Anggota DPR Minta Radar Buatan BRIN Dikerahkan ke Lokasi Longsor Cisarua
Tim SAR gabungan tetap melakukan pencarian meski cuaca ekstrem menyelimuti lokasi longsor Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat.(KOMPAS.com/BAGUS PUJI PANUNTUN)
11:58
29 Januari 2026

Anggota DPR Minta Radar Buatan BRIN Dikerahkan ke Lokasi Longsor Cisarua

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati mendorong agar Ground Penetrating Radar hasil riset dan inovasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) digunakan untuk mitigasi dan evakuasi korban bencana alam di Indonesia.

Esti megngatakan, alat radar itu dapat digunakan untuk mencari korban longsor yang belum ditemukan di kaki Gunung Burangrang, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

"Pemanfaatan Ground Penetrating Radar, bisa mencari jenazah di kedalaman puluhan meter. Saat ini sedang terjadi musibah besar yang langsung di satu lokasi itu begitu banyak korban, yaitu di Cisarua," kata MY Esti Wijayati dalam keterangannya, Kamis (29/1/2026).

Baca juga: Geolog Ungkap Penyebab Longsor Cisarua: Faktor Alam Dinamis, Bukan Sekadar Alih Fungsi Lahan

Esti mengatakan, pemanfaatan GPR dapat mempercepat pencarian korban longsor di Cisarua yang masih tertimbun tanah.

Pasalnya, proses evakuasi sejauh ini terkendala faktor cuaca seperti kabut tebal, medan yang sulit, serta tanah yang masih labil.

"Saya kira alat ini bisa dimanfaatkan untuk membantu evakuasi korban bencana longsor di Cisarua. Kami berharap BRIN mengambil langkah cepat untuk ini," ujar dia.

Politikus PDI Perjuangan ini menekankan situasi di Cisarua sangat membutuhkan gerak cepat dari semua pihak.

Baca juga: Rincian Santunan Korban Longsor Cisarua: Rp 4 Juta Sewa Rumah, Rp 6 Juta Makan

"Saya harap kepada BRIN agar segera digunakan alat itu untuk mencari sanak saudara kita yang berada di lokasi tersebut dan menjadi korban. Situasi bencana ini membutuhkan campur tangan BRIN,” kata Essti.

Ground Penetrating Radar (GPR) yang diintegrasikan dengan drone (UAV) merupakan inovasi yang dikembangkan oleh BRIN untuk deteksi bawah permukaan secara non-destruktif.

Teknologi ini mampu menembus tanah hingga kedalaman 60-100 meter, serta dapat digunakan untuk pencarian korban bencana, pemetaan struktur tanah, dan eksplorasi geofisika.

Salah satu fitur pada alat milik BRIN tersebut yaitu Aero-GPR yang merupakan metode pemetaan struktur dangkal di wilayah sulit dijangkau.

Baca juga: Bantu Evakuasi Korban Longsor Cisarua, TNI AU Andalkan Drone

Fitur ini dapat mendeteksi material bawah permukaan hingga kedalaman 60 meter.

Selain itu, drone pada GPR juga dapat mendeteksi keberadaan benda atau jenazah yang tertimbun hingga kedalaman 100 meter, sehingga sangat berguna untuk operasi SAR dan pascabencana.

Drone itu menggunakan sistem kontrol canggih untuk menghasilkan data subsurface yang geotagged (ditandai secara spasial), memetakan lapisan tanah, dan mendeteksi jalur bawah tanah.

BRIN pun turut mengembangkan radar bernama Ground-Based Synthetic Aperture Radar (GB SAR) dan radar berbasis Software Defined Radio (SDR) untuk pemantauan struktural yang lebih presisi.

Baca juga: Tim SAR Evakuasi 53 Korban Longsor Cisarua: 38 Jenazah Teridentifikasi, 27 Orang Masih Hilang

"Dengan BRIN ikut terlibat aktif, artinya upaya menyelamatkan lingkungan semakin bertambah. Alat dan teknologi milik BRIN dapat mengantisipasi terjadinya bencana, dan lingkungan hidup juga dapat terselamatkan dari musibah-musibah yang akan lebih besar mendatang," kata Esti.

Esti juga meminta ada regulasi atau kebijakan untuk memaksimalkan peran BRIN dalam upaya mitigasi dan proses pasca-bencana.

Menurut dia, rekomendasi dari BRIN dapat menghasilkan berbagai terobosan guna mencegah dampak bencana alam.

“BRIN dapat memetakan, termasuk rekomendasi pohon apa yang tidak boleh ditanam karena ada spesifikasi khusus, termasuk akarnya seperti apa. Pemetaan ini penting. Mungkin sudah ada di dokumennya BRIN, jadi kami minta buka dan jadikan itu rekomendasi," kata Esti menambahkan.

Tag:  #anggota #minta #radar #buatan #brin #dikerahkan #lokasi #longsor #cisarua

KOMENTAR