Di Balik Pemecatan Enzo Maresca: Sepak Bola Makin Kejam
Reaksi pelatih Chelsea, Enzo Maresca, pada laga Liga Inggris Brighton vs Chelsea pada Sabtu (15/2/2025) dini hari WIB.(AFP/GLYN KIRK)
18:02
2 Januari 2026

Di Balik Pemecatan Enzo Maresca: Sepak Bola Makin Kejam

DESEMBER yang kelabu menjadi akhir dari petualangan Vincenzo atau Enzo Maresca di Chelsea.

Saat kalender di London masih 30 Desember 2025, ia memimpin pasukannya menghadapi Bournemouth di Stamford Bridge.

Beberapa kali kamera menyorotnya. Terlihat wajah yang tegang, tak seperti biasa. Seolah tekanan berat sedang menggelayuti pikirannya.

Ketika lawan melesakkan gol pertama lewat proses yang konyol, yakni lemparan bola ke dalam--yang selama ini jadi bumerang bagi pertahanan The Blues--wajah Maresca kian tegang.

Gol kedua Bournemouth juga berawal dari lemparan ke dalam dari sisi lapangan berbeda. Konyol, seolah tak belajar, Trevoh Chalobah dkk tak sanggup menghalau.

Jika di gol pertama Alejandro Garnacho tak bisa menghentikan gerakan David Brooks, di gol kedua Chalobah justru menyundul bola sehingga memberi "assist" kepada Justin Kluivert untuk menyamakan skor jadi 2-2. Itu adalah dua gol tak perlu yang dinikmati klub racikan Andoni Iraola.

Di pertengahan September lalu, Chelsea juga kebobolan lewat proses lemparan ke dalam ketika melawat ke kandang Brentford.

Alhasil, sama seperti kontra Bournemouth, keunggulan The Blues tak bertahan sehingga harus puas dengan hasil imbang versus Brentford. Pasukan muda ini tidak belajar cara meredam lemparan ke dalam yang dilambungkan ke kotak penalti.

Sebelum itu, Chelsea yang telah unggul 1-0 di babak pertama, digasak Aston Villa, 1-2. Di bawah Unai Emery, Villa tengah gacor karena kemampuannya mengacak-acak Liga Premier Inggris (EPL).

Dua hasil minor itu melengkapi Desember kelabu buat klub dari London itu. Selepas menang 3-0 atas Barcelona di fase awal Liga Champions Eropa (UCL) serta menahan imbang Arsenal di EPL di akhir November, Chelsea terpuruk.

Bak kehilangan pijakan, Chelsea dibekuk Leeds United, Atalanta (UCL) serta Aston Villa. Tiga laga lain berakhir imbang, yakni ketika meladeni Bournemouth (away), Newcastle United serta Bournemouth (home).

Dari tujuh laga terakhir di EPL, The Blues hanya sekali menang versus Everton. Itu berarti membuang 15 poin.

Tak pelak Chelsea tercecer di papan klasemen, turun ke peringkat 5--dilewati oleh Liverpool dan dipepet oleh Manchester United.

Di klasemen UCL pun, terpental ke posisi tak menguntungkan. Mungkin saja harus melakoni babak play-off jika gagal menang di dua laga terakhir yang berlangsung di pekan ketiga dan keempat Januari 2026.

Hasil minor selama Desember 2025 sesungguhnya buah dari "Maresca rule" yang kadang-kadang absurd di mata fans Chelsea sendiri.

Ia suka mengganti line up, terutama di posisi pertahanan. Sudah kehilangan bek tengah andalan, Levi Colwill, sebelum musim 2025/2026, ia sering gonta-ganti bek tengah.

Ia bahkan pernah memaksa Jorrel Hato menjadi bek tengah. Posisi asli dan ideal bekas pemain Ajax Amsterdam ini adalah bek kiri.

Dalam setengah musim ini, Maresca bergantian menurunkan duet bek tengah di antara Trevoh Chalobah, Wesley Fofana, Benoit Badiashile, Tosin Adarabioyo serta Josh Acheampong.

Padahal duet paten di bek tengah itu Chalobah dan Fofana. Atas nama rotasi, menjaga kebugaran serta padatnya jadwal laga (empat kompetisi), Maresca sering mengubah the winning team.

Bukan di belakang saja, komposisi sayap juga kerap diubah. Saat main versus Leeds United, Maresca menurunkan tiga bek tengah, yakni Adarabioyo, Badiashile serta Chalobah.

Chalobah digeser sebagai bek kanan, padahal bukan posisi favoritnya. "Maresca rule" yang kedua menuntut para pemainnya bermain di sejumlah posisi. Bek kanan dan bek kiri diminta memerankan full-back inverted. Bek yang merangkap jadi gelandang.

Saat Chalobah jadi bek kanan, fungsi ini tak dapat dijalankan sebagus Reece James, Malo Gusto dan Marc Cucurella melakukannya.

Gol ketiga Leeds celakanya karena blunder Adarabioyo. Bola sodoran Gusto dalam penguasaan Adarabioyo, tapi karena kurang fokus, bola itu direbut pemain Leeds.

Demikian juga gol kedua Leeds berawal dari kurang cermatnya Enzo Fernandez menguasai bola. Ada begitu banyak kebobolan gol yang didahului kesalahan dalam menguasai bola, blunder dan kecerobohan fatal berujung kartu merah saat main kontra MU, Brighton & Hove Albion hingga Arsenal.

Masih ketika duel versus Leeds, Maresca mengubah komposisi pemain sayap. Di awal laga ia menurunkan Estevao dan Jamie Gittens. Padahal ada Pedro Neto.

Ia juga menurunkan Liam Delap dan Joao Pedro, dua striker yang diplot jadi nomor 9 dan 10. Hasilnya adalah kekalahan paling telak Chelsea di separuh musim, yakni 1-3.

Percobaan atau eksperimen ala Maresca ini begitu banyak mewarnai Chelsea. Bongkar pasang terlihat dari pergantian pemain sebanyak 85 kali dalam 16 laga. Ini data hingga awal November 2025 saja. Hal seperti bahkan tidak terjadi pada Liverpool, Arsenal dan Manchester City.

"Maresca rule" coba ditegakkan karena ia sangat yakin gaya bermain bola yang cair dan dinamis dengan penguasaan bola yang tinggi sukses mempecundangi PSG, Liverpool hingga Barcelona.

Setelah PSG tumbang 0-3 dari Chelsea di final Piala Dunia Antarklub, Luis Enrique ingin sekali bertemu di Liga Champions. Peracik taktik pengoleksi dua trofi kuping besar ini masih penasaran dengan taktik Maresca.

Terlebih Hansi Flick juga ia bungkam saat Barcelona menyerah 0-3 dari Chelsea di Stamford Bridge. Tak ketinggalan juara bertahan EPL, Liverpool ditekuk Chelsea 2-1 lewat gol penentu Estevao Willian.

Kepercayaan diri yang tinggi itu menjadi bumerang. Ia pede dengan skuadnya, tapi pengalaman sangat menentukan di kompetisi seperti EPL dan UCL. Gonta-ganti line up itu jadi biang keladi inkonsisten The Blues.

Di lapangan, Maresca kelewat pede. Di konferensi pers, pria Italia ini tak mampu mengendalikan diri secara tepat ketika bicara kepada media.

Seusai menang 2-0 atas Everton, Maresca mungkin sedang euforia dan dalam kepercayaan diri yang tinggi.

Ia hadir di konferensi pers dan bicara hal yang tak tersaji di lapangan. Saat itu ia keceplosan mengungkap bahwa "sejak saya bergabung dengan klub, 48 jam terakhir adalah 48 jam terburuk karena banyak orang tidak mendukung kami."

Maresca seolah membuka front dengan manajemen klub serta pemilik. Masalah internal diumbar justru ketika ia harus segera diselesaikan.

Sejak itu Maresca dikabarkan sedang dalam tekanan besar. Tiga laga terakhir, yakni kontra Newcastle United, Aston Villa serta Bournemouth, tak berpihak padanya.

Pada hari pertama tahun 2026 atau kira-kira 40 hari sebelum ia ulang tahun ke-46, Chelsea mengakhiri kontrak Maresca.

Klub dan Maresca sepakat berpisah, meski masa kontrak si pelatih masih panjang, yaitu sampai 2029.

Dalam separuh musim ini, Maresca mengoleksi 8 kali menang, 6 kali seri dan 5 kali kalah. Itu setara 30 poin. Masih bersaing di klasemen EPL. 

Namun itu dianggap tak cukup. Ia diminta out dan cuma bertahan selama 1,5 tahun. Sebuah periode yang pendek.

Entah basa-basi atau tidak, dengan ucapan klise, manajemen Chelsea berterima kasih atas dua trofi (Liga Konferensi Eropa 2024/2025 dan Piala Dunia Antarklub 2025) yang dipersembahkan Maresca untuk klub.

Maresca menelan pil pahit seperti menimpa pelatih atau manajer kelas wahid dari Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, Antonio Conte hingga Thomas Tuchel.

Mourinho dua kali kena pecat setelah memberi tiga trofi EPL serta seabrek trofi minor lain. Don Carlo diminta pergi setelah menyabet trofi EPL dan Piala FA. Begitu juga dengan Conte.

Bahkan Tuchel, pelatih pemberi trofi kedua Liga Champions, juga terpental dengan cara yang muram.

Roberto Di Matteo, berstatus caretaker kala memimpin menggondol Piala FA dan trofi UCL musim 2011/2012, mengalami nasib serupa: Dibuang saat tak memenuhi target serta dinilai tidak sesuai ekspektasi klub di musim yang sedang berjalan.

Dibandingkan nama-nama tadi, trofi yang diraih Enzo Maresca bisa disebut minor. Bahkan trofi Piala Dunia Antarklub pun dianggap tak begitu mentereng di tengah pamor kompetisi itu yang dipertanyakan sebagian pihak.

"Saya sudah 30 tahun berkecimpung di dunia sepak bola, jadi saya tahu bahwa ini adalah industri di mana jika Anda tidak menang, semua orang akan mengeluh. Jika Anda menang, semua orang bisa bahagia," ujar Maresca suatu waktu.

“Ketika kita tidak menang, mereka melakukan hal yang sama persis, tapi dengan cara yang berlawanan," lanjut pelatih yang membuang rambut dari kepalanya itu.

Pada sebagian hal, Maresca benar. Saat ini, dalam industri sepak bola yang kejam, hasil atau kemenangan adalah tujuan. Tabungan kesabaran mendekati nol.

Maresca mencoba menawar. Namun, mungkin ia tidak didukung manajemen klub. Colwill yang cedera contohnya, klub tidak mau tahu, ogah mencari penggantinya.

Industri berkuasa lantaran memegang duit. Sedangkan pelatih idealis semacam Maresca memegang teguh sebuah ide--gaya permainan ofensif yang dipegang kuat-kuat.

Dengan formasi 4-2-3-1, filosofi permainan Maresca yang disebut mirip catur, sangat indah dan enak ditonton dalam performa terbaiknya. Pecinta bola menyaksikan itu ketika Chelsea menang 3-0 atas PSG serta Barcelona.

Sebentar lagi warisan Maresca itu mungkin segera sirna dari gaya main Chelsea. Ia bakal digantikan gaya lain dari pelatih atau manajer dengan filosofi berbeda.

Di titik ini fans The Blues mungkin bertanya-tanya, "Sebenarnya Chelsea sedang menjalankan proyek jangka panjang atau sekadar pragmatis?"

Industri sepak bola makin kejam. Ia membuang Enzo Maresca tanpa ampun. Pecinta bola akan merindukan sosok Maresca.

Dan saya termasuk yang belum percaya bahwa kepergiannya dari Chelsea adalah jalan ia memutar untuk tiba di Etihad Stadium: Menggantikan Pep Guardiola menukangi Manchester City di masa yang akan datang.

Tag:  #balik #pemecatan #enzo #maresca #sepak #bola #makin #kejam

KOMENTAR