Manfaat Memberi bagi Kesehatan Mental Menurut Pakar, Mengurangi Stres
Memberi kerap diasosiasikan dengan berbagi hadiah atau bantuan materi, terutama di momen liburan dan akhir tahun.
Namun menurut para pakar, makna memberi jauh lebih luas dari itu.
Tindakan memberi, baik berupa waktu, perhatian, maupun dukungan emosional, disebut memiliki dampak positif bagi kesehatan mental seseorang.
"Penelitian dari bidang psikologi, ilmu saraf, dan kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa perilaku prososial seperti memberikan waktu, uang, atau dukungan kepada orang lain dikaitkan dengan manfaat bagi kesejahteraan," ujar pakar kesehatan Dr. Leana Wen, dikutip dari CNN International, Sabtu (27/12/2025).
Respons emosional positif saat seseorang memberi
Dr. Wen menjelaskan bahwa saat seseorang memberi dengan tulus, tubuh dapat merespons dengan melepaskan hormon yang berkaitan dengan perasaan senang dan keterikatan sosial, seperti dopamin dan oksitosin.
Hormon-hormon ini berperan dalam menciptakan rasa tenang, bahagia, dan aman secara emosional.
Pada saat yang sama, aktivitas memberi juga dikaitkan dengan penurunan hormon stres kortisol.
Inilah yang membuat seseorang kerap merasa lebih lega dan rileks setelah membantu orang lain, meskipun bantuan tersebut dilakukan dalam bentuk sederhana.
Memberi dapat membantu mengurangi stres
Dalam kehidupan sehari-hari, stres kerap muncul akibat tekanan pekerjaan, masalah pribadi, maupun tuntutan sosial.
Memberi dapat menjadi salah satu cara sehat untuk meredakan stres karena membantu mengalihkan fokus dari beban diri sendiri ke hubungan sosial yang lebih bermakna.
Bagi sebagian orang, membantu orang lain juga memberikan perspektif baru terhadap masalah yang sedang dihadapi.
Rasa bersyukur dan empati yang muncul saat memberi disebut dapat membantu menurunkan kecemasan dan ketegangan emosional.
Meningkatkan rasa makna dan tujuan hidup
Selain mengurangi stres, memberi juga berkontribusi dalam membangun rasa makna dan tujuan hidup.
Ketika seseorang merasa kehadirannya bermanfaat bagi orang lain, hal tersebut dapat meningkatkan harga diri dan kepuasan hidup.
Pakar menyebut bahwa perasaan “dibutuhkan” dan “berkontribusi” dapat memperkuat kesehatan mental, terutama bagi mereka yang rentan merasa kesepian atau kehilangan arah dalam hidup.
Relevan dilakukan di musim liburan
Manfaat memberi terasa semakin relevan di musim liburan. Meski identik dengan kebahagiaan, periode ini juga bisa menjadi waktu yang penuh tekanan, baik secara emosional maupun finansial.
Tidak sedikit orang yang justru merasa kesepian, cemas, atau terbebani ekspektasi.
Dalam konteks ini, memberi, baik melalui tindakan kecil seperti mendengarkan cerita orang lain atau membantu sesama, dapat menjadi cara sederhana untuk menjaga keseimbangan emosi.
Ilustrasi berbagi bahan makanan kepada lingkungan sekitar.
Memberi dengan mindful
Meski bermanfaat, para pakar mengingatkan bahwa memberi tidak selalu berdampak positif jika dilakukan secara berlebihan atau penuh tekanan.
Memberi yang melampaui batas kemampuan dapat memicu kelelahan emosional atau giver burnout.
Kondisi ini bisa terjadi ketika seseorang terus memberi tanpa memperhatikan kebutuhan diri sendiri, sehingga justru merasa lelah, terpaksa, atau tertekan.
Pentingnya keseimbangan antara memberi dan menerima
Karena itu, memberi sebaiknya dilakukan dengan kesadaran dan batas yang sehat.
Memberi tidak harus selalu dalam bentuk besar atau materi. Tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus pun sudah cukup memberikan dampak positif bagi kesehatan mental.
Di sisi lain, para ahli juga menekankan pentingnya kemampuan menerima.
Menerima bantuan atau perhatian dari orang lain merupakan bagian dari hubungan sosial yang sehat dan dapat membantu seseorang merasa dihargai serta tidak sendirian.
Dengan menjaga keseimbangan antara memberi dan menerima, seseorang dapat merawat kesehatan mentalnya sekaligus membangun hubungan sosial yang lebih hangat dan bermakna.
Tag: #manfaat #memberi #bagi #kesehatan #mental #menurut #pakar #mengurangi #stres