil saat diterapkan John Herdman menghadapi negara-negara kuat Asia.
Terbukanya peluang pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, untuk meniru strategi Persija Jakarta dengan menempatkan Jordi Amat sebagai gelandang bertahan memicu pertanyaan besar. Apakah cocok untuk skuad Garuda?
Meskipun sukses dilakukan di level klub, transformasi posisi Jordi Amat ini menyimpan potensi kerugian yang cukup signifikan bagi keseimbangan Skuad Garuda.
Perubahan peran bek kelahiran Spanyol tersebut perlu dipertimbangkan secara matang mengingat intensitas laga internasional yang jauh berbeda dengan kompetisi domestik.
Berikut adalah tiga kerugian yang mungkin dihadapi Timnas Indonesia jika memaksakan Jordi Amat bermain di lini tengah:
1. Masalah Mobilitas dan Stamina
Kerugian pertama berkaitan erat dengan faktor fisik dan tuntutan mobilitas tinggi yang wajib dimiliki seorang gelandang bertahan modern.
Peran sebagai penyeimbang di lini tengah menuntut daya jelajah yang jauh lebih luas dan intensitas lari yang lebih tinggi dibandingkan posisi bek tengah.
Mengingat usia Jordi Amat yang sudah tidak lagi muda, ia dikhawatirkan akan kesulitan mengimbangi kecepatan transisi permainan lawan di level internasional.
Di Liga 1 tempo permainan mungkin masih bisa dikendalikan, namun menghadapi tim elit Asia dengan pressing ketat, stamina Jordi bisa terkuras lebih cepat.
2. Menumpuknya Gelandang dan Mematikan Potensi Pemain Lain
Kerugian kedua adalah potensi terhambatnya perkembangan gelandang murni yang sebenarnya sudah tersedia di skuad Timnas Indonesia.
Skuad Garuda saat ini memiliki gelandang bertahan natural dengan kualitas distribusi bola mumpuni seperti Ivar Jenner atau Thom Haye.
Memaksakan Jordi Amat di posisi tersebut bisa membuat komposisi lini tengah menjadi tidak efisien dan membatasi opsi serangan yang lebih kreatif.
Karakter Jordi yang lebih defensif mungkin akan membuat lini tengah Indonesia terlalu dalam dan kesulitan dalam membangun serangan balik cepat.
3. Risiko Adaptasi di Level Internasional
Kerugian ketiga adalah besarnya risiko kegagalan adaptasi taktik saat menghadapi lawan dengan kualitas setara atau lebih tinggi.
Kesuksesan eksperimen Mauricio Souza saat Persija melawan Bali United atau Madura United belum tentu bisa direplikasi dengan mulus di panggung FIFA.
Kesalahan posisi atau positioning error sedikit saja di lini tengah saat melawan negara kuat bisa berakibat fatal bagi pertahanan Indonesia.
Jordi Amat memang mengaku nyaman di Persija, namun beban tanggung jawab di Timnas Indonesia tentu jauh lebih berat dan kompleks.
John Herdman harus berhati-hati agar solusi mengatasi penumpukan bek tengah ini tidak justru menjadi bumerang bagi performa tim secara keseluruhan.
Tag: #kerugian #timnas #indonesia #jadikan #jordi #amat #gelandang #bertahan