Wajib Tahu, Ini Fondasi Perkembangan Emosi Anak
Ilustrasi keluarga dengan 2 anak. Aturan 2 anak di Vietnam dihapuskan.(pressfoto)
08:30
20 Januari 2026

Wajib Tahu, Ini Fondasi Perkembangan Emosi Anak

- Pemenuhan kebutuhan anak dalam keluarga sering kali masih dipahami sebatas aspek fisik. Orangtua merasa telah menjalankan perannya ketika anak tercukupi makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal. Padahal, kebutuhan anak jauh lebih kompleks daripada itu.

Rasa aman, kasih sayang, dan penghargaan juga termasuk sebagai fondasi penting agar anak mampu berkembang secara utuh. Namun, kebutuhan emosional ini kerap terlupakan ketika keluarga terlalu berfokus pada pemenuhan fisik semata.

Wenny Aidina, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa perhatian berlebihan pada kebutuhan fisiologis justru berisiko membuat kebutuhan emosional anak terabaikan.

“Nyatanya yang dibutuhkan anak dari keluarga itu adalah juga rasa aman dan sayang, bukan menghabiskan banyak energi hanya di fisiologisnya,” ujar dia dalam kelas daring KALM Counseling bertajuk "Dysfunctional Family: Ketika Keluarga Bukan Tempat Aman dan Nyaman", Minggu (18/1/2026).

Ketika fondasi emosional ini tidak terpenuhi, anak akan kesulitan mengenali diri, mengekspresikan pendapat, hingga merasa aman berada di dalam keluarganya sendiri.

Fondasi kuat untuk aktualisasi diri anak

Menurut Wenny, anak baru dapat mencapai tahap aktualisasi diri ketika fondasi kebutuhan dasarnya terpenuhi secara menyeluruh. Fondasi tersebut mencakup asah, asih, dan asuh.

Asuh merupakan tahap paling mendasar, yaitu pemenuhan kebutuhan fisiologis anak. Di dalamnya termasuk makanan, minuman, tempat tinggal, waktu tidur, dan berbagai kebutuhan dasar lainnya.

Namun, dalam hierarki kebutuhan Maslow, teori psikologi yang diperkenalkan oleh Abraham Maslow, kebutuhan manusia tidak berhenti pada aspek fisiologis. Di atasnya, terdapat kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, penghargaan, hingga aktualisasi diri.

Asih berkaitan dengan rasa aman dan sosial. Rasa aman mencakup keamanan, keteraturan, dan stabilitas, sedangkan kebutuhan sosial meliputi afeksi, relasi, serta keberadaan keluarga.

“Asih adalah bagaimana orangtua kita mengasihi, memberikan keamanan, memberikan aturan, memberikan kestabilan dalam hubungan,” kata Wenny.

Sementara itu, asah merujuk pada penghargaan. Di dalamnya termasuk pencapaian, status, tanggung jawab, reputasi, serta pengakuan terhadap kemampuan anak.

Fondasi ini bekerja secara berlapis. Pemenuhan kebutuhan fisiologis perlu diikuti rasa aman dan kasih sayang. Ketika lapisan awal tidak terpenuhi, anak akan kesulitan melangkah ke tahap berikutnya.

Ketika anak tidak merasa aman dan disayang

Dalam praktiknya, tidak sedikit anak yang tumbuh dengan kebutuhan fisiologis terpenuhi, tetapi tidak merasa aman dan disayang oleh keluarganya sendiri. Kondisi ini membuat anak kesulitan merasa dihargai di dalam rumah.

Anak juga menjadi tidak nyaman mengekspresikan perasaan atau menunjukkan kemampuan yang dimilikinya karena takut disalahkan, diabaikan, atau dianggap tidak cukup baik.

Wenny menekankan pentingnya kasih sayang tanpa syarat dalam keluarga. Ia menilai bahwa banyak anak justru merasa disayang ketika berhasil mencapai sesuatu, bukan karena keberadaannya sebagai individu.

“Pernah enggak, kita disayang tanpa harus bersyarat? Tanpa harus berhasil (mencapai) apa, baru mama bangga atau ayah bangga?” ucap dia.

Kasih sayang yang bersyarat membuat anak mengaitkan harga diri dengan pencapaian. Anak merasa aman dan dihargai hanya ketika berhasil, sementara kegagalan dipersepsikan sebagai ancaman terhadap penerimaan orangtua.

“Kita butuh disayang tanpa syarat sehingga kita mampu merasa aman berada di keluarga kita, mampu merasa dihargai berada di antara keluarga kita,” jelasnya.

Membentuk cara anak memahami kesalahan

Anak juga perlu diasah kemampuan emosionalnya. Wenny mengajak orangtua untuk merefleksikan pola pengasuhan yang selama ini dijalani.

Ia menilai, banyak orangtua tanpa sadar terlalu fokus pada capaian kognitif anak, sementara kebutuhan emosional justru terabaikan.

Dalam mengasah kemampuan emosional anak, salah satu hal penting adalah bagaimana orangtua merespons emosi anak, termasuk saat anak menangis.

Wenny mencontohkan situasi sederhana yang sering terjadi dalam keseharian. Ketika anak menangis karena terjatuh, respons orang dewasa kerap kali bukan membantu anak memahami emosinya, melainkan mencari pihak yang disalahkan.

“Kalau anak nangis, apa yang dilakukan orangtua atau nenek-neneknya dulu? ‘Jahat banget kursinya, pukul kursinya’,” kata Wenny.

Namun, dari situasi itu, anak justru belajar bahwa ketika terjadi kesalahan, yang perlu dilakukan adalah menyalahkan pihak lain.

Perilaku ini dapat membentuk cara berpikir anak sejak dini. Anak berpotensi tumbuh menjadi pribadi yang terbiasa mencari kambing hitam atas setiap kesalahan, alih-alih merefleksikan apa yang sebenarnya terjadi.

“Dari kecil kita diajarkan untuk menyalahkan yang di luar tanpa merefleksikan kenapa hal tersebut salah. Kita terdoktrin bahwa kalau salah, menyalahkan sesuatu yang ada di luar,” terang Wenny.

Dengan pendekatan pengasuhan yang lebih reflektif dan penuh empati, anak dapat belajar memahami emosi, bertanggung jawab atas perilakunya, serta menghadapi masalah dengan lebih sehat.

Tag:  #wajib #tahu #fondasi #perkembangan #emosi #anak

KOMENTAR