''Tough Guy'': Membaca Julukan Supermahal Prabowo dan Tantangannya
Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat menghadiri acara Board of Peace Charter pada Kamis (22/1/2026), di Davos, Swiss(Sekretariat Presiden RI)
09:26
27 Januari 2026

''Tough Guy'': Membaca Julukan Supermahal Prabowo dan Tantangannya

PRESIDEN Prabowo Subianto mendapakan julukan baru, “tough guy” (pria tangguh). Bukan sembarang julukan. Harganya supermahal.

Setidaknya ada dua alasan. Pertama, alasan yang bersifat metaforis atau konotatif, dan kedua, yang bersifat referensial atau denotatif.

Alasan pertama, pemberi julukan itu adalah seorang pria yang bisa dikatakan supertangguh dewasa ini. Dia adalah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Bagaimana bukan supertangguh dan kata-katanya supermahal? Sebagai presiden AS, Trump memiliki otoritas menggerakkan militer AS dan kekuatan ekonominya, yang bisa memaksa negara berdaulat lain tergopoh-gopoh dan tunduk.

Sejak memimpin AS yang kedua, langkah Trump mengguncang dunia. Dia menetapkan tarif dagang semaunya sendiri dengan disertai gertakan. Indonesia pun ikut tergopoh-gopoh akibat tarif yang ditetapkan Trump.

Presiden AS itu juga lantang menyebut dirinya “Presiden Perdamaian”. Trump mengaku berperan penting dalam menghentikan sejumlah konflik bersenjata global.

Di antaranya, konflik Rwanda dan Kongo, India dan Pakistan, Iran dan Israel, Rusia dan Ukraina, Thailand dan Kamboja.

Bahkan, Pakistan secara terbuka mencalonkan Trump untuk Nobel Perdamaian 2025. Meski penghargaan bergengsi itu jatuh kepada orang lain, María Corina Machado, tokoh oposisi Venezuela, lalu pada 15 Januari 2026 medali itu dia berikan kepada Trump.

Bukti supertangguh Trump yang paling mengguncang dunia adalah tindakannya menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya melalui aksi militer AS. Dunia mengecam Trump, tapi tak dihiraukan.

Trump menganggap tak butuh hukum internasional. Ia hanya tunduk pada pikirannya sendiri, moralitasnya sendiri.

Tentu saja tidak sembarang orang menarik perhatian Trump. Sudah pasti, di mata Trump, orang tersebut memiliki keunikan. Dan, keunikan itu disimpulkan oleh Trump dengan kata-kata “tough guy” (pria tangguh).

Selanjutnya, alasan yang bersifat referensial atau denotatif. Julukan “tough guy” diterima Presiden Prabowo pada sesi penandatanganan Board of Peace (BoP) oleh sejumlah pemimpin negara di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).

BoP merupakan badan internasional baru yang dibentuk atas inisiatif Donald Trump. Secara teoritis BoP dirancang untuk mengawal proses transisi, stabilisasi, dan rekonstruksi Gaza pascakonflik.

BoP juga digagas untuk memulihkan tata kelola sipil dan menjamin transisi menuju perdamaian berkelanjutan di wilayah tersebut.

Namun, keanggotaaan BoP tidak sama dengan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Keanggotaan BoP terdiri atas negara-negara yang diundang oleh Trump. Indonesia termasuk yang diundang.

Lalu, mengapa julukan “tough guy” harus disebut supermahal?

Ternyata, untuk menjadi anggota BoP tidak gratis. Negara yang mau menjadi anggota tetap badan ini harus membayar sebesar 1 miliar dolar AS, atau Rp 16 triliun lebih. Uang itu konon akan digunakan untuk membangun kembali Gaza.

Tentu Rp 16 triliun bukan angka yang kecil untuk Indonesia. Apalagi di tengah perekonomian yang belum pasti, yang juga tergopoh-gopoh terkena tarif dagang Trump.

Juga di saat kebijakan efisiensi yang masih berlanjut, dan pemulihan sejumlah daerah pascabencana yang tentu menyedot biaya besar.

Karena itu, di balik julukan “tough guy” ada tantangan yang mengikutinya. Tantangan itu akan menguji, apakah julukan “tough guy” untuk Presiden Prabowo itu sungguh nyata dan berbuah positif untuk Indonesia maupun Palestina, atau sekadar basa-basi.

Tantangan internal

Secara internal, dari sudut politik, julukan “tough guy” kepada Prabowo tak salah. Sejarah mengamininya. Jalan politik Prabowo hanya bisa dilalui oleh politikus tangguh.

Dari sudut ini, boleh jadi ketangguhan Prabowo melampaui Trump. Prabowo tak gentar memasuki arena pemilihan presiden sebanyak tiga kali berturut-turut dan sekali wakil presiden.

Prabowo baru menang sekali di pemilihan presiden yang ketiga. Sementara itu, Trump mengikuti tiga kali pemilihan presiden secara berturut-turut, hanya kalah sekali.

Jalan yang dilalui Prabowo relatif panjang, terjal, dan berliku. Hanya orang tangguh yang terbiasa bekerja dengan penuh kegigihan yang sanggup melaluinya.

Ketangguhan Prabowo terbaca juga dari buku tulisannya yang berjudul Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman. Prabowo mengatakan, “Saya percaya tidak ada perubahan besar yang terjadi tanpa didorong oleh perjuangan yang gigih, perjuangan yang besar.”

Di samping itu, dari pidato-pidato Prabowo sejak menjabat presiden, pantas pula dijuluki “pria tangguh”.

Prabowo dengan lantang menyerang koruptor-koruptor, para pembocor anggaran negara, pengusaha serakah yang suka mengemplang pajak dan membawa kekayaan Indonesia ke luar negeri.

Retorika Prabowo tak pernah sepi dari kecaman terhadap tindakan jahat oligarki yang mengakibatkan paradoks Indonesia: negeri kaya raya, tapi sebagian besar rakyatnya miskin. Prabowo menantang para pendukung “serakahnomics” untuk menyuap pemerintahannya.

Pertanyaannya, apakah retorika Presiden Prabowo itu juga tangguh dan bertuah untuk menghentikan segenap tindakan jahat para pendukung “serakahnomics”?

Presiden Prabowo dikabarkan mencabut izin 28 perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran kawasan hutan dan 1000 tambang ilegal.

Ia juga mengklaim dalam setahun pemerintahannya telah berhasil menyita sekitar 4 juta hektare lahan berupa perkebunan dan tambang ilegal.

Apakah langkah tersebut akan berlanjut untuk memastikan Indonesia sedang bergeser menuju ekonomi berkeadilan sosial?

Atau, ketangguhan itu hanya bisa mengantarkan Prabowo meraih jabatan presiden; retorikanya hanya indah didengar? Prabowo masih punya tiga tahun lebih untuk membuktikannya.

Diuji peran Indonesia

Selanjutnya, secara eksternal, julukan yang diucapkan Trump untuk Prabowo akan diuji oleh peran Indonesia di BoP. Apakah kehadiran Indonesia berperan signifikan untuk memastikan BoP menjamin transisi menuju perdamaian berkelanjutan di wilayah Gaza?

Atau, sebaliknya akan turut terseret oleh kepentingan-kepentingan jangka panjang Donald Trump yang belum tentu menguntungkan rakyat Gaza, pun rakyat Indonesia?

Dilaporkan sejumlah media, menyusul BoP diteken pemimpin negara anggota, AS juga mempresentasikan visi ”Gaza Baru”. Presiden Trump membayangkan wilayah itu menjadi kawasan real estate yang mewah.

Dalam bayangan Trump, Jalur Gaza yang hancur lebur akibat serangan Israel dapat berubah menjadi kawasan bisnis berkelas dengan gedung-gedung pencakar langit berdiri di tepi laut.

Trump meyakini, transformasi itu bisa terwujud dalam kurun waktu tiga tahun, kurun waktu yang hampir sama dengan Prabowo membuktikan ketangguhannya di dalam negeri.

BoP menawarkan pendekatan baru resolusi konflik di Gaza, dan boleh jadi akan menjadi model baru resolusi konflik dunia.

Sebagian pemimpin dunia (terutama sekutu dekat AS) curiga dan masih menaruh harapan pada DK PBB, dan sebagian lain melihat sinar harapan BoP di tengah kebuntuan PBB.

Namun, banyak pengamat pesimistis BoP membuahkan resolusi konflik yang langgeng dan menguntungkan penduduk Gaza. Di samping pendekatannya yang transaksional, BoP juga tak melibatkan representasi penduduk Gaza.

Julukan “tough guy” kepada Presiden Prabowo boleh jadi sebagai pujian yang disadari oleh Presiden Trump. Dia tidak hanya membaca kegigihan Prabowo sebagai personal, tapi juga membaca masa lalu Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah punya presiden yang berani menghimpun kekuatan Asia-Afrika untuk membangun poros baru dunia dan dengan lantang mengecam PBB lalu keluar dari badan dunia produk Perang Dunia II itu.

Dan, Trump pun melihat keberanian Prabowo bermanuver dalam hubungan internasional. Bukan mustahil pula Prabowo akan mengulang Soekarno tatkala BoP gagal mewujudkan stabilitas dan perdamaian dunia. Sejarah berulang?

Tag:  #tough #membaca #julukan #supermahal #prabowo #tantangannya

KOMENTAR