Begini Cara Wilsen Willim Olah Sisa Tenun Jadi Produk Bernilai
Desainer Wilsen Willim.(KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai)
17:05
4 April 2026

Begini Cara Wilsen Willim Olah Sisa Tenun Jadi Produk Bernilai

– Mengolah tenun menjadi produk yang relevan dengan pasar saat ini bukanlah hal yang mudah. Selain mempertahankan nilai budaya, desainer juga perlu mempertimbangkan aspek harga agar produk tetap terjangkau tanpa mengorbankan kualitas.

Di sisi lain, penggunaan material tenun yang terbatas, termasuk sisa bahan, justru menjadi tantangan tersendiri dalam proses desain. Jika tidak diolah dengan tepat, produk yang dihasilkan berisiko kehilangan nilai estetika.

Dalam kolaborasi Weaving The Sky yang diinisiasi oleh Cita Tenun Indonesia (CTI) dan One Fine Sky (OFS), desainer Wilsen Willim turut terlibat dalam mengolah tenun menjadi produk yang lebih relevan.

Baca juga: Lebih dari Sekadar Kain, Tenun Menyimpan Nilai Budaya dan Ekonomi

Ia menjelaskan, dalam proyek tersebut, timnya harus memanfaatkan sisa bahan tenun dengan cara yang efisien tanpa mengurangi kesan premium pada produk.

“Karena kita jualnya di harga tertentu, gimana caranya kita menggunakan bahan sisa ini tetap kelihatan mahal, tapi harganya enggak terlalu tinggi,” ujar Wilsen saat ditemui dalam acara tersebut di Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026).

Proses Desain Dilakukan Secara Efisien

Menurut Wilsen, proses kreatif yang dilakukan tidak sederhana. Tim desain harus melalui tahapan mulai dari mencari referensi visual hingga menyusun komposisi yang paling efisien.

Ia mengatakan, timnya bahkan harus menyusun berbagai opsi desain sebelum akhirnya menentukan hasil akhir.

“Kita bongkar otak banget, cari gambar sampai efisien, lalu kita compile dan sortir lagi. Dari sekitar 10 opsi, baru kita pilih,” jelasnya.

Baca juga: Arumi Bachsin Pakai Busana Tenun yang Didesain Sendiri

Meski melalui proses yang cukup kompleks, pengerjaan desain justru dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat.

Dengan melibatkan lima desainer, proses perancangan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga hari sebelum masuk tahap kurasi dan eksekusi.

“Karena timnya sudah cukup banyak, jadi prosesnya bisa lebih cepat dibandingkan saat dikerjakan sendiri,” cerita Wilsen.

Kain tenun di acara Weaving The Sky.KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai Kain tenun di acara Weaving The Sky.

Menjaga Keseimbangan Antara Tradisi dan Relevansi

Selain efisiensi, Wilsen juga menekankan pentingnya menentukan tujuan atau intensi dalam setiap desain yang dibuat.

Menurutnya, pendekatan yang digunakan dapat berbeda tergantung pada konsep yang ingin dihadirkan, termasuk saat menggunakan bahan sisa tenun.

“Intensi itu penting, end goal kita apa. Kalau di sini memang ingin terlihat seperti bahan perca, jadi kita olah sesuai konsep itu,” jelasnya.

Baca juga: Kain Tenun Garut Mempercantik Erin Lim di Grammy Awards 2026

Ia menambahkan, pada karya lainnya, pendekatan yang digunakan bisa berbeda, misalnya dengan menampilkan motif tenun secara utuh untuk menghargai nilai wastra.

Selain itu, pendekatan seperti ini juga membuka peluang bagi tenun untuk lebih mudah diterima oleh pasar yang lebih luas. 

Dengan desain yang lebih fleksibel dan adaptif, produk berbasis tenun tidak lagi terbatas pada segmen tertentu, tetapi dapat menjangkau konsumen dengan preferensi yang beragam.

Dampak Pembinaan terhadap Perajin

Di sisi lain, tenun yang digunakan dalam koleksi ini berasal dari Kalimantan, tepatnya dari Putussibau. 

Wilsen mengaku telah mengunjungi langsung lokasi tersebut bersama CTI dalam program pembinaan.

Menurutnya, kondisi para perajin sebelumnya cukup terbatas, tetapi kini mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Baca juga: Dari Tenun hingga Perhiasan, Begini 5 Cara Mudah Merawat Warisan Budaya Nusantara

“Dulu mereka hidup tanpa listrik, tapi sekarang sudah ada lampu, kulkas, dan anak-anaknya mulai sekolah,” terangnya.

Ia menilai, perubahan tersebut tidak terlepas dari peran berbagai pihak yang terlibat dalam pembinaan, termasuk CTI dan mitra lainnya.

Dalam hal ini, ia melihat peran desainer tidak hanya sebatas menciptakan produk, tetapi juga membantu memperluas eksposur tenun ke pasar yang lebih luas.

“Tugas kami bagaimana mempopularkan tenun ini, terutama di kota seperti Jakarta,” tegas Wilsen.

Baca juga: Menteri Widiyanti Sebut Wastra Nusantara Jadi Daya Tarik Turis Asing

Tag:  #begini #cara #wilsen #willim #olah #sisa #tenun #jadi #produk #bernilai

KOMENTAR