Urbanisasi Bukan Sekadar Merantau: Jaringan Sosial di Balik Arus Pendatang
- Arus pendatang baru ke Jakarta pasca Lebaran kerap dipandang sebagai fenomena tahunan yang berulang.
Namun, di balik pola mobilitas yang tampak serupa dari tahun ke tahun, terdapat perubahan mendasar dalam cara orang memutuskan untuk datang ke ibu kota.
Urbanisasi kini tidak lagi sekadar soal “merantau” secara konvensional, melainkan semakin ditopang oleh jaringan sosial, ekspektasi kolektif, dan strategi bertahan hidup yang lebih adaptif.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menjelaskan bahwa fenomena pendatang pasca Lebaran saat ini merupakan kombinasi antara kelanjutan pola lama sekaligus transformasi baru dalam urbanisasi.
“Secara sosiologis, fenomena pendatang baru setelah Lebaran itu masih bisa dibaca sebagai kelanjutan urbanisasi klasik, tetapi juga sudah mengalami transformasi. Jadi ada dua hal: kontinuitas dan pergeseran,” ujar Rakhmat saat dihubungi Kompas.com, Senin (30/3/2026).
Dalam teori klasik, urbanisasi dijelaskan melalui konsep push and pull factors. Perpindahan penduduk didorong oleh tekanan dari desa, seperti keterbatasan lapangan kerja atau kemiskinan, serta ditarik oleh peluang ekonomi dan fasilitas di kota.
Baca juga: Pemutilasi Karyawan Ayam Goreng di Bekasi Sempat Pamit Mudik Sebelum Beraksi
Namun, menurut Rakhmat, kini ada faktor lain yang semakin dominan, yakni jaringan sosial.
“Pendatang sekarang tidak datang secara acak. Mereka datang karena sudah ada kerabat, teman, atau orang sekampung yang lebih dulu berada di kota. Jaringan ini yang menjadi penguat utama keputusan migrasi,” kata dia.
Pola serupa, menurut Rakhmat, semakin umum terjadi dan membentuk apa yang disebut sebagai network-based migration atau migrasi berbasis jaringan.
“Ini berbeda dengan urbanisasi klasik yang cenderung individual. Sekarang lebih kolektif dan terhubung,” ucap dia.
Selain itu, pola urbanisasi juga tidak lagi bersifat permanen. Rakhmat menyoroti munculnya fenomena circular migration atau migrasi sirkular, di mana individu tidak menetap di kota.
“Sekarang banyak yang datang ke kota hanya beberapa bulan, lalu kembali ke desa, kemudian datang lagi. Bahkan ada yang bergantian antaranggota keluarga. Ini menunjukkan fleksibilitas yang semakin tinggi,” jelas dia.
Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi turut membentuk cara orang memandang kota.
Media sosial, cerita sukses perantau, hingga representasi kota dalam film dan televisi membangun imajinasi kolektif tentang Jakarta sebagai tempat penuh peluang.
Rakhmat menyebutnya sebagai konstruksi sosial atas “janji kehidupan yang lebih baik”.
“Pandangan bahwa Jakarta adalah simbol mobilitas sosial itu tidak muncul begitu saja. Ada proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Cerita sukses disebarkan, dianggap sebagai kebenaran umum, lalu dipercaya sebagai harapan,” katanya.
Namun, realitas di lapangan sering kali tidak seindah ekspektasi. Fenomena ini, menurut Rakhmat, menunjukkan ambivalensi urbanisasi.
“Pendatang itu bisa jadi beban jika tidak dikelola, karena menambah tekanan pada infrastruktur dan layanan kota. Tapi di sisi lain, mereka juga penggerak ekonomi,” kata Rakhmat.
Ia menjelaskan bahwa kota modern membutuhkan diferensiasi kerja, dan pendatang mengisi sektor-sektor yang tidak selalu diminati oleh tenaga kerja lokal.
“Mereka menjadi bagian dari dinamika kota, bahkan menjadi energi utama pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Dengan demikian, urbanisasi tidak lagi bisa dipandang secara sederhana sebagai perpindahan dari desa ke kota. Ia telah berkembang menjadi fenomena kompleks yang melibatkan jaringan sosial, imajinasi kolektif, dan strategi adaptasi yang beragam.
“Urbanisasi sekarang lebih tepat disebut sebagai urbanisasi berbasis jaringan. Lebih fleksibel, adaptif, dan terhubung,” kata Rakhmat.
Cerita pendatang
Fenomena ini tampak jelas dalam pengalaman Rian Maulana (24), pendatang asal Brebes, Jawa Tengah. Ia datang ke Jakarta sehari setelah Lebaran dengan tujuan yang belum sepenuhnya pasti, tetapi berbekal jaringan keluarga.
“Saya dijemput sepupu di terminal. Dia kerja di konveksi sepatu, jadi saya diajak bantu-bantu dulu di situ,” ujar Rian saat dihubungi melalui telepon.
