Mengapa Banyak Pelaku Judol Pria Berkeluarga
- Status pernikahan dan tanggung jawab keluarga, tidak otomatis menjadi rem perilaku berisiko. Sebanyak 1.700 perkara perceraian yang ditangani oleh Pengadilan Agama (PA) Balikpapan, sebagian besar disebabkan oleh judol.
Hal tersebut berkebalikan dengan anggapan ketika seseorang sudah berkeluarga, mereka bakal memikirkan dengan lebih matang setiap keputusan, karena sudah mengemban tanggung jawab yang besar.
Psikolog klinis di RS Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., menjelaskan bahwa status berkeluarga tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan psikologis.
“Orang berkeluarga itu tidak selalu memiliki kontrol diri. Salah satu ciri orang yang matang adalah mereka bisa mengontrol dan memiliki regulasi diri yang baik,” ujar dia saat dihubungi beberapa waktu lalu.
Dengan kata lain, jika sebelum menikah seseorang memiliki kontrol impuls yang lemah, maka pola itu bisa tetap terbawa, bahkan semakin terekspos, ketika tekanan hidup meningkat.
Baca juga: Waspadai 2 Red Flag Keuangan Sebelum Menikah, Perilaku Konsumtif dan Judol
Judol bukan sekadar uang
Banyak orang mengira, motivasi utama judol adalah kebutuhan finansial. Namun menurut Joko, persoalannya jauh lebih kompleks.
“Judi online itu bukan hanya tentang uang, tapi tentang kebahagiaan, dopamin, kemudian harapan yang relatif instan dan ilusi kontrol. Jadi ini memang bisa bikin ketagihan,” ungkap dosen di Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi Surakarta ini.
Judol bekerja pada “sistem penghargaan” di otak. Ketika seseorang menang, sekecil apapun itu, terjadi lonjakan dopamin yang menciptakan sensasi senang dan euforia.
Sensasi ini membangun pemikiran bahwa kalah memicu keinginan untuk menutup kerugian, dan menang memicu keinginan untuk mengulang kesenangan.
Perihal ilusi kontrol, pemain merasa memiliki strategi atau kemampuan khusus yang membuatnya menang. Padahal, sistem judi berbasis peluang acak.
Baca juga: 6 Tanda Seseorang Mulai Kecanduan Pinjol Menurut Psikolog, Mengabaikan Risiko
Keluarga: Sumber tanggung jawab dan tekanan
Idealnya, keluarga memang memperkuat rasa tanggung jawab. Namun, dinamika di dalamnya tidak selalu sederhana.
Joko mengatakan, bagi sebagian orang, keluarga justru dipersepsikan sebagai sumber stres tambahan, terutama terkait ekonomi.
“Kadang keluarga itu membuat stres terkait dengan ekonomi karena memang dari yang kita biasa sendiri, kemudian berdua. Apalagi punya anak, kita harus mencukupi ekonomi,” ucap dia.
Transisi dari hidup sendiri ke berpasangan, lalu memiliki anak, meningkatkan beban finansial dan ekspektasi sosial. Jika tidak diiringi kesiapan psikologis dan finansial, tekanan ini bisa membuat seseorang kewalahan.
Baca juga: Semakin Banyak Perempuan Mandiri Finansial, Keputusan Menikah Tak Lagi Terburu-buru
Ilustrasi judi slot
Rasa gagal sebagai pencari nafkah
Tekanan ekonomi kerap berkaitan dengan harga diri, terutama pada laki-laki yang memaknai peran sebagai pencari nafkah utama dengan sangat kuat.
“Kadang ada orang yang memang dia merasa bahwa dia gagal sebagai pencari nafkah. Mungkin karena tuntutan dari keluarga tinggi, sehingga dia tidak bisa mencukupi, atau memang gaya hidupnya memengaruhi seperti itu,” terang Joko.
Rasa gagal ini bukan hanya soal angka penghasilan, tetapi tentang identitas diri. Ketika seseorang merasa tidak memenuhi standar, baik standar keluarga maupun standar pribadinya, muncul perasaan tidak berdaya, malu, bahkan putus asa.
Dalam kondisi emosional seperti itu, judol menawarkan “harapan cepat” untuk membalik keadaan, meski risikonya jauh lebih besar.
Baca juga: Belanja Lebih Sadar, Ini 5 Cara Memberi Jeda Sebelum Membeli Barang di Tengah Ekonomi Sulit
Terbiasa lari dari masalah
Faktor internal juga sangat menentukan. Menurut Joko, individu yang terbiasa menghindari masalah, atau terbiasa apa-apa serba ada, lebih rentan mencari jalan pintas.
Ketika tekanan datang, bukan solusi adaptif yang dipilih, melainkan mekanisme pelarian.
“Kalau terkait dengan hal-hal itu, maka ini semakin memperkuat asumsi atau persepsi yang subyektif banget, bahwa keluarga bisa menjadi tekanan tambahan,” tutur dia.
“Nah, judol ini menjadi jalan pintas, terutama kalau dia tidak terbiasa mendapatkan tekanan-tekanan dan sudah benar-benar merasa bahwa tidak ada jalan keluar,” lanjut Joko.
Padahal, kebuntuan sering kali terkait strategi yang kurang tepat atau minimnya dukungan sosial, seperti tidak ada orang lain yang bisa memberi pekerjaan atau tidak punya teman.
“Maka, kita memang harus punya banyak relasi sehingga semakin memperbesar harapan rezeki kita,” ujar Joko.
Kendati demikian, relasi bukan sekadar membuka peluang ekonomi, tetapi juga menyediakan dukungan emosional, validasi, dan alternatif solusi. Individu dengan dukungan sosial yang baik cenderung lebih resilien menghadapi tekanan hidup.
Baca juga: 6 Tips Menyiapkan Dana Pendidikan Anak meski Ekonomi Sedang Lesu