70 Persen Kasus Kanker Payudara Terlambat Terdeteksi, Biaya Pengobatan Jadi Tantangan
Gejala kanker payudara.(Dok. SHUTTERTSTOCK)
20:28
13 Mei 2026

70 Persen Kasus Kanker Payudara Terlambat Terdeteksi, Biaya Pengobatan Jadi Tantangan

- Tingginya kasus kanker payudara yang terlambat terdeteksi dinilai tidak hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga berdampak pada kondisi ekonomi perempuan dan keluarga.

Prudential Indonesia menyebut, sebanyak 70 persen kasus kanker payudara di Indonesia baru diketahui ketika sudah memasuki stadium lanjut. Kondisi tersebut membuat peluang kesembuhan menjadi lebih rendah dan biaya pengobatan yang harus ditanggung pasien semakin besar.

“Perawatan stadium lanjut pada kanker payudara, dapat menghabiskan biaya hingga ratusan juta rupiah,” kata Prudential Indonesia dalam keterangan tertulis, Rabu (13/5/2026).

Baca juga: Ketika Kalbe Farma Masuk ke Hulu Deteksi Dini Kanker...

Ilustrasi kanker payudara. Kanker payudara menjadi penyebab kematian tertinggi pada wanita di Indonesia. Kenali gejala, lakukan SADARI, dan pentingnya skrining medis untuk deteksi dini.Shutterstock/siam.pukkato Ilustrasi kanker payudara. Kanker payudara menjadi penyebab kematian tertinggi pada wanita di Indonesia. Kenali gejala, lakukan SADARI, dan pentingnya skrining medis untuk deteksi dini.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi perempuan yang juga memegang peran penting dalam menopang ekonomi keluarga.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 14,37 persen perempuan di Indonesia merupakan tulang punggung keluarga.

Sementara itu, Deloitte Women @ Work 2025 Global Outlook mencatat perempuan menghadapi peningkatan stres sebesar 36 persen dan kesulitan beristirahat setelah jam kerja sebesar 29 persen.

Prudential Indonesia menyebut, banyaknya tanggung jawab yang dijalani perempuan sering membuat perhatian terhadap kesehatan diri sendiri terabaikan.

Baca juga: Kalbe Pangkas Jarak Layanan Kanker ke Daerah lewat Produksi Radioisotop-Radiofarmaka di Sidoarjo

“Dengan begitu banyak tanggung jawab yang dipikul, sering kali perhatian perempuan terfokus pada orang lain, sehingga kepentingan diri sendiri, terutama kesehatan, kerap terlewatkan,” tulis Prudential Indonesia.

Ilustrasi asuransi kesehatan. SHUTTERSTOCK/VALERI LUZINA Ilustrasi asuransi kesehatan.

Padahal, keterlambatan penanganan kanker payudara dapat memperbesar risiko finansial yang harus dihadapi keluarga.

Selain biaya pengobatan yang tinggi, pasien juga berpotensi kehilangan produktivitas kerja ketika harus menjalani perawatan intensif dalam jangka panjang.

Prudential Indonesia menilai deteksi dini menjadi langkah penting untuk menekan risiko kesehatan sekaligus beban ekonomi akibat kanker payudara.

Baca juga: Prudential Indonesia Dorong Deteksi Dini Kanker Serviks

“Padahal, apabila kanker payudara ditangani dari stadium awal, tingkat kelangsungan hidup penderita sampai 5 tahun ke depan bisa sampai 99 persen,” tulis perusahaan tersebut.

Menurut Prudential Indonesia, masih banyak perempuan yang enggan memeriksakan diri karena minimnya informasi terkait gejala awal kanker payudara dan kekhawatiran terhadap biaya pemeriksaan medis maupun pengobatan.

Dalam keterangannya, Prudential Indonesia menyatakan pentingnya edukasi dan perlindungan kesehatan sejak dini bagi perempuan.

“Prudential Indonesia percaya bahwa setiap perempuan Indonesia berhak atas perlindungan yang menyeluruh, bukan hanya saat risiko terjadi, tetapi sejak langkah pencegahan dimulai,” ujar perseroan.

Baca juga: Lawan Kanker Serviks, Great Eastern Life Indonesia dan Kimia Farma Diagnostika Luncurkan Program Ini

Perusahaan juga menyatakan komitmennya menghadirkan edukasi berkelanjutan dan solusi perlindungan kesehatan agar perempuan lebih sadar terhadap pentingnya deteksi dini kanker payudara.

Adapun salah satu tantangan dalam penanganan kanker payudara adalah rendahnya kesadaran terhadap gejala awal penyakit. Prudential Indonesia menyebut tanda paling umum berupa benjolan kecil di sekitar payudara yang terasa keras, tidak beraturan, dan sulit digerakkan.

Untuk meningkatkan deteksi dini, Kementerian Kesehatan menganjurkan pemeriksaan rutin melalui metode SADARI atau pemeriksaan payudara sendiri setiap bulan, tujuh hingga 10 hari setelah menstruasi.

Ilustrasi kanker payudara.Shutterstock/Guschenkova Ilustrasi kanker payudara.

Selain itu, perempuan usia di atas 35 tahun atau yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara dianjurkan menjalani SADANIS atau pemeriksaan payudara klinis minimal satu tahun sekali.

Baca juga: Gelontorkan Rp 28,89 Triliun untuk Kanker, Dirut BPJS Kesehatan: Kami Bersyukur Masih Sanggup Biayai Penyakit Katastropik

Sementara mammografi direkomendasikan bagi perempuan di atas usia 40 tahun sebagai skrining rutin menggunakan sinar X.

“Ketiga langkah tersebut dapat dilakukan secara rutin sebagai langkah awal pencegahan kanker payudara, minimal bisa dilakukan 1-2 tahun sekali,” demikian tertulis dalam informasi media tersebut.

Selain pemeriksaan rutin, Prudential Indonesia juga menyoroti pentingnya penerapan pola hidup sehat untuk mengurangi risiko kanker payudara, seperti rutin berolahraga, menjaga berat badan ideal, serta menghindari rokok dan alkohol.

Tag:  #persen #kasus #kanker #payudara #terlambat #terdeteksi #biaya #pengobatan #jadi #tantangan

KOMENTAR