Langit Tak Mengenal Gender: Kisah Letda Tek Qorinna, Calon Penerbang Perempuan TNI AU
- Selama ini, kokpit pesawat tempur maupun latih kerap dibayangkan sebagai ruang maskulin, identik dengan ketegasan, keberanian, dan dominasi laki-laki.
Seolah-olah langit memiliki batas tak tertulis tentang siapa yang boleh dan pantas mengendalikannya.
Namun, bayangan itu perlahan berubah.
Baca juga: KSAD Tunggu Perintah Mabes TNI Terkait Kasus Penembakan Smart Air
Di Skadron Pendidikan 101 Wingdik 100/Terbang, Sleman, Yogyakarta, Letda Tek Qorinna berdiri sebagai penanda bahwa langit tak pernah menetapkan syarat jenis kelamin bagi siapa pun yang ingin menaklukkannya.
Motivasi dari ibu
Jejaknya menuju kokpit bukan perjalanan yang tiba-tiba.
Sejak kecil, Qorinna telah akrab dengan dunia militer.
Ia tumbuh di lingkungan TNI Angkatan Udara, menyaksikan langsung ritme kehidupan prajurit dari rumahnya sendiri.
Sang ibu adalah Wanita Angkatan Udara (Wara) yang kini berdinas sebagai Polisi Militer Angkatan Udara. Dari sosok itulah keyakinannya tumbuh.
Ia belajar bahwa menjadi prajurit bukan soal laki-laki atau perempuan, melainkan keberanian untuk mengambil peran dan memikul tanggung jawab.
“Motivasi saya dari ibu. Ibu saya Wara, dan sejak kecil saya hidup di lingkungan TNI AU. Dari situ saya yakin perempuan juga bisa menjadi tentara,” tutur Qorinna, saat ditemui di Wingdik 100/Terbang, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Kamis (12/2/2026).
Keyakinan itu ia bawa hingga menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Udara (AAU), lalu berlanjut ke Wingdik 100/Terbang di bawah naungan Sekolah Penerbang TNI AU, ruang yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki.
Baca juga: Wamenhan Tegaskan HGU di Atas Lahan TNI AU di Lampung Akan Segera Dicabut
Di satu angkatan AAU yang berjumlah 146 siswa, hanya sekitar belasan yang merupakan Taruni.
Ketimpangan itu terasa semakin nyata ketika memasuki pendidikan penerbang.
Di Skadron Pendidikan 101, Qorinna hanya berdua dengan Letda Demi Salma.
Selebihnya laki-laki. Realitas tersebut bukan hal baru.
Rekrutmen Taruni memang lebih sedikit dibanding Taruna, dan dampaknya berlanjut hingga tahap pendidikan lanjutan.
Namun, bagi Qorinna, angka-angka itu bukan batas akhir, melainkan garis awal untuk membuktikan diri.
“Sebagai Wara, hidup di lingkungan yang didominasi laki-laki, kami memang harus banyak beradaptasi,” ujar dia.
Pertanyaan sempat muncul dalam dirinya: mampukah ia mengikuti ritme yang sama?
Mampukah memenuhi standar yang tak dibedakan?
Jawabannya lahir dari proses yang dijalani hari demi hari.
“Begitu dijalani, bisa menyesuaikan dengan laki-laki tanpa adanya diskriminasi atau hal-hal yang bikin orang berpikir itu. Bisa kok dijalani di sini,” ujar dia.
Bertahan di tengah dominasi pria
Di Wingdik 100/Terbang, standar tidak diturunkan karena ia perempuan. Tidak ada perlakuan istimewa.
Justru di situlah makna kesetaraan terasa nyata bahwa perempuan diuji dengan ukuran yang sama, dituntut dengan beban yang sama, dan dipercaya dengan tanggung jawab yang sama.
“Justru kami sebagai perempuan termotivasi. Kami harus bisa seperti laki-laki, bukan malah mengecilkan diri,” ujar dia.
Baca juga: TNI AU Uji Coba Pendaratan Pesawat Tempur F-16 di Tol Terbanggi Besar-Kayu Agung
Hambatan yang semula terasa berat perlahan berubah menjadi bahan bakar semangat.
Kesetaraan, bagi Qorinna, bukan tentang menuntut perlakuan khusus, melainkan kesempatan yang sama untuk membuktikan kemampuan.
Ia pun menengok para senior sebagai bukti bahwa jalan itu nyata.
Ada Letkol Pnb Sekti Ambarwaty yang pernah menjabat Komandan Lanud Jenderal Besar Soedirman, serta Letkol Pnb Fariana Dewi Djakaria, pilot helikopter pertama Wara.
Mereka bukan sekadar nama, melainkan penegasan bahwa perempuan tidak hanya mampu terbang, tetapi juga memimpin.
“Itu menjadi figur percontohan kami bahwa perempuan juga bisa lho menjadi. Bahkan menjadi seorang Danlanud. Tidak kalah dari laki-laki,” tegas dia.
Menggapai tanggung jawab bangsa
Pada akhirnya, kokpit adalah ruang profesionalisme.
Ketika pesawat mengudara dan daratan mengecil di bawah sana, tak ada lagi label gender.
Hanya ada keputusan cepat, ketelitian membaca instrumen, serta tanggung jawab terhadap keselamatan.
Jumlah penerbang perempuan di TNI AU memang masih terbatas.
Namun, setiap Wara yang memilih jalur ini sedang membuka pintu lebih lebar bagi generasi berikutnya.
Mereka bukan hanya belajar menerbangkan pesawat, tetapi juga menggeser paradigma lama. Letda Tek Qorinna adalah bagian dari perubahan itu.
Baca juga: Jet Rafale yang Tiba di Indonesia Sudah Bisa Digunakan TNI AU
Ia tidak berdiri untuk membuktikan bahwa perempuan lebih unggul, melainkan untuk menegaskan bahwa perempuan setara.
Meski demikian, perjalanannya belum selesai. Seragam terbang oranye yang kini ia kenakan menandakan statusnya sebagai siswa.
Jika kelak dinyatakan lulus sebagai penerbang TNI AU, warna itu akan berganti hijau.
Pergantian warna tersebut bukan sekadar simbol.
Ia adalah penanda tanggung jawab baru, yakni membawa pesawat, menjalankan misi, dan mengemban nama bangsa.
Dan selama masih ada perempuan yang berani bermimpi, berani berlatih, serta berani mengambil kendali, langit Indonesia akan selalu menyediakan ruang bagi mereka.
Tag: #langit #mengenal #gender #kisah #letda #qorinna #calon #penerbang #perempuan