Ditolak Naik Roller Coaster Jadi Motivasi Wanita Ini Turun BB 109 Kg
Kegagalan menaiki wahana permainan bersama anak-anaknya menjadi momen yang mengubah hidup Samantha Hager.
Perempuan berusia 29 tahun asal Boise, Idaho, itu memutuskan mengubah gaya hidup setelah berat badannya hampir mencapai 172 kilogram dan membuatnya kehilangan banyak pengalaman sederhana bersama keluarga.
Kisah Hager adalah contoh bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Momen yang menjadi titik balik
Keputusan Hager bermula saat ia tidak bisa menaiki roller coaster bersama dua anak sambungnya di sebuah taman hiburan.
Pengalaman itu membuatnya teringat pada ayahnya, yang juga memiliki berat badan berlebih dan tidak pernah bisa menaiki wahana bersamanya saat ia kecil.
“Saat itu saya sadar, saya tidak ingin menjadi orang tua seperti itu,” ujar Hager kepada Today.
Saat itu, berat badan Hager hampir 172 kilogram. Ia berada dalam kondisi pra-diabetes, mudah lelah, depresi, dan sering kehabisan napas hanya untuk aktivitas ringan.
Makan karena emosi
Kenaikan berat badan Hager tidak terjadi secara tiba-tiba.
Ia sempat aktif berolahraga saat remaja, tetapi rutinitas itu hilang setelah pindah sekolah dan menghadapi masa sulit, termasuk kehilangan sahabat dan putus hubungan.
“Saya berhenti menganggap makanan sebagai kebutuhan tubuh, dan mulai menjadikannya pelarian saat sedih,” katanya.
Pola makannya dipenuhi makanan manis, camilan, dan makanan cepat saji, dengan perkiraan konsumsi sekitar 4.000 kalori per hari.
Memulai dari hal yang tidak disukai
Pengalaman gagal naik wahana bersama keluarga mendorong seorang perempuan mengubah gaya hidup hingga berhasil menurunkan 109 kilogram.
Alih-alih memilih olahraga favorit, Hager justru memilih lari, aktivitas yang paling ia tidak sukai.
Ia memulainya dengan sangat sederhana, berlari selama 30 detik lalu berjalan selama satu menit, diulang hingga satu kilometer.
“Awalnya saya hanya berlari mengelilingi blok dan merasa sangat kelelahan,” kenangnya.
Namun, kebiasaan itu ia lakukan setiap hari. Perlahan, stamina meningkat dan jarak tempuh bertambah. Hager kemudian mendaftar lomba lari 5 kilometer dan terus menantang dirinya sendiri.
Hingga kini, ia telah mengikuti lebih dari 200 lomba lari dan bersiap menghadapi lomba ultramaraton sejauh 160 kilometer.
Mengubah pola makan secara bertahap
Selain rutin berlari, Hager juga mengubah pola makannya secara perlahan. Ia mulai mempelajari makanan sehat dan menyesuaikannya dengan kebutuhan tubuh sebagai pelari.
Setiap kali tergoda makanan tidak sehat, ia bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah seorang pelari akan makan ini?”
Ia mengganti permen dengan buah, memperbanyak sayuran dan karbohidrat kompleks, serta mengurangi makanan olahan.
Menu hariannya kini sederhana, seperti yogurt dengan buah untuk sarapan, hidangan nabati untuk makan siang, dan masakan rumahan untuk makan malam.
Kunci utamanya: Konsistensi
Hager menyebut kunci keberhasilannya bukan diet ketat, melainkan konsistensi. Menurutnya, satu kali makan tidak sehat bukan alasan untuk menyerah sepenuhnya.
“Kalau satu kali melenceng, itu bukan akhir segalanya,” ujarnya.
Ia memilih fokus menjalani gaya hidup sehat hampir setiap hari, tanpa menghukum diri sendiri.
Hasil yang mengubah hidup
Dalam waktu sekitar tiga tahun, Hager berhasil menurunkan hampir 109 kilogram, tanpa obat penurun berat badan maupun operasi.
Berat badannya kini berada di kisaran 64 kilogram, yang tergolong sehat untuk tinggi badannya.
“Saya merasa luar biasa, lebih bahagia dan lebih berenergi,” kata Hager.
Baginya, perubahan ini bukan hanya tentang angka di timbangan, tetapi tentang mendapatkan kembali kesehatan fisik dan mental yang sempat hilang.
Tag: #ditolak #naik #roller #coaster #jadi #motivasi #wanita #turun