Seperti Film Materialists, Salahkah jika Perempuan Ingin Memilih Pasangan Kaya?
Poster film Materialists yang diperankan Dakota Johnson, Chris Evans, dan Pedro Pascal.(Instagram.com/materialists)
18:05
8 Januari 2026

Seperti Film Materialists, Salahkah jika Perempuan Ingin Memilih Pasangan Kaya?

– Tokoh Lucy dalam film Materialists memantik perdebatan tentang cinta, uang, dan stigma terhadap perempuan. 

Penonton disuguhkan sosok perempuan yang secara terbuka mencari pasangan kaya dan menjadikan kondisi finansial sebagai pertimbangan utama dalam relasi. 

Berkaca dari tokoh tersebut, salahkah jika perempuan ingin memilih pasangan kaya?

Dalam masyarakat, istilah materialistis kerap dilekatkan pada perempuan yang vokal soal finansial. 

Padahal, menurut psikolog, cara pandang tersebut tidak sesederhana hitam dan putih. Ada konteks psikologis, pengalaman hidup, serta kebutuhan akan rasa aman yang melatarbelakanginya.

Di Balik Pertimbangan Finansial

Psikolog Klinis Ayu Mas Yoca Hapsari, M.Psi., Psikolog menilai, label materialistis sering digunakan tanpa memahami alasan di balik pilihan seseorang.

“Istilah materialistis itu seringkali digunakan tanpa melihat konteks di baliknya. Mempertimbangkan aspek seperti materi atau finansial, itu tidak dapat langsung dianggap sebagai sesuatu yang salah,” ungkap dia saat diwawancarai Kompas.com, Rabu (7/1/2026).

Menurut Ayu, dalam banyak kasus, pertimbangan finansial berkaitan erat dengan kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup, bukan semata keinginan akan kemewahan.

“Terlebih, jika itu berkaitan dengan kebutuhan dasar, keamanan hidup, dan juga rencana-rencana yang ingin diwujudkan di masa depan,” lanjutnya.

Dalam konteks film Materialists, pilihan Lucy dapat dipahami sebagai upaya mencari stabilitas dan kepastian, bukan sekadar obsesi terhadap uang.

Finansial dan rasa aman dalam hubungan

Psikolog Klinis dari Bali, Ayu Mas Yoca Hapsari, M.Psi., PsikologDok. Pribadi Psikolog Klinis dari Bali, Ayu Mas Yoca Hapsari, M.Psi., Psikolog

Psikolog yang berpraktik di Bali ini menambahkan, banyak konflik dalam hubungan jangka panjang justru berakar dari rasa tidak aman yang berlangsung terus-menerus.

“Konflik dalam relasi jangka panjang itu terjadi bukan karena cintanya kurang, tapi dari ketidakamanan yang terjadi secara terus menerus,” jelasnya.

Finansial merupakan salah satu sumber dari rasa aman itu sendiri. Ketika aspek ini tidak terpenuhi, hubungan berpotensi mengalami tekanan psikologis yang berkepanjangan.

“Adanya ketidakjelasan atau ketidakstabilan finansial dapat memicu kecemasan, ketegangan peran, hingga ketimpangan dalam pengambilan keputusan,” ujar Ayu.

Dalam situasi tersebut, perempuan yang mempertimbangkan kondisi finansial pasangan, sejatinya sedang berupaya meminimalkan risiko konflik di masa depan.

Menilai finansial untuk bertahan hidup, bukan serakah

Sejalan dengan pandangan Ayu, Psikolog Klinis Winona Lalita R., M.Psi., Psikolog, menegaskan, menjadikan finansial sebagai salah satu patokan memilih pasangan tidak otomatis berarti materialistis.

“Ketika seseorang menjadikan kondisi finansial pasangan itu sebagai salah satu patokan untuk memilih pasangan untuk ke jenjang yang lebih serius, sebenarnya tidak bisa dibilang materialistis atau serakah,” kata Winona saat diwawancarai Kompas.com, Senin (5/1/2026).

Menurut Winona, keputusan tersebut sering kali berakar pada naluri bertahan hidup dan kebutuhan akan perlindungan diri.

“Ini sebenarnya cara seseorang untuk bertahan hidup, mempertahankan diri, dan melindungi diri kita sendiri,” jelasnya.

Dalam perspektif ini, pilihan perempuan bukan soal mengejar materi, melainkan strategi untuk menciptakan kehidupan yang lebih aman dan stabil.

Refleksi penting dalam memilih pasangan

Psikolog Klinis Winona Lalita R., M.Psi., PsikologDok. Pribadi Psikolog Klinis Winona Lalita R., M.Psi., Psikolog

Winona menekankan, yang perlu direnungkan bukanlah label materialistis itu sendiri, melainkan dampaknya terhadap kualitas hubungan.

“Bukan soal menjadi materialistis itu benar atau salah, tapi apakah ketika kamu memilih menjadi seseorang yang materialistis itu membuat relasi tersebut rasanya lebih aman, sehat, atau justru membuat sisi emosional jadi kosong?”

Ia menilai refleksi ini penting sebelum seseorang memutuskan melangkah ke hubungan yang lebih serius.

Cinta tanpa rasa aman dan potensi konflik

Baik Ayu maupun Winona sepakat bahwa cinta saja tidak selalu cukup jika tidak dibarengi rasa aman, termasuk secara finansial. Cinta tanpa rasa aman secara finansial sangat berpotensi untuk memicu konflik jangka panjang.

Winona menjelaskan, sejumlah penelitian menunjukkan kaitan antara kondisi ekonomi dan konflik relasi.

“Kalau dilihat di beberapa penelitian, memang kondisi ekonomi itu bisa jadi salah satu hal yang menyebabkan konflik panjang dan memicu perpisahan. Sebab, tidak merasa aman dari sisi finansial, itu bisa merembet ke lainnya,” terang dia.

Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan akan kehidupan esok hari, sikap defensif, hingga pola komunikasi yang tidak sehat dengan pasangan.

Makna rasa aman finansial

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa, rasa aman finansial tidak selalu identik dengan kekayaan berlimpah.

Sikap keterbukaan, saling mengusahakan kondisi finansial, dan kompromi jadi kunci dalam memperoleh rasa aman secara finansial.

“Rasa aman secara finansial itu bukan hanya keberlimpahan harta, tapi juga transparansi, rasa tanggung jawab, kerjasama antar pasangan dalam mewujudkan rasa aman secara finansial,” jelasnya.

Dengan demikian, melihat finansial sebagai bagian dari pertimbangan dalam memilih pasangan justru dapat menjadi upaya membangun relasi yang sehat dan setara.

Film Materialists pada akhirnya membuka ruang refleksi tentang bagaimana perempuan kerap distigma saat berbicara soal uang. 

Padahal, menurut kedua psikolog, pertimbangan finansial sering kali berakar pada kebutuhan akan keamanan, stabilitas, dan keberlanjutan hidup bersama.

Alih-alih langsung menyalahkan, memahami konteks di balik pilihan tersebut justru menjadi kunci untuk melihat relasi secara lebih adil dan manusiawi.

Tag:  #seperti #film #materialists #salahkah #jika #perempuan #ingin #memilih #pasangan #kaya

KOMENTAR