Dua Duka Berurutan, Pesan Aji Santoso Setelah Kepergian Bejo Sugiantoro dan Kuncoro
Pelatih Indonesia yang juga legenda sepak bola Timnas Indonesia, Aji Santoso.(KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU)
14:56
19 Januari 2026

Dua Duka Berurutan, Pesan Aji Santoso Setelah Kepergian Bejo Sugiantoro dan Kuncoro

Dunia sepak bola Indonesia kehilangan dua sosok penting dalam kurun dua tahun terakhir. Bejo Sugiantoro dan Kuncoro, dua legenda yang pernah menjadi asisten pelatih Aji Santoso di klub berbeda meninggal dunia usai kolaps saat bermain sepak bola.

Peristiwa tersebut menyisakan duka mendalam sekaligus refleksi tentang batas fisik di usia lanjut.

Aji Santoso, pelatih dan mantan pemain timnas Indonesia, mengenang kepergian dua orang yang pernah mendampinginya.

Ia menyebut kehilangan ini sebagai pukulan emosional yang berat.

“Ya saya kehilangan mantan asisten saya waktu di Persebaya Bejo Sugiantoro kemudian sekarang Kuncoro saat di Arema FC dulu," kata pelatih yang saat ini menangani PSPS Pekanbaru kepada Kompas.com.

"Artinya kita kan sudah lanjut usia dan tidak muda lagi. Boleh saja main bola asalkan bisa mengukur diri sendiri,” imbuhnya.

Pesan tentang Batas Fisik di Usia Lanjut

Ia menegaskan, bermain sepak bola di usia lanjut tetap diperbolehkan selama dilakukan dengan kesadaran penuh terhadap kondisi tubuh.

Menurutnya, kelelahan dan pemaksaan diri menjadi faktor yang harus dihindari.

“Tidak boleh main bola dalam kondisi capek, yang kedua tidak boleh memaksa karena lupa sudah usia lanjut, bola yang seharusnya tidak usah dikejar tapi dikejar," ujar pelatih berlisensi AFC pro itu.

"Jadi denyut nadinya melebihi dari maksimal. Kalau masih muda kan 220 masih oke, lha kalau seusia saya 180 itu sudah ketinggian untuk usia 50 tahun k eatas,” sambungnya.

Pesan tersebut disampaikannya sebagai peringatan bagi rekan-rekan seusia yang masih aktif bermain, terutama dalam laga-laga persahabatan dan reuni.

“Boleh main bola tapi kalau di lapangan jangan sampai lupa kalau sudah usia lanjut. Apalagi kalau sudah ketemu kumpul-kumpul dan guyon di lapangan. Kan sayang meskipun kalau sudah waktunya meninggal tetapi kalau tidak capek atau dipaksa kan tidak terlalu kelelahan,” tutur Aji Santoso.

Bejo Sugiantoro, Bek Tangguh yang Pergi Lebih Dulu

Bejo Sugiantoro meninggal dunia setelah bermain sepak bola bersama rekan-rekannya di Lapangan Sier Surabaya, pada akhir Februari 2025.

Usai laga pekan ke-25 Liga 1 2024-2025 melawan Persib Bandung, pemain Persebaya Surabaya mengibarkan bendera dengan gambar wajah dari almarhum Bejo Sugiantoro sebagai penghormatan terakhir di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Sabtu (01/03/2025) malam. KOMPAS.com/SUCI RAHAYU Usai laga pekan ke-25 Liga 1 2024-2025 melawan Persib Bandung, pemain Persebaya Surabaya mengibarkan bendera dengan gambar wajah dari almarhum Bejo Sugiantoro sebagai penghormatan terakhir di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, Sabtu (01/03/2025) malam.

Mantan bek tangguh tersebut merupakan legenda Persebaya dan mantan pemain Timnas Indonesia.

Karier profesionalnya dimulai pada 1994 bersama Persebaya yang telah bermain dalam 138 pertandingan selama periode pertamanya hingga 2003, lalu kembali memperkuat klub berjuluk Bajul Ijo hingga 2008.

Selain itu ia juga pernah membela PSPS Pekanbaru, Mitra Kukar, Persidafon Dafonsoro, Deltras Sidoarjo, dan Perseba Bangkalan.

Di level internasional, Bejo mencatatkan 45 penampilan bersama Timnas Indonesia dan mencetak dua gol.

Salah satu momen ikoniknya terjadi di Piala Tiger 2002 saat mencetak dua gol dalam kemenangan 13–1 atas Filipina.

Setelah pensiun, Bejo melanjutkan kiprah sebagai pelatih, mulai dari Persik Kediri, asisten pelatih Persebaya mendampingi Aji Santoso hingga menukangi Serpong City FC. Pada musim 2024–2025, ia dipercaya menjadi pelatih kepala Deltras Sidoarjo.

Kuncoro Berpulang di Stadion Gajayana

Duka kemudian kembali menyelimuti sepak bola nasional ketika asisten pelatih Arema FC Kuncoro meninggal dunia usai mengikuti laga charity dalam rangka peringatan 100 Tahun Stadion Gajayana Kota Malang, Minggu (18/1/2026) sore. 

Kuncoro sempat bermain pada babak pertama bersama sejumlah legenda sepak bola Malang sebelum akhirnya kolaps di bangku cadangan.

Setelah itu laga langsung dihentikan, dan tim medis memberikan pertolongan pertama sebelum membawanya ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang.

Prosesi pemakaman asisten pelatih Arema FC, Kuncoro di Desa Putat Kidul, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Minggu (18/1/2026).IMRON HAKIKI/KOMPAS.com Prosesi pemakaman asisten pelatih Arema FC, Kuncoro di Desa Putat Kidul, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Minggu (18/1/2026).

Selama berkarir di sepak bola Indonesia, ia dikenal sebagai pemain serba bisa di lini belakang dan tengah, dengan posisi bek kanan, stoper, hingga gelandang.

Memperkuat Arema pada musim 1991–1996 dan kembali lagi pada 2021, dirinya sempat merasakan gelar juara Galatama 1993.

Selain Arema, ia juga pernah membela Mitra Surabaya, Persija Jakarta, Gelora Putra Delta, PSIR Rembang, PSM Makassar, dan Persik Kediri.

Ia juga tercatat memperkuat Timnas Indonesia pada ajang Piala Kemerdekaan 1994 dan Piala Tiger 1998, serta meraih gelar Liga Indonesia 1999/2000 bersama PSM Makassar dan gelar juara bersama Persik Kediri pada 2003.

Setelah gantung sepatu, Kuncoro menekuni dunia kepelatihan dan memulai menjadi asisten pelatih Arema pada 1 November 2011 dan mendampingi banyak pelatih kepala dalam berbagai era termasuk menjadi asisten Aji Santoso.

Tag:  #duka #berurutan #pesan #santoso #setelah #kepergian #bejo #sugiantoro #kuncoro

KOMENTAR