Tren Beauty TikTok 2026: Dari Produk Viral ke Brand yang Bertahan
Tren beauty TikTok 2026. (Dok. Tisha Beauty)
21:23
28 Februari 2026

Tren Beauty TikTok 2026: Dari Produk Viral ke Brand yang Bertahan

Baca 10 detik
  • Pada tahun 2026, TikTok berperan sebagai mesin tren kecantikan utama, namun konsumen kini selektif terhadap ulasan jujur.
  • Tisha Beauty memenangkan TikTok Award 2026 berkat produk Bloom Balm Magic Colour yang mengandalkan strategi konten terencana.
  • Keberhasilan jangka panjang produk sangat bergantung pada konsistensi kualitas dan tingginya tingkat pembelian berulang oleh pelanggan.

Tahun 2026 menegaskan satu hal: TikTok bukan lagi sekadar platform hiburan, tapi mesin utama tren kecantikan. Dari lip product dengan efek unik hingga skincare dengan klaim instan glow-up, algoritma kini menjadi “etalase” paling menentukan dalam perjalanan sebuah brand beauty.

Namun ada pola menarik yang terlihat tahun ini. Konsumen—khususnya Gen Z dan pelajar—tidak lagi hanya mengejar produk viral. Mereka mulai lebih selektif. Review jujur, before-after tanpa filter, hingga testimoni repeat order menjadi faktor yang jauh lebih menentukan dibanding sekadar jumlah views.

Di tengah lanskap ini, banyak produk sempat meledak dalam semalam, lalu perlahan menghilang. Fenomena “viral sesaat” menjadi tantangan baru bagi brand. Karena di 2026, viral saja tidak cukup—yang dibutuhkan adalah relevansi dan konsistensi.

Salah satu contoh brand yang berhasil membaca tren ini adalah Tisha Beauty. Nama mereka semakin dikenal setelah meraih TikTok Award 2026 kategori Juara UMKM Lokal pada 27 Januari lalu. Namun penghargaan itu bukan muncul tiba-tiba.

Motor pertumbuhan mereka adalah Bloom Balm Magic Colour, produk lip balm dengan efek perubahan warna yang baru diluncurkan di TikTok Shop. Produk ini cepat menyebar di FYP berkat kombinasi visual yang menarik dan strategi konten yang terencana.

Alih-alih hanya mengandalkan gimmick, Tisha Beauty membangun awareness lewat review jujur dan pengalaman nyata pengguna. Director Tisha Beauty, Ardy Setiady, mengungkapkan bahwa lonjakan penjualan memang signifikan, tetapi yang lebih penting adalah tingginya repeat order.

“Rata-rata pelanggan membeli lebih dari dua kali. Artinya mereka puas, bukan sekadar ikut tren,” ujarnya.

Di era beauty TikTok 2026, repeat order menjadi indikator kuat bahwa sebuah produk berhasil melewati fase sensasi dan masuk ke fase kepercayaan. Konsumen kini cepat membandingkan, cepat membaca review, dan tidak segan berpindah jika kualitas tidak konsisten.

Keunggulan lain Tisha Beauty terletak pada fondasi produksinya. Dengan pabrik dan tim R&D internal, brand ini mampu menjaga kualitas sekaligus memenuhi lonjakan permintaan tanpa bergantung penuh pada sistem pre-order panjang saat viral. Strategi ini penting, karena salah satu “jebakan viral” adalah stok habis dan waktu tunggu yang membuat momentum hilang.

Dari sisi harga, Bloom Balm Magic Colour dibanderol mulai Rp20 ribuan—range yang sesuai dengan karakter pasar TikTok yang didominasi pelajar dan kalangan muda. Meski terjangkau, produk-produk mereka konsisten meraih rating tinggi dan minim komplain.

Fenomena ini memperlihatkan pergeseran tren beauty 2026: dari sekadar viral product menjadi trusted brand. Konsumen tak lagi hanya membeli karena FYP, tetapi karena pengalaman yang terbukti.

Tisha Beauty menjadi salah satu gambaran bagaimana UMKM lokal bisa adaptif terhadap perubahan perilaku digital. Di tengah derasnya tren yang silih berganti, mereka membuktikan bahwa pertumbuhan cepat memang bisa dimulai dari viral—tetapi bertahan membutuhkan strategi, kualitas, dan kepercayaan.

Editor: Vania Rossa

Tag:  #tren #beauty #tiktok #2026 #dari #produk #viral #brand #yang #bertahan

KOMENTAR