Mengenal Mindful Consumption, Solusi Bijak di Tengah Biaya Hidup Tinggi
Ilustrasi belanja.(Dok. Unsplash/charlesdeluvio)
14:05
13 Januari 2026

Mengenal Mindful Consumption, Solusi Bijak di Tengah Biaya Hidup Tinggi

- Meningkatnya biaya hidup membuat banyak orang harus berpikir ulang sebelum mengeluarkan uang di tengah apa-apa yang serba meningkat.

Sebab, pengeluaran rutin seperti makanan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga, menyerap anggaran yang semakin besar.

Di sisi lain, gaya hidup konsumtif malah semakin mudah terbentuk karena pengaruh media sosial.

Dalam kondisi seperti ini, keputusan belanja yang tidak disadari, tanpa kontrol, dan terus mengikuti dorongan untuk membeli barang-barang non-esensial, dapat berdampak langsung pada stabilitas keuangan pribadi.

Di sinilah pentingnya menerapkan mindful consumption.

“‘Mindful’ itu kesadaran, ‘consumption’ itu konsumsi. Maksudnya, mindful consumption adalah ketika kita sadar dalam mengonsumsi apapun, baik itu konsumsi belanja barang, servis, maupun yang sifatnya konsumsi misalnya berita dan media sosial.”

Hal tersebut dituturkan oleh pemilik SARE Studio dan kreator konten conscious fashion, Cempaka Asriani, saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Konsep ini menekankan pentingnya kesadaran dalam setiap keputusan konsumsi. Belanja memang tidak dilarang, tetapi perlu dilakukan berdasarkan alasan yang jelas dan relevan dengan kebutuhan.

Media sosial dan dorongan belanja yang tidak disadari

Salah satu tantangan terbesar dalam menerapkan mindful consumption datang dari media sosial.

Era digital menjadi sumber utama referensi gaya hidup, sekaligus pemicu keinginan untuk membeli sesuatu secara spontan.

“Di era seperti sekarang, tanpa kita sadari, kita punya kecenderungan belanja itu lebih kayak enggak sadar karena terpengaruh dari apa yang kita lihat di media sosial, baik itu berupa iklan maupun konten-konten organik,” terang Cempaka.

Paparan secara terus-menerus membuat proses belanja sering kali tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan pada dorongan sesaat. Dalam situasi biaya hidup yang terus meningkat, pola seperti ini bisa menjadi jebakan finansial.

“Sebenarnya mindful consumption itu sendiri adalah sebuah perilaku yang ingin mengembalikan bahwa konsumsi itu tetap boleh, belanja tetap boleh, tapi disesuaikan lagi dengan kebutuhan. Kalau enggak butuh, ya enggak beli,” lanjut dia.

Berlaku untuk semua aspek gaya hidup

Mindful consumption kerap dikaitkan dengan fesyen berkelanjutan, sehingga banyak yang mengira bahwa gerakan ini hanya diterapkan ketika seseorang berbelanja pakaian.

Cempaka meluruskan kekeliruan itu. Ia menekankan, mindful consumption tidak terbatas pada satu jenis konsumsi saja, seperti pakaian.

“Gaya hidup secara keseluruhan, karena memang (gaya hidup) enggak hanya fesyen. Kita kan belanja atau konsumsi baran enggak hanya fesyen. Juga mencakup makanan, barang elektronik, dan lain-lain,” ucap dia.

Fesyen memang sering menjadi sorotan karena siklus trennya yang cepat, dan kecenderungan belanja impulsif yang tinggi.

Namun, pada dasarnya, setiap keputusan untuk membeli barang, dapat dievaluasi dengan prinsip kesadaran, terutama ketika tekanan ekonomi di era sekarang menuntut penentuan prioritas yang lebih jelas.

“Aku selalu bilang bahwa belanja, membeli sesuatu yang baru itu, adalah pilihan paling terakhir,” ujar Cempaka.

Menghadapi keinginan untuk mengikuti tren

Tidak dapat dipungkiri bahwa tren belanja barang apapun memang mencuri perhatian. Misalnya saja tren boneka Labubu, mengonsumsi ceremonial matcha, nongkrong di kafe kekinian, atau membeli gamis rompi lepas untuk Lebaran.

Rasa penasaran karena melihat banyak yang mengikuti tren tersebut, bisa memicu keinginan untuk mengikutinya. Pertama mungkin kamu hanya membeli satu kali. Namun, pembelian bisa berulang jika kamu merasa puas pada pembelian pertama.

Kamu juga berkemungkinan akan lanjut mengikuti tren itu dengan alasan “mencari tahu apa yang orang suka dari tren itu”.

Padahal, apa yang dibeli tidak termasuk di prioritas utama dalam kehidupanmu saat ini, terutama jika perekonomian sedang buruk.

“Kalau cuma karena mau mengikuti tren semata, atau bukan sesuatu yang kayak kita suka banget, itu kan jadinya (tren) akan bertahan sebentar saja. Itu yang sebaiknya dihindari, pembelian yang cuma bertahan sebentar,” pungkas cempaka.

Tag:  #mengenal #mindful #consumption #solusi #bijak #tengah #biaya #hidup #tinggi

KOMENTAR