Hujan Ekstrem dan Banjir Sumatra Dorong Orangutan Tapanuli ke Ambang Kepunahan
- Hujan ekstrem dan tanah longsor yang melanda Sumatra selama empat hari berturut-turut pada November 2025 membuat orangutan tapanuli semakin dekat dengan jurang kepunahan.
Temuan tersebut mengemuka berdasarkan studi terbaru yang dirilis pada Rabu (10/6/2026).
Dalam studi yang dirilis di jurnal Current Biology tersebut, sebanyak 58 ekor orangutan tapanuli diperkirakan tewas akibat cuaca ekstrem tersebut.
Baca juga: Orangutan Jennifer-Hayato Menikah di Jepang, Gubernur Hadiri Resepsi
Angka ini mencakup sekitar 7 persen dari total keseluruhan populasi spesies yang kini jumlahnya tersisa kurang dari 800 ekor.
Orangutan tapanuli sendiri merupakan salah satu spesies kera besar paling terancam punah di dunia, sebagaimana dilansir BBC.
Para penulis studi menyatakan, angka tersebut merupakan perkiraan konservatif. Jumlah itu belum memperhitungkan dampak kerusakan kanopi hutan serta berkurangnya ketersediaan sumber pangan bagi satwa pascabencana.
Siklon Senyar
Kematian massal satwa langka ini dipicu oleh terjangan Siklon Senyar pada akhir November 2025.
Siklon tersebut memicu bencana alam mematikan di Asia Tenggara sepanjang tahun 2025 dengan menelan korban jiwa lebih dari 1.000 orang.
Namun, dampak kerusakan terhadap satwa liar di pulau tersebut selama ini dinilai lebih sulit untuk dikuantifikasi.
Baca juga: Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh, Diberi Nama Badar
Sebelum studi ini keluar, sejumlah pakar margasatwa dan konservasionis mendapati bahwa intensitas perjumpaan dengan orangutan tapanuli menurun drastis setelah badai berlalu.
Hal ini sempat memicu spekulasi bahwa kera besar tersebut hanyut tersapu banjir dan tanah longsor.
Kecurigaan tersebut terbukti beberapa minggu setelah siklon mereda. Petugas kemanusiaan menemukan bangkai satwa yang diduga kuat sebagai orangutan tapanuli di Desa Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Bangkai tersebut ditemukan dalam kondisi setengah terkubur di antara puing-puing lumpur dan gelondongan kayu.
"Saya telah melihat beberapa mayat manusia dalam beberapa hari terakhir, tetapi ini adalah satwa liar mati pertama (yang saya temukan)," kata Deckey Chandra, salah satu petugas tim kemanusiaan yang bertugas di area tersebut.
Baca juga: Orangutan Pincang Berkeliaran Dekat Permukiman Warga di Kalbar
"Mereka biasanya datang ke tempat ini untuk makan buah-buahan. Namun sekarang, tempat ini tampaknya telah menjadi kuburan mereka," lanjutnya.
Profesor Erik Meijaard, Direktur Pelaksana Borneo Futures di Brunei sekaligus salah satu penulis studi, mengonfirmasi keaslian temuan tersebut setelah memeriksa foto-foto bangkai orangutan yang dibagikan oleh Chandra.
Estimasi terbaru Meijaard mengenai 58 kematian ini melonjak drastis dari perkiraan awalnya pada Desember 2025, yang awalnya menyebut Siklon Senyar kemungkinan hanya menewaskan sekitar 35 ekor orangutan.
Kala itu, ia menyebut kehilangan 35 ekor saja sudah menjadi pukulan besar bagi populasi spesies itu.
"Apa yang mengejutkan saya adalah semua daging di bagian wajahnya telah terkoyak," ujar Meijaard menggambarkan kondisi bangkai tersebut.
"Jika beberapa hektare hutan runtuh akibat tanah longsor yang masif, bahkan orangutan yang kuat pun tidak berdaya dan akan hancur. Kondisi di dalam hutan saat itu pasti terasa seperti neraka."
Baca juga: Terjebak di Area Sawit Aceh Selatan, Dua Orangutan Dievakuasi dan Dilepasliarkan
Ancaman perubahan iklim
Para peneliti mencatat bahwa meski Siklon Senyar merupakan peristiwa anomali, perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia memegang peran signifikan di balik bencana ini.
Frekuensi dan intensitas hujan ekstrem di wilayah tersebut diproyeksikan akan terus berlanjut di masa depan, sehingga terus mengancam habitat orangutan tapanuli.
Sebagai informasi, orangutan tapanuli merupakan spesies yang baru diidentifikasi dan ditemukan pada 2017.
Berbagai studi mengindikasikan bahwa spesies ini akan punah jika kehilangan lebih dari 1 persen populasinya setiap tahun.
Pemerintah Indonesia sendiri menghentikan sementara proyek pembangunan skala besar di kawasan ekosistem Batang Toru, yang merupakan hutan lindung di Sumatra.
Baca juga: Jual Beli Lahan hingga Perkebunan Sawit Ancam Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari
Penemuan bangkai orangutan di Sungai Garoga, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara
Moratorium ini mencakup penundaan ekspansi pertambangan, kelapa sawit, hingga proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Kebijakan ini memberikan kesempatan langka bagi para peneliti untuk mengkaji lebih dalam risiko ekologis yang dihadapi spesies ini.
Di akhir laporan, para penulis menekankan bahwa kehancuran akibat Siklon Senyar menjadi bukti nyata betapa rentannya spesies orangutan tapanuli terhadap perubahan lingkungan.
"Krisis yang dihadapi orangutan tapanuli mengilustrasikan titik temu antara ketidakstabilan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerentanan, yang membutuhkan respons terkoordinasi sesuai dengan skala ancamannya," tulis tim peneliti dalam laporan mereka.
Untuk melindungi sisa populasi yang ada, mereka menegaskan perlunya dukungan internasional yang konsisten dan berkelanjutan.
"Melalui perlindungan domestik yang diperkuat, