JK Sebut WFH Tak Efektif Hemat Anggaran, Ini Alasannya
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla di kediamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (5/4/2026). (KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA)
11:10
6 April 2026

JK Sebut WFH Tak Efektif Hemat Anggaran, Ini Alasannya

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) mengatakan, kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) tidak efektif menghemat Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang terdampak dari harga minyak dunia yang melambung akibat konflik Iran dengan Israel-Amerika Serikat (AS).

Dia menjelaskan, WFH bisa saja membuat para Aparatur Sipil Negara (ASN), dan karyawan swasta bosan di rumah yang berujung pada aktivitas di luar rumah.

Hal ini akan kontraproduktif dengan tujuan pemerintah terkait WFH, agar mobilitas masyarakat berkurang dan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) jadi menurun.

Baca juga: Mulai Berlaku! Pola Kerja ASN Dirombak: Wajib WFO 4 Hari, Sisanya WFH

"Anda tinggal di rumah tiga hari. Kalau Anda tinggal di rumah tiga hari kan bosan juga, mau keluar lagi kan? Kalau keluar lagi pakai mobil lagi atau motor, ya sama saja (seperti tidak berhemat) sebenarnya," ucap JK di kediamannya, di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (5/4/2026).

Menurut JK, kebijakan WFH itu juga harus dibarengi dengan pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Ketika subsidi dikurangi dan harga BBM naik, maka orang yang WFH akan berpikir panjang untuk meninggalkan rumah.

"Itu lebih efektif dibanding tadi itu harus semua tinggal di rumah, Tapi dia keluar juga karena tiga hari itu long weekend ya," imbuh JK.

Baca juga: Alasan JK Minta Pemerintah Naikkan Harga BBM di Tengah Konflik Timur Tengah

Menurut JK, kebijakan yang dinilai perlu dipertimbangkan saat ini oleh pemerintah adalah menaikan harga BBM.

Pasalnya, subsidi energi semakin membesar seiring dengan kenaikan harga minyak dunia akibat konflik yang masih terjadi di Timur Tengah.

Dia menuturkan, pengurangan subsidi sudah dilakukan banyak negara untuk mengatasi potensi krisis di dalam negeri.

JK beranggapan, mempertahankan harga BBM seperti sebelum konflik antara Iran dan AS-Israel justru membuat masyarakat tidak berhemat.

Baca juga: JK Usul Pemerintah Kurangi Subsidi BBM demi Tekan Defisit dan Tak Timbulkan Utang

"Dia akan (menciptakan) jalan macet jalan karena murah BBM. Di samping itu subsidi akan meningkat terus. Nah, kalau meningkat terus maka utang naik terus.

JK berpandangan, kenaikan utang justru lebih berbahaya dalam jangka panjang. Pada akhirnya, seluruh masyarakat Indonesia akan merasakan dampaknya.

Tag:  #sebut #efektif #hemat #anggaran #alasannya

KOMENTAR