Elon Musk dan Bos Telegram Kompak Sebut WhatsApp Tak Aman
Ilustrasi Elon Musk dan Pavel Durov yang kompak mengkritik keamanan WhatsApp.( Ilustrasi dibuat menggunakan AI. KOMPAS.COM/Wahyunanda Kusuma)
19:12
29 Januari 2026

Elon Musk dan Bos Telegram Kompak Sebut WhatsApp Tak Aman

 - Elon Musk, pemilik X Corp (perusahaan yang menaungi X/Twitter) dan Pavel Durov, CEO Telegram, kompak mengkritik keamanan privasi WhatsApp (WA).

Keduanya mengomentari kabar gugatan "class action" terhadap WhatsApp oleh sekelompok orang dari berbagai negara.

Gugatan itu menyebut bahwa Meta Platform, Inc., perusahaan induk WhatsApp telah membuat klaim palsu tentang privasi dan keamanan layanan. Mereka juga menuding bahwa sistem internal Meta berpotensi melihat chat WhatsApp pengguna.

Baca juga: Instagram, Facebook, dan WhatsApp Siapkan Paket Berbayar, Ini Bocoran Fiturnya

Berita soal gugatan ini kemudian ramai di media sosial, salah satunya X. Elon Musk pun mengutip (quote) sebuah posting soal ringkasan berita gugatan WhatsApp.

Posting tersebut melampirkan tangkapan layar dari situs outlet media Bloomberg, dengan judul "Lawsuit Claims Meta Can See WhatsApp Chats in Breach of Privacy" (Sebuah Gugatan Klaim Meta Bisa Melihat Isi Chat dalam Pelanggaran Data Pribadi).

"WhatsApp enggak aman. Bahkan Signal sekalipun dipertanyakan (keamanannya). Pakai X Chat," kata Musk.

Signal yang ia maksud adalah aplikasi perpesanan pesaing WhatsApp, yang konon menawarkan keamanan privasi lebih unggul.

Musk juga memanfaatkan postingnya itu untuk mempromosikan X Chat, yakni fitur percakapan (chatting) di platform X, yang menggantikan sistem pesan langsung (direct message/DM).

Hingga saat ini, X Chat memang belum sepopuler Signal apalagi WhatsApp.

Bukan cuma Elon Musk, CEO Telegram, Pavel Durov juga ikut mengomentari kasus WhatsApp ini. Senada dengan Elon Musk, Durov juga menyangsikan keamanan kompetitor platformnya itu.

"Sangat tidak masuk akal mempercayai bahwa WhatsApp benar-benar aman di tahun 2026. Saat kami menganalisa bagaimana WhatsApp mengimplementasikan "enkripsi" mereka, kami temukan sejumlah celah serangan," kata Durov.

Posting Durov itu kemudian direspons Musk dengan balasan "Benar". Kedua bos media sosial ini seolah memiliki "musuh" bersama.

WhatsApp tak aman?

Adapun gugatan terhadap WhatsApp diajukan oleh penggugat dari beberapa negara, seperti Australia, Brazil, India, Mexico, dan Afrika Selatan.

Seperti disebutkan sebelumnya, mereka menuding bahwa Meta membuat klaim palsu tentang privasi dan keamanan layanan WhatsApp.

Penggugat mengeklaim, Meta mengglorifikasi sistem "end-to-end encryption" sebagai sistem keamanan mereka yang diklaim sangat mumpuni.

Selama ini, Meta selalu meyakinkan pengguna bahwa sistem enrkipsi itu membuat chat lebih aman karena hanya pengirim dan penerima pesan saja yang akan bisa melihat isi pesan.

Tidak ada pihak ketiga, bahkan Meta atau WhatsApp itu sendiri, yang bisa mengintip isi chat. Berasarkan laporan Bloomberg yang dihimpun KompasTekno dari Yahoo Finance, gugatan ini diajukan ke Pengadilan Distrik AS di San Francisco.

Baca juga: WhatsApp Dituding Bisa Intip Chat Kita, Meta Digugat

Penggugat mengeklaim bahwa Meta dan WhatsApp "menyimpan, menganalisa, dan bisa mengakses hampir seluruh komunikasi WhatsApp yang diklaim sebagai 'privasi' ".

