Jangan Menyalahkan Diri, Putus Cinta Bukan karena Tak Lagi Berharga
Ilustrasi putus cinta.(Google Gemini AI)
21:35
9 Januari 2026

Jangan Menyalahkan Diri, Putus Cinta Bukan karena Tak Lagi Berharga

- Berpisah dengan pasangan sering membuat seseorang berada dalam fase emosional yang berat.

Tidak sedikit ada yang merasa kehilangan arah, mempertanyakan harga diri, sampai menyalahkan diri sendiri setelah hubungan berakhir.

“Kesalahan terbesar saat berpisah adalah kita sering mengaitkan hubungan tersebut dengan nilai diri, yang mana seharusnya kita perlu mengaitkannya dengan kebutuhan diri kita,” ungkap pendiri Cup of Stories, Fitri Jayanthi, M.Psi, Psikolog.

Fitri menuturkannya dalam sesi Kelas Kehidupan Cup of Stories bertajuk “Menentukan Langkah Setelah Mengalami Kegagalan Berhubungan” via Zoom, Kamis (8/1/2026).

Mengaitkan perpisahan dengan nilai diri

Ketika seseorang mengaitkan hubungan yang telah kandas dengan nilai diri, akan muncul berbagai narasi negatif tentang diri sendiri.

Pikiran seperti tidak lagi dipilih, tidak lagi dicintai, atau tidak lagi berarti untuk mantan pasangan, menjadi asumsi yang paling sering muncul setelah hubungan berakhir.

“Mengaitkan dengan nilai diri itu seperti ‘oh hubungan ini berakhir, tandanya aku sudah tidak dipilih lagi’. Atau kayak, ‘oh aku diputusin tandanya sudah tidak berarti lagi’. Kita selalu mengaitkan, ‘tandanya aku…’ ketika dapat situasi seperti itu,” tutur Fitri.

Padahal, cara pandang seperti itu justru bisa memperburuk luka emosional yang sudah ada sejak hubungan berakhir.

Tidak hanya itu, cara pandang tersebut juga bisa membuat seseorang langsung menarik kesimpulan tentang siapa dirinya.

Misalnya, ia merasa seperti seseorang yang tidak menarik, membosankan, “gampang baperan” alias mudah tersinggung, karena diputuskan mantan pasangannya.

Perpisahan bukan soal siapa yang kurang berharga

Perpisahan bukan soal siapa yang kurang berharga, melainkan sekadar kepribadian dan kebutuhan yang sudah tidak saling selaras.

“Yang harus kita lihat dengan jelas ketika hubungan berakhir adalah tandanya orang tersebut sudah tidak sesuai dengan kebutuhan kita saat ini,” kata Fitri.

Dahulu, mantan pasangan mungkin sesuai dengan apa yang dibutuhkan, baik dari segi karakteristik, bahasa cinta atau love language, nilai-nilai kehidupan, impian masa depan, dan lain sebagainya.

“Tapi seiring berjalannya waktu, kita meningkatkan diri dan lain-lain. Ternyata, kebutuhan kita mulai bergeser, sehingga kita sudah mulai tidak pas lagi,” ujar Fitri.

Pentingnya mengenali kebutuhan diri

Alih-alih berusaha keras mendapatkan closure atau kejelasan akan putusnya hubungan tersebut, sebaiknya kamu merefleksikan diri dan mengenali kembali apa yang kamu butuhkan saat ini.

Mengenali apa yang saat ini dibutuhkan dapat mencegahmu terjebak dalam hubungan serupa di masa depan.

“Buat cari tahu karakteristik kebutuhan pasangan itu seperti apa, tinggal sebutin saja hal-hal yang tidak kita suka ketika pasangan melakukan hal itu ke kita,” terang Fitri.

Misalnya, kamu tidak suka ketika pasangan berbicara kasar, atau melakukan hukuman fisik seperti memukul atau mendorong ketika bertengkar.

Jadi, ketika ada seseorang mendekat, kamu tidak langsung menyetujui untuk menjalin hubungan romantis dengan alasan “mumpung ada yang naksir lagi”, jika karakteristiknya tidak sesuai kebutuhanmu.

“Itulah yang mengantarkan kita untuk mendapatkan pasangan yang sesuai kebutuhan kita. Kalau tidak tahu apa yang kita cari, terkadang ketika ada orang yang datang ke diri kita, kita langsung, ‘oke aku coba dulu hubungan ini’. Padahal dari awal kita sudah bisa melihat red flag-nya,” pungkas Fitri.

Tag:  #jangan #menyalahkan #diri #putus #cinta #bukan #karena #lagi #berharga

KOMENTAR