38 Kali Sebut Damai tapi Zonk, Ucapan Trump soal Iran Tak Lagi Dipercaya
- Di era media sosial yang bergerak kilat, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuktikan dirinya sebagai narator yang paling tidak bisa dipercaya dalam konflik AS-Iran.
Sejak perang ini meletus, Trump berulang kali mengancam Iran dengan konsekuensi berat apabila Teheran tak juga duduk di meja perundingan.
Dalam waktu bersamaan, ia juga berulang kali mengklaim bahwa kesepakatan damai sudah hampir tercapai.
Baca juga: AS Umumkan Serangan ke Iran Telah Selesai, Trump Klaim Teheran Minta Gencatan Senjata
Akan tetapi, tidak ada satu pun pernyataan dari Trump tersebut yang terbukti, sebagaimana dilansir The Guardian, Kamis (11/6/2026).
CNN mencatat, klaim semacam itu sudah diucapkan Trump sebanyak 38 kali.
Inkonsistensi itu tak berhenti di sana. Meski dia telah menyatakan kemenangan penuh dalam konflik ini, Selat Hormuz hingga kini masih tertutup bagi lebih dari 20 persen lalu lintas minyak global.
Trump juga memainkan dua kartu sekaligus: mengklaim Iran telah ditaklukkan, sambil menyalahkan keras kepala Iran sebagai alasan mengapa kesepakatan damai belum bisa ditandatangani.
Baca juga: Sebut Misi Rahasia, Trump Klaim Kelabui Iran dan Angkut Minyak di Selat Hormuz
"Pengganggu Timur Tengah sudah mati," tulis Trump dalam unggahannya pada Senin (8/6/2026).
"Mereka terlalu lama bernegosiasi untuk kesepakatan yang seharusnya menguntungkan mereka, kini mereka harus membayar harganya," lanjutnya.
Cuitan itu muncul setelah sebuah helikopter tempur Apache AS ditembak jatuh di lepas pantai Oman oleh drone Iran.
Insiden tersebut malah bertentangan langsung dengan pernyataan Trump dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahwa Iran tidak punya senjata anti-pesawat dan tidak punya radar.
Baca juga: Trump Sebut Iran Memohon Gencatan Senjata, Tehran Membantah
Kenyataannya berkata lain. Serangan rudal dan drone Iran terus berlanjut, menyasar sekutu AS di kawasan, yakni Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Sebagai balasan atas penembakan jatuh helikopter Apache itu, AS mengeklaim telah menghantam lebih dari 20 target di Iran, termasuk situs radar dan pertahanan udara.
Pada Rabu (10/6/2026) di Oval Office, Trump kembali memainkan retorika ganda yang menjadi ciri khasnya.
"Kami akan menghantam mereka keras hari ini, dan kita lihat apa yang terjadi soal kesepakatan," ujarnya.
"Kami benar-benar sudah dekat dengan kesepakatan, tapi mereka terus mengulur-ulur waktu, terus mempermainkan kami," lanjutnya.
Baca juga: Ditanya soal Kenaikan Harga, Trump Panen Cibiran: Saya Suka Inflasi
Kredibilitas yang terkikis
Rentetan klaim mulai dari kesepakatan yang sudah di depan mata hingga ancaman bahwa sebuah peradaban akan musnah malam ini memang berhasil membuat Trump tetap mendominasi siklus kabar.
Namun di sisi lain, langkah ini justru semakin menggerus kepercayaan publik terhadap pernyataannya, bahkan dalam isu hidup-mati sekalipun.
Pemimpin negara lain tampaknya turut memanfaatkan celah kredibilitas ini.
Trump mengaku hendak meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak melancarkan serangan balasan terhadap Iran.
Namun ketika Israel tetap menyerang, Trump berdalih kepada BBC bahwa rudal sudah telanjur diluncurkan.
Baca juga: Trump Tuding Iran Terlalu Lama Negosiasi: Mereka Harus Tanggung Akibatnya
Dia kemudian membantah Netanyahu telah mengabaikan perintahnya, dan menegaskan bahwa ketika dia minta Netanyahu melakukan sesuatu, Netanyahu melakukannya.
Pola serupa terus berulang. AS berkali-kali mengancam akan menyerang infrastruktur sipil dan energi Iran, sebuah langkah yang oleh banyak pengamat internasional dikategorikan sebagai potensi kejahatan perang.
Akan tetapi, ancaman tersebut kemudian berbalik arah menuju diplomasi, atau melontarkan ultimatum dengan tenggat dua pekan yang kemudian terlupakan begitu saja.
Siklus ancaman, meredanya ketegangan, dan kebuntuan pun terus berputar.
Setiap insiden baru, seperti penembakan jatuh helikopter AS pada Senin. menjadi pemicu putaran berikutnya.
Baca juga: Sempat Diragukan Trump, Netanyahu Pastikan Maju Lagi dalam Pemilu Israel
Tentara Iran menembakkan rudal dalam latihan militer di Pantai Makran, Teluk Oman, dekat Selat Hormuz pada 31 Desember 2022.
Fox News pada Rabu melaporkan bahwa Trump kembali "endekat ke opsi serangan radikal terhadap Iran, yang berpotensi menghancurkan ekonomi serta kehidupan militer dan sipil negara itu,
Akan tetapi, rencana itu tanpa jaminan Selat Hormuz akan kembali dibuka atau pemerintah Iran akan menyerah.
Pemerintahan Trump kini terjebak dalam dilema klasik: tidak mampu mengubah keunggulan militernya menjadi kepatuhan politik.
Selain unggahan-unggahan liar sang presiden di Truth Social, hampir tidak ada tanda-tanda kemajuan nyata di meja perundingan.
Baca juga: Trump Jadi Naruto, Langsung Digeruduk 20.000 Warga Jepang
Dan Iran, setidaknya secara retoris, tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah sepenuhnya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan posisi negaranya dengan keras.
"Meski kalah di medan perang, AS memilih untuk menguji tekad kami," tulis Araghchi.
"Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak akan membiarkan satu pun serangan atau ancaman berlalu tanpa jawaban. Tinggalkan kawasan kami jika kalian ingin aman," lanjutnya.
Baca juga: AS Sudah Hantam 20 Target di Iran, Trump Janji Balas Teheran dengan Sangat Kuat
Tag: #kali #sebut #damai #tapi #zonk #ucapan #trump #soal #iran #lagi #dipercaya