8 Simbol Status Usang yang Tetap Membuat Kelas Menengah ke Bawah Antusias, Apa Sajakah Itu?
seseorang yang memiliki rumah yang besar. (Freepik/geargodz)
10:10
8 Januari 2026

8 Simbol Status Usang yang Tetap Membuat Kelas Menengah ke Bawah Antusias, Apa Sajakah Itu?


Dalam masyarakat modern, simbol status seharusnya berevolusi seiring perubahan zaman. Namun kenyataannya, banyak simbol status lama yang secara fungsional sudah usang, bahkan tidak lagi relevan dengan kebutuhan hidup hari ini, tetap memiliki daya tarik luar biasa—terutama bagi kelas menengah ke bawah.

Psikologi sosial menjelaskan bahwa simbol status bukan semata tentang fungsi, melainkan tentang makna, pengakuan, dan harapan naik kelas. Ketika mobilitas sosial terasa semakin sulit, simbol-simbol lama justru menjadi jangkar emosional: sesuatu yang “terlihat berhasil”, meski secara ekonomi belum tentu menyehatkan.

Dilansir dari Geediting, terdapat delapan simbol status usang yang masih membuat banyak orang antusias, lengkap dengan alasan psikologis di baliknya.

1. Rumah Besar di Pinggir Kota


Dulu, rumah besar dengan pagar tinggi adalah lambang mutlak kesuksesan. Kini, biaya perawatan tinggi, akses jauh, dan kualitas hidup sering kalah dibanding hunian kecil di lokasi strategis.

Namun bagi banyak orang kelas menengah ke bawah, rumah besar tetap identik dengan “sudah jadi orang”. Ada kepuasan simbolik saat tamu datang dan melihat luas bangunan—meski cicilan menekan dan rumah jarang benar-benar “hidup”.

Makna tersembunyi: validasi sosial lebih penting daripada efisiensi hidup.

2. Mobil Pribadi Baru, Meski Kredit Panjang


Di era transportasi online dan kerja jarak jauh, mobil bukan lagi kebutuhan mutlak. Namun mobil baru tetap menjadi simbol kenaikan kelas yang sangat kuat.

Psikolog menyebut ini sebagai status signaling: pesan nonverbal kepada lingkungan bahwa seseorang telah “naik level”, walaupun secara finansial justru terjebak komitmen jangka panjang.

Ironi: kebebasan terlihat, tapi ruang gerak finansial menyempit.

3. Ponsel Flagship dengan Fitur yang Tak Terpakai


Banyak pengguna ponsel mahal hanya memanfaatkan fungsi dasar: chat, media sosial, dan kamera standar. Namun merek dan seri tetap menjadi kebanggaan.

Di sini, ponsel bukan alat produktivitas, melainkan simbol keterhubungan dengan kelas sosial yang lebih tinggi—meski secara fungsional berlebihan.

Pesan psikologis: “Saya setara dengan mereka,” meski realitas berkata lain.

4. Pesta Pernikahan Mewah


Pernikahan sederhana sering dianggap “kurang berhasil”, terutama di lingkungan sosial tertentu. Akibatnya, pesta besar menjadi simbol status keluarga, bukan pasangan.

Padahal, banyak pasangan memulai hidup bersama dengan utang sosial dan finansial. Status di satu hari dibayar dengan tekanan bertahun-tahun.

Fenomena sosial: gengsi kolektif mengalahkan rasionalitas pribadi.

5. Jam Tangan Mahal sebagai Simbol “Profesional”


Jam tangan mekanik mahal dulunya penanda elite. Kini, fungsinya kalah dari gawai digital. Namun simbolnya tetap kuat, terutama di dunia kerja konvensional.

Jam mahal memberi ilusi otoritas, kedewasaan, dan keberhasilan—meski tidak berkorelasi dengan kompetensi atau stabilitas finansial. Psikologi simbol: benda kecil, pesan besar.

6. Gelar Akademik Tanpa Arah Karier Jelas


Pendidikan adalah investasi penting, tetapi gelar semata tanpa strategi sering menjadi simbol status kosong.

Banyak orang mengejar titel demi pengakuan sosial, bukan keterampilan nyata. Gelar menjadi bukti “pernah berjuang”, meski tidak meningkatkan posisi ekonomi. Konflik batin: bangga secara sosial, cemas secara ekonomi.

7. Nongkrong di Tempat “Kekinian”


Kafe mahal dan tempat hits sering lebih tentang latar foto daripada pengalaman. Namun kehadiran di sana memberi rasa “ikut arus” dan tidak tertinggal kelas sosial.

Ini adalah bentuk aspirational identity: mencoba hidup seperti kelas di atas, meski sebentar.
Efek jangka panjang: kebiasaan konsumsi simbolik tanpa nilai tambah.

8. Barang Bermerek Second dengan Logo Menyala


Logo besar sering lebih penting daripada kualitas atau kebutuhan. Bahkan barang bekas bermerek tetap memiliki daya tarik tinggi.

Ini menunjukkan bahwa yang dicari bukan fungsi, melainkan narasi status—kisah bahwa seseorang “pernah atau hampir” berada di kelas tertentu.

Realita pahit: simbol bertahan, substansi tertinggal.

Kesimpulan: Saat Simbol Menggantikan Substansi


Simbol status usang bertahan bukan karena fungsinya, melainkan karena ketimpangan sosial yang membuat pengakuan terasa langka. Bagi kelas menengah ke bawah, simbol menjadi jalan pintas psikologis untuk merasa berhasil, meski hanya sementara.

Pelajaran terpentingnya bukan untuk menghakimi, melainkan memahami: ketika mobilitas sosial terasa buntu, simbol menjadi harapan. Namun harapan yang sehat seharusnya dibangun dari stabilitas, keterampilan, dan pilihan sadar—bukan sekadar tampilan luar.

Di era baru, mungkin simbol status sejati bukan lagi apa yang terlihat mahal, melainkan apa yang membuat hidup lebih ringan, lebih bebas, dan lebih bermakna.   ***

Editor: Novia Tri Astuti

Tag:  #simbol #status #usang #yang #tetap #membuat #kelas #menengah #bawah #antusias #sajakah

KOMENTAR