"Seorang karyawan hanya perlu mengirimkan permintaan (melalui sistem internal Meta) kepada engineer Meta dengan memaparkan bahwa mereka perlu akses ke pesan WhatsApp untuk menjalankan tugasnya," demikian klaim para penggugat dalam dokumen gugatan.

"Tim engineering Meta kemudian akan memberikan akses, yang sering kali tanpa pemeriksaan sama sekali, kemudian di komputer staf akan muncul window atau widget baru yang bisa menampilkan pesan WhatsApp milik pengguna mana pun, berdasarkan nomor User ID, yang sifatnya unik untuk setiap pengguna namun sama di seluruh produk Meta," begitu rincian dalam dokumen gugatan setebal 51 halaman itu, dikutip dari PC Mag.

Selain itu, akses ini juga diklaim bisa membuka chat pengguna sejak awal memakai WhatsApp, termasuk chat yang sudah dihapus. Akan tetapi, dokumen gugatan ini tidak merinci penjelasan teknis yang memperkuat argumen penggugat.

Dalam gugatannya, disebutkan bahwa "whistleblower" membantu mereka mengungkap informasi ini.

Namun, mereka tidak mengungkap siapa whistleblower itu. Kuasa hukum dari para penggugat meminta agar tuntutan ini dimasukkan dalam "class action", atau gugatan bersama yang diajukan untuk mewakili banyak korban dengan masalah yang sama.

Pengacara yang mewakili para penggugat, belum memberikan komentar atau tanggapan lebih lanjut terkait gugatan ini.

Baca juga: Elon Musk Sebut WhatsApp Tak Aman, Bos WA Langsung Kasih Ulti

Bantahan WhatsApp

Meta telah buka suara soal tudingan ini. Perusahaan yang didirikan Mark Zuckerberg itu mengatakan bahwa tudingan ini sangat tidak berdasar dan keliru. Bahkan, Meta juga mengancam akan mengajukan upaya hukum untuk para penggugat.

"Setiap klaim bahwa pesan WhatsApp tidak dienkripsi, adalah sepenuhnya tidak masuk akal," kata juru bicara WhatsApp, Andy Stone, dikutip dari Bloomberg.

"WhatsApp telah menggunakan end-to-end encryption dengan protokol Signal selama satu dekade. Gugatan ini hanyalah fiksi yang tak berdasar," jelasnya.

Head of WhatsApp, Will Cathcart juga memberikan bantahan langsung di posting Elon Musk tadi.

Dalam reply (balasan) kepada Musk, Cathcart menyebut bahwa gugatan terhadap WhatsApp salah kaprah.

"(Tuduhan) ini teramat sangat salah. WhatsApp tak bisa membaca pesan karena kunci enckripsi disimpan (stored) di ponsel Anda, dan kami tidak punya akses untuk membukanya," bantah Cathcart atas tudingan Musk.

"Ini adalah gugatan yang tidak memiliki dasar kuat dan hanya ingin mendapat sorotan media, diajukan oleh perusahaan yang sama yang pernah membela NSO, setelah spyware mereka digunakan untuk menyerang jurnalis dan pejabat pemerintah," imbuh Cathcart.

Tangkapan layar posting Elon Musk yang mengatakan bahwa WhatsApp tidak aman. Tudingan ini langsung dibantah Head of WhatsApp, Will Cathcart.X Tangkapan layar posting Elon Musk yang mengatakan bahwa WhatsApp tidak aman. Tudingan ini langsung dibantah Head of WhatsApp, Will Cathcart.

NSO atau NSO Group yang disinggung Cathcart adalah perusahaan siber asal Israel. Perusahaan ini dikenal sebagai pembuat sypware Pegasus, malware yang sempat bikin heboh karena diduga memata-matai jurnalis, aktivis, tokoh publik, hingga pejabat dunia.

Baca juga: Pembuat Spyware Pegasus Asal Israel Divonis Bersalah

Tahun 2019 lalu, WhatsApp mengeklaim bahwa mereka menemukan spyware Pegasus mengeksploitasi sistem video call mereka.

Meta, selaku induk WhatsApp pun langsung melayangkan gugatan ke NSO Group. Gugatan ini dikabulkan pengadilan federal Amerika Serikat November 2025.

Tag:  #elon #musk #telegram #kompak #sebut #whatsapp #aman

KOMENTAR