Pandji, Mens Rea, dan Tawa yang Dianggap Mengganggu
YANG membuat lawakan politik selalu berbahaya bukan karena apa yang dikatakan, melainkan karena apa yang dirusak.
Kritik dapat dibantah. Kritik dapat ditanggapi dengan klarifikasi, data, atau narasi tandingan. Kritik masih mengakui medan permainan yang sama dengan kekuasaan.
Tawa tidak melakukan itu. Tawa menciptakan jarak. Tawa meretakkan keseriusan yang selama ini menjadi selubung utama politik.
Karena alasan inilah, setiap kali tawa menyentuh kekuasaan, yang terusik bukan sekadar perasaan, melainkan tatanan simbolik yang menopang wibawa.
Kegaduhan seputar pertunjukan Mens Rea oleh Pandji Pragiwaksono membuka kembali persoalan lama yang sering disamarkan sebagai perdebatan selera.
Apakah lawakan tersebut pantas atau tidak? Apakah kritik boleh dibungkus humor? Apakah pelawak melampaui batas?
Pertanyaan-pertanyaan ini tampak wajar, tetapi justru menutup persoalan yang lebih mendasar.
Yang dipertaruhkan bukan niat personal seorang komedian, melainkan cara masyarakat mengelola keseriusan, kepatuhan, dan partisipasi simbolik dalam kehidupan politik sehari-hari.
Reaksi keras terhadap Mens Rea tidak dapat dibaca semata sebagai ekspresi ketersinggungan. Reaksi tersebut mengungkap kecemasan kolektif terhadap bentuk ekspresi yang menolak memainkan peran yang sudah ditentukan.
Politik modern tidak hanya bertumpu pada kebijakan dan kekuasaan formal, tetapi juga pada ritual simbolik yang terus diulang.
Pidato, slogan, gestur, dan keseriusan yang dipertontonkan berfungsi meneguhkan hierarki makna. Dalam ritual semacam ini, semua pihak diharapkan memahami peran masing-masing.
Ada yang berbicara dengan suara otoritatif, ada yang mendengar dengan khidmat, dan ada yang bertepuk tangan pada saat yang tepat.
Lawakan politik mengacaukan pembagian peran tersebut. Ketika tawa muncul pada momen yang seharusnya serius, tatanan simbolik terguncang.
Tawa tidak sekadar menertawakan individu atau kebijakan, tetapi mempertanyakan mengapa sesuatu harus selalu dianggap serius. Di titik ini, persoalannya bukan lagi soal penghinaan, melainkan soal pembangkangan simbolik.
Pemikiran Milan Kundera membantu memahami dimensi kultural dari kegelisahan ini. Dalam The Book of Laughter and Forgetting, tawa tidak diperlakukan sebagai hiburan netral.
Tawa berada dalam hubungan yang tegang dengan lupa. Kekuasaan, dalam pandangan Kundera, tidak selalu bekerja melalui larangan keras.
Kekuasaan bekerja melalui pengaturan ingatan, melalui seleksi cerita, melalui penyingkiran absurditas dari panggung resmi.
Dalam dunia yang diatur oleh narasi tunggal, ironi menjadi ancaman karena ironi memperlihatkan bahwa makna tidak pernah sepenuhnya stabil.
Kundera juga mengingatkan tentang bahaya kitsch. Kitsch bukan sekadar selera estetika yang banal, melainkan sikap ideologis yang menolak ambiguitas.
Kitsch membutuhkan kesepakatan emosional kolektif. Semua orang diharapkan merasa haru pada saat yang sama, marah pada sasaran yang sama, dan tertawa pada momen yang disepakati.
Dalam dunia kitsch, keseriusan politik bukan pilihan, melainkan kewajiban moral. Humor yang keluar dari jalur ini dianggap merusak keharmonisan.
Lawakan Pandji bekerja sebagai gangguan terhadap dunia kitsch tersebut. Bukan karena substansi kritiknya semata, melainkan karena penolakannya untuk tunduk pada emosi yang telah dipaketkan.
Tawa yang muncul tidak meminta izin dari struktur makna yang ada. Tawa tersebut menolak untuk ikut larut dalam keseriusan ritualistik yang menuntut penghormatan tanpa jarak.
Namun, membaca persoalan ini hanya melalui Kundera belum cukup. Kundera membantu memahami mengapa tawa mengganggu secara kultural, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan mengapa begitu banyak orang merasa perlu membela keseriusan tersebut secara aktif.
Untuk memahami partisipasi publik dalam kemarahan terhadap humor, pemikiran Vaclav Havel dalam The Power of the Powerless menjadi penting.
Havel menunjukkan bahwa kekuasaan modern tidak bergantung semata pada represi, tetapi pada kepatuhan simbolik sehari-hari.
Sistem bertahan karena warga biasa ikut menjalankan ritualnya, sering kali tanpa keyakinan, demi rasa aman dan keteraturan.
Contoh terkenal tentang tukang sayur yang memasang slogan ideologis bukan karena percaya, tetapi karena tidak ingin menimbulkan masalah, menggambarkan bagaimana kepatuhan simbolik bekerja sebagai kebiasaan.
Dalam kerangka ini, politik tidak runtuh karena kritik intelektual, melainkan terganggu oleh tindakan yang menolak ikut berpura-pura.
Havel menyebut tindakan semacam ini sebagai hidup dalam kebenaran, bukan karena membawa kebenaran baru, tetapi karena berhenti berpartisipasi dalam kebohongan yang dianggap normal.
Lawakan politik dapat dibaca sebagai tindakan semacam itu. Lawakan tidak menawarkan program politik.
