Merasa Sangat Sedih Saat Baca Broken Strings? Psikolog Sebut Tanda Empati Tinggi
Sebagian orang kerap menyalahkan diri sendiri ketika merasa terlalu sedih, cemas, atau tidak nyaman setelah membaca buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans.
Respons emosional tersebut sering dianggap sebagai tanda mental yang lemah atau tidak mampu mengendalikan perasaan.
Psikolog menegaskan, anggapan itu keliru, karena reaksi kuat justru bisa menandakan empati yang tinggi.
Kondisi ini berkaitan dengan cara seseorang merasakan dan memproses emosi orang lain.
Ketika kisah orang lain terasa terlalu familiar
Perbincangan tentang empati dan respons emosional menguat setelah banyak orang membaca Broken Strings, buku karya Aurelie Moeremans yang mengisahkan pengalaman relasi toksik dan trauma sejak usia remaja.
Cerita personal tersebut membuat sebagian pembaca merasa kisah yang dibaca terasa sangat dekat dengan pengalaman hidup mereka sendiri.
Alih-alih sekadar tersentuh, sebagian pembaca justru mengalami reaksi emosional yang intens, seperti sedih mendalam atau kegelisahan yang muncul tiba-tiba.
Empati tinggi bukan masalah, tapi perlu disadari
Ilustrasi depresi. Empati tinggi membuat sebagian pembaca Broken Strings Aurelie Moeremans merasakan emosi yang lebih intens.
Psikolog Rumah Sakit Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., mengatakan orang dengan empati tinggi memang lebih rentan terpicu oleh kisah penderitaan orang lain.
Namun, hal tersebut bukan sesuatu yang negatif.
“Empati itu kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain, jadi wajar kalau reaksinya lebih kuat,” ujar Yustinus dalam wawancara dengan Kompas.com, Rabu (13/1/2026).
Ia menjelaskan, empati memungkinkan seseorang membangun hubungan emosional yang dalam, tetapi tanpa pengelolaan yang tepat, tubuh dan pikiran bisa kewalahan.
Emosi orang lain bisa menular
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai emotional contagion, yaitu emosi orang lain yang secara tidak sadar menular ke dalam diri seseorang.
Yustinus menjelaskan bahwa orang berempati tinggi lebih mudah menyerap emosi tersebut.
“Bukan karena lemah, tetapi karena sistem empatinya bekerja sangat aktif,” katanya.
Akibatnya, tubuh bisa bereaksi spontan seperti merasa sesak, gelisah, atau sedih tanpa sebab yang jelas.
Yustinus menambahkan, empati tinggi akan semakin memperkuat respons emosional jika seseorang memiliki pengalaman trauma dengan irisan serupa.
Dalam kondisi ini, kisah yang dibaca dapat mengaktifkan ingatan emosional lama yang belum sepenuhnya pulih.
“Luka lama yang belum selesai membuat respons empati menjadi lebih intens,” ujar Yustinus.
Hal ini menjelaskan mengapa sebagian orang merasa sangat terpicu meski hanya membaca cerita orang lain.
Bukan lemah, tapi perlu menjaga batas
Menurut Yustinus, penting bagi orang berempati tinggi untuk mengenali batas diri.
Merasa terpicu bukan berarti gagal mengendalikan emosi, tetapi sinyal bahwa kapasitas mental sedang penuh.
“Justru orang yang berempati tinggi perlu lebih sadar kapan harus berhenti,” katanya.
Memberi jeda, menjaga jarak emosional, atau mengalihkan perhatian menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.
Yustinus menegaskan bahwa empati adalah kekuatan, bukan kelemahan.
Namun, empati tetap perlu diimbangi dengan kesadaran diri agar tidak berubah menjadi tekanan emosional berkepanjangan.
“Merawat diri sendiri sama pentingnya dengan peduli pada orang lain,” ujar Yustinus.
Ia menekankan bahwa menjaga batas emosional merupakan bagian dari empati yang sehat.
Tag: #merasa #sangat #sedih #saat #baca #broken #strings #psikolog #sebut #tanda #empati #tinggi