Jangan Asal Check Out, Mindful Consumption Jadi Kunci Kelola Uang dengan Lebih Sadar
Ilustrasi belanja online.(Dok. Freepik/Freepik)
19:35
13 Januari 2026

Jangan Asal Check Out, Mindful Consumption Jadi Kunci Kelola Uang dengan Lebih Sadar

- Keputusan untuk membeli barang atau jasa sering kali terjadi begitu saja, tanpa pertimbangan yang matang.

Padahal, kebiasaan yang sering dianggap wajar dan sepele ini bisa berdampak panjang pada kondisi keuangan seseorang. Penumpukan barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan pun bisa terjadi.

Di sinilah konsep mindful consumption menjadi relevan, terutama di tengah meningkatnya biaya hidup sehari-hari. Konsep ini juga berkaitan erat dengan “memberi jeda” pada otak.

“Yang membuat kita enggak mindful dalam konsumsi itu adalah karena enggak ada jeda tersebut,” kata pemilik SARE Studio sekaligus kreator konten conscious fashion, Cempaka Asriani, saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Adapun, mindful consumption adalah ketika seseorang sadar dalam mengonsumsi apapun, baik itu barang, jasa, maupun yang dilihat di berita dan media sosial.

Konsep ini menekankan pentingnya kesadaran dalam setiap keputusan konsumsi. Belanja memang tidak dilarang, tetapi perlu dilakukan berdasarkan alasan yang jelas dan relevan dengan kebutuhan.

Jeda untuk mematangkan pertimbangan belanja

Memberi jeda pada otak dapat dikatakan sebagai “kunci”, agar keputusan yang diambil saat belanja barang atau jasa, benar-benar berdasarkan kebutuhan.

Menurut Cempaka, ketika seseorang langsung membeli tanpa jeda, ia cenderung tidak sepenuhnya sadar atas apa yang dibeli dan mengapa ia membelinya. Jeda berfungsi sebagai ruang berpikir, agar keputusan tidak semata-mata dorongan sesaat.

“Ketika kita melihat iklan atau barang, saat barang itu muncul di media sosial dipakai oleh selebgram, atau digunakan oleh teman atau saudara, ada rasa ingin beli dan langsung check out. Itulah yang terjadi ketika enggak ada jeda itu,” jelas Cempaka.

Tanpa jeda, seseorang “tidak sadar” dengan apa yang dibeli. Padahal, jeda sangat penting agar otak bisa memproses keputusan membeli dengan lebih tenang.

“Jadi, memang kita benar-benar bisa pastikan kayak, ‘oh iya ini memang sesuatu yang benar-benar aku perlu dan memang aku sudah cari di lemari, memang enggak ada’. Dan dia punya uangnya (untuk beli),” lanjut dia.

Apa yang bisa dilakukan untuk memberi jeda?

Memberi jeda bukan sekadar menunda waktu, tetapi juga melakukan langkah konkret yang dapat membantu memastikan bahwa pembelian barang atau jasa memang diperlukan. 

“Aku selalu bilang bahwa belanja, membeli sesuatu yang baru, itu adalah opsi paling terakhir,” ucap dia.

Proses ini secara tidak langsung juga akan mendorong pemanfaatan barang yang sudah ada, agar tidak terbuang sia-sia.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah membeli barang bekas. Perlu diketahui bahwa barang bekas tidak selalu berarti barang rusak atau tidak layak pakai.

Jika semua cara tidak memungkinkan, barulah membeli barang baru. Ini pun tetap harus dipertimbangkan dengan matang.

“Ketika mau enggak mau harus beli baru, kita perlu pastikan berapa bujet yang kita punya, apakah barang itu sesuai dengan gaya hidup sehari-hari, dan apakah bisa dipakai lama,” jelas Cempaka.

Selain bujet dan kecocokan gaya hidup, ia juga mengingatkan pentingnya memastikan tempat penyimpanan dan kemampuan merawat barang tersebut.

“Kalau barang enggak bisa dirawat, itu akan cepat rusak, cepat enggak kepakai, dan akhirnya sia-sia,” imbuhnya.

Rangkaian langkah ini memang terlihat panjang, tetapi justru di situlah esensi mindful consumption. Setiap langkah memberikan jeda pada otak, agar keputusan membeli tidak diambil secara impulsif.

Tag:  #jangan #asal #check #mindful #consumption #jadi #kunci #kelola #uang #dengan #lebih #sadar

KOMENTAR