Lawakan tidak mengajukan alternatif kebijakan. Lawakan menolak berpura-pura bahwa semua yang ditampilkan dalam politik pantas diperlakukan dengan keseriusan penuh.
Penolakan ini, betapapun sederhana, mengganggu kenyamanan hidup dalam kepura-puraan bersama.
Di sinilah letak kegelisahan publik terhadap Mens Rea. Banyak pihak merasa terusik bukan karena dihina, tetapi karena diajak keluar dari posisi aman sebagai partisipan ritual.
Menertawakan politik berarti menempatkan diri di luar kesepakatan simbolik. Tawa semacam itu mengandung risiko. Risiko dianggap tidak sopan, tidak loyal, atau tidak bertanggung jawab. Risiko ini membuat sebagian orang memilih marah daripada ikut tertawa.
Kemurkaan terhadap lawakan sering kali dibungkus dengan bahasa moral. Lawakan dianggap tidak mendidik, tidak sensitif, atau berpotensi memecah belah.
Bahasa moral ini menutupi fakta bahwa yang sebenarnya dipertahankan adalah stabilitas simbolik. Keseriusan politik diposisikan sebagai nilai moral, padahal keseriusan tersebut merupakan konstruksi yang terus diproduksi dan direproduksi.
Dalam konteks ini, menarik mencermati bagaimana publik tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi ikut berperan sebagai penjaga keseriusan.
Laporan, kecaman, dan tuntutan pembatasan menunjukkan bahwa kepatuhan simbolik tidak lagi dipaksakan dari atas, tetapi dijaga dari bawah.
Publik ikut memastikan bahwa batas-batas humor tidak dilanggar. Partisipasi semacam ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan bekerja secara horizontal, melalui internalisasi norma keseriusan.
Namun, refleksi tidak boleh berhenti pada kritik terhadap kekuasaan dan publik. Posisi pelawak dan penonton juga perlu diperiksa secara kritis.
Lawakan politik tidak otomatis membebaskan. Tawa dapat berubah menjadi identitas moral baru. Tertawa pada lawakan politik bisa menjadi cara merasa lebih sadar, lebih kritis, dan lebih unggul secara etis.
Dalam situasi ini, tawa tidak lagi membuka jarak reflektif, tetapi justru menutupnya dengan kepuasan diri.
Pelawak juga berisiko terjebak dalam peran simbolik baru. Ketika humor politik selalu diposisikan sebagai keberanian, ada godaan untuk merawat citra sebagai pihak yang paling jujur dan paling berani.
Dalam kondisi ini, lawakan dapat kehilangan daya ganggunya dan berubah menjadi formula. Tawa yang awalnya liar berpotensi menjadi ritual baru yang sama kaku dengan keseriusan yang dikritik.
Penonton pun tidak kebal dari ilusi. Menertawakan kekuasaan tidak otomatis berarti menolak kepatuhan simbolik dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak penonton tetap menjalani rutinitas kepura-puraan dengan patuh, sembari menikmati tawa sebagai katarsis sesaat.
Dalam kerangka Havel, tawa semacam ini belum tentu mengganggu sistem, karena tidak disertai penolakan terhadap peran simbolik yang lebih luas.
Namun risiko-risiko ini tidak menghapus arti penting kegaduhan Mens Rea. Justru di dalam ketegangan tersebut, persoalan kebudayaan kita menjadi terlihat.
Masyarakat yang gelisah terhadap humor politik adalah masyarakat yang masih menggantungkan stabilitas pada keseriusan simbolik. Masyarakat semacam ini cenderung menganggap tawa sebagai ancaman, bukan sebagai ruang refleksi.
Kundera mengingatkan bahwa lupa sering datang dengan wajah yang menenangkan. Ajakan untuk tidak memperpanjang polemik, untuk menjaga suasana, untuk kembali pada ketertiban, terdengar bijak.
Namun, di balik ajakan tersebut, terdapat bahaya penghapusan konflik dari ingatan kolektif. Konflik yang tidak diingat tidak pernah dipelajari. Ketegangan yang tidak direnungkan akan terus berulang dalam bentuk berbeda.
Lawakan Pandji, disukai atau tidak, telah memaksa masyarakat berhadapan dengan ketegangan itu.
Bukan ketegangan antara pelawak dan politisi, melainkan antara tawa dan kepatuhan, antara ironi dan keseriusan, antara partisipasi simbolik dan kemungkinan untuk berhenti berpura-pura.
Pertanyaan yang muncul bukan apakah lawakan tersebut pantas, tetapi mengapa keseriusan begitu rapuh ketika disentuh humor.
Esai ini tidak bertujuan membela seorang komedian atau menyudutkan para pengkritiknya. Tujuan tulisan ini adalah membaca peristiwa sebagai gejala kebudayaan.
Dalam kegaduhan Mens Rea, terlihat betapa kuatnya dorongan untuk menjaga dunia tetap rapi, emosinya seragam, dan maknanya terkendali. Dalam dunia semacam itu, tawa yang menolak tunduk memang terasa berbahaya.
Namun, seperti ditunjukkan Kundera dan Havel, justru pada titik inilah kebebasan menemukan bentuknya yang paling sunyi.
Bukan dalam pidato heroik atau manifesto moral, tetapi dalam tindakan kecil yang menolak ikut memainkan peran.
Tawa, ketika tidak dijinakkan, mengingatkan bahwa tidak semua hal harus ditanggapi dengan keseriusan yang sama.
Dan masyarakat yang masih bersedia menghadapi ketidaknyamanan semacam ini, betapapun gelisahnya, belum sepenuhnya kehilangan kemampuan untuk berpikir di luar ritual. “To laugh is to live profoundly,” tulis Kundera.