Meski belum mendapatkan pekerjaan tetap, Rian mengandalkan keberadaan sepupunya sebagai pintu masuk untuk beradaptasi.
Lilis Wulandari (23), pendatang asal Pekalongan, merasakan langsung bagaimana jaringan sosial membantunya mendapatkan pekerjaan dengan cepat.
Ia datang ke Jakarta pada H+3 Lebaran setelah diajak temannya yang lebih dulu bekerja di Tanah Abang.
“Saya diajak teman. Katanya di toko tempat dia kerja lagi butuh orang tambahan setelah Lebaran,” ujar dia.
Tak butuh waktu lama, Lilis langsung bekerja sebagai karyawan toko baju dengan sistem upah harian sekitar Rp 80.000-100.000.
Namun, penghasilan tersebut harus dibagi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari makan hingga biaya kos. Ia tinggal di Kebon Kacang bersama dua teman dalam satu kamar demi menekan biaya.
“Kalau cukup ya pas-pasan. Yang penting bisa bertahan dulu,” tutur Lilis.
Cerita serupa datang dari Andika Prasetyo (25), pendatang asal Lampung Tengah. Berbeda dengan Lilis, Andika datang dengan persiapan yang lebih matang.
Ia telah melamar pekerjaan sebelum berangkat dan diterima sebagai karyawan toko retail di sebuah mal di Jakarta Timur.
“Saya memang sudah niat dari sebelum Lebaran buat cari kerja di Jakarta. Jadi sudah apply online dulu,” ujar dia.
Dengan modal sekitar Rp 4 juta, Andika kini menunggu hari pertama kerja sambil beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia menyadari bahwa Jakarta menawarkan peluang, tetapi juga menuntut kesiapan.
Hal yang sama dirasakan Nabila Putri Ramadhani (24), calon teller bank asal Bukittinggi.
Ia datang ke Jakarta setelah melalui serangkaian proses seleksi yang dimulai dari daerah asal.
“Dari awal memang sudah melamar. Jadi ke Jakarta itu untuk tahap akhir saja,” ujar Nabila.
Dengan latar belakang pendidikan S1 dan modal sekitar Rp 7 juta, Nabila merepresentasikan kelompok pendatang dengan perencanaan matang. Namun, ia tetap merasakan tekanan untuk beradaptasi di kota besar.
“Senang, tapi juga deg-degan. Ini pertama kali kerja jauh dari keluarga,” kata dia.
Baca juga: Rumah di Cengkareng Dibobol Maling saat Ditinggal Mudik, Uang hingga Emas Raib
Di sisi lain, tidak semua pendatang memiliki kepastian seperti Andika atau Nabila. Riska Amelia (26), yang sebelumnya merantau ke Yogyakarta, datang ke Jakarta dengan kondisi yang lebih rentan.
Ia memutuskan pindah karena kondisi keluarga, khususnya ayahnya yang sakit. Dengan modal terbatas, Riska memulai kembali dari nol.
Meski demikian, dorongan untuk membantu keluarga membuatnya tetap bertahan.
“Kalau ingat keluarga di rumah, rasanya saya enggak punya pilihan selain jalan terus,” ujar dia.
Di balik cerita para pendatang, terdapat peran penting “penghubung” atau perantara jaringan sosial, seperti yang dilakukan Muslim (31), sepupu Rian.
Ia telah lima tahun bekerja di Jakarta dan kini menjadi pintu masuk bagi anggota keluarganya. Namun, ia juga menyadari bahwa kondisi di Jakarta tidak selalu menjanjikan.
“Jakarta itu masih jadi tujuan, tapi bukan jaminan,” katanya.
Tak dibatasi
Dari sisi pemerintah, arus pendatang ini tidak dilihat sebagai fenomena yang harus dibatasi, melainkan dikelola.
Sekretaris Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta, Muhammad Nurrahman, menyebut bahwa tren pendatang justru menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
“Pada 2024 tercatat 16.207 jiwa, lalu 2025 menjadi 16.049 jiwa, dan hingga 27 Maret 2026 tercatat 633 jiwa,” ujar Nurrahman saat dihubungi.
Ia menambahkan bahwa pemerintah mendorong pendatang memiliki persiapan, baik dari sisi pekerjaan maupun tempat tinggal.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat sistem pendataan melalui dashboard real-time dan integrasi digital, termasuk penggunaan aplikasi Identitas Kependudukan Digital (IKD).
Pendatang diwajibkan melapor dalam waktu 1x24 jam kepada RT/RW setempat, sebagaimana diatur dalam kebijakan administrasi kependudukan.
Data dari laman resmi kependudukan DKI Jakarta per 27 Maret 2026 menunjukkan bahwa mayoritas pendatang berada pada usia produktif, dengan latar belakang pendidikan yang beragam.
Sebagian besar terserap di sektor informal, seperti wiraswasta dan buruh harian lepas, dengan konsentrasi di Jakarta Timur.
Tag: #urbanisasi #bukan #sekadar #merantau #jaringan #sosial #balik #arus #pendatang