Pemain Naturalisasi Ramaikan Super League, Bung Kus Nilai Jalan Kembali ke Eropa Masih Ada
– Kehadiran sejumlah pemain naturalisasi Timnas Indonesia di Super League 2025-2026 menghadirkan warna baru dalam persaingan sepak bola nasional.
Sejumlah pemain naturalisasi Timnas Indonesia kini memperkuat klub-klub besar.
Di Persija Jakarta ada Jordi Amat, Shayne Pattynama, dan Mauro Zijlstra.
Persib Bandung diperkuat Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Dion Markx.
Adapun Dewa United mengandalkan Ivar Jenner dan Rafael Struick. Sementara Bali United memiliki Jens Raven.
Gelombang kedatangan pemain naturalisasi ke Super League ini memantik perdebatan di ruang publik.
Baca juga: Kata Asisten Mauricio Souza soal Debut Mauro Zijlstra bareng Persija
Kehadiran mereka membuat kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia semakin kompetitif.
Namun di balik itu muncul pertanyaan: Apakah bermain di Indonesia berarti menyerah pada mimpi Eropa?
Prioritas Nomor Satu Mendapatkan Menit Bermain
Pengamat sepak bola nasional Mohamad Kusnaeni melihat fenomena ini dari perspektif perkembangan pemain. Baginya, dalam sepak bola, prioritas utama adalah bermain.
"Kita lihat pemain yang sebelumnya di Eropa tidak bermain perkembangannya tersendat."
"Itu sudah kita alami beberapa pemain lokal kita ada beberapa seperti Egy Maulana Vikri, Witan Sulaeman termasuk Marselino Ferdinan," ujar pengamat yang biasa disapa Bung Kus kepada Kompas.com.
"Menurut saya opportunity di Eropa tidak optimal, kesempatan terbatas. Memang tidak bisa disalahkan jika pemain ini mencari peluang yang lain supaya mendapat menit bermain dapat untuk mengasah kemampuannya,” imbuhnya.
Baca juga: Gabung Dewa United, Ivar Jenner Sebut Fasilitas Latihan Lebih Baik dari Belanda
Ia menilai banyak pemain muda Indonesia yang mentas di Eropa masih berkutat di tim kedua atau akademi, seperti Jens Raven, Rafael Struick, Ivar Jenner, dan Mauro Zijlstra.
Sebelum pindah ke Indonesia, mereka sama-sama belum mampu menembus tim utama.
"Jadi mereka berharap dengan main di kompetisi Indonesia dengan menit bermain yang didapat bisa membuat mereka berkembang dan suatu saat kembali ke Eropa. Saya sih pikir pemain-pemain ini mempunyai mimpi kembali ke Eropa,” ujarnya lagi.
Liga Domestik Bisa Jadi Batu Loncatan
Menurutnya, kompetisi Indonesia bisa menjadi ruang tumbuh yang realistis. Ia mencontohkan pengalaman Christian Bekamenga yang sempat berkarier di Indonesia sebelum kembali ke Eropa.
Ivar Jenner resmi diperkenalkan sebagai pemain baru Dewa United, Jumat (6/2/2026).
"Masih ingat kan musim 2026-2027 mantan pemain Persib, Christian Bekamenga. Dia datang ke Indonesia saat usia 20 tahunan, bermain di Persib perform, berkembang kariernya dan kembali ke Eropa main di Liga Perancis,” kata Mohamad Kusnaeni.
Karena itu, ia tidak melihat keputusan bermain di Indonesia sebagai langkah mundur.
"Mereka juga memberi benefit kalau main di Indonesia lebih mudah memperkuat Timnas Indonesia tidak perlu adaptasi lagi dan tidak perlu bingung dapat izin klubnya,” sambungnya.
Namun, ia mengingatkan agar para pemain tetap menjaga ambisi, tidak puas dengan menjadi pemain di level kompetisi domestik Indonesia saja.
Baca juga: Mekanisme Seleksi PSSI Awards: Thom Haye Panelis, Voting Online Masih Dibuka
"Mereka harus mempunyai ambisi untuk mengembangkan karier setinggi-tingginya di Eropa kembali menjadi pemain besar bersaing di Eropa seperti Jay Idzes, Emil Audero, Calvin Verdonk, Kevin Diks," ujar salah satu anggota Dewan Pengawas LPP Radio Republik Indonesia periode 2021-2026 tersebut.
"Saya yakin mereka mempunyai mimpi ke arah sana, cuma mereka menyadari jalannya mungkin sekarang harus bermain di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia,” lanjutnya.
Beda Cerita untuk Pemain Senior
Sementara itu Mohamad Kusnaeni, melihat konteks berbeda bagi pemain yang usia kariernya sudah matang. Salah satu contohnya adalah Thom Haye (31 tahun) yang usianya sudah melewati kepala tiga.
"Meskipun bermain di Indonesia bukan sekadar materi karena bermain di Indonesia sudah lumayan kan ya."
"Tapi keinginan dia untuk mencoba hal baru, petualangan baru dan jangan lupa memberi benefit juga untuk Timnas Indonesia," kata pengamat yang juga kerap tampil sebagai komentator tayangan Super league 2025-2026.
"Karena dia mudah untuk mendapatkan izin saat memperkuat timnas tidak hanya dalam agenda FIFA tapi juga luarnya seperti Piala AFF misalnya,” sambungnya.
Pemain Persib Bandung, Thom Haye, saat merayakan gol dengan rekan-rekannya pada laga pekan ke-20 Super League 2025-2026 melawan Malut United di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Sabtu (6/2/2026).
Bung Kus menilai fenomena ini kehadiran pemain naturalisasi Indonesia di Super League tidak selamanya negatif.
Meskipun, di sisi lain ada kerisauan bahwa pemain-pemain tersebut terjebak di zona nyaman sehingga tidak mau berjuang lagi menjajal kompetisi dengan level lebih tinggi di Eropa.
"Tapi harus dipahami dari perspektif yang lain seperti kesempatan perkembangan itu juga penting," ucap Mohamad Kusnaeni.
"Daripada bertahun-tahun di bench juga tidak berkembang. Pemain itu berkembang melalui kompetisi jadi harus main dengan berbagai cara."
"Ya levelnya bermain di Super League 2025-2026 dulu, tapi kalau berkembang bisa ke Eropa lagi,” pungkasnya.
Tag: #pemain #naturalisasi #ramaikan #super #league #bung #nilai #jalan #kembali #eropa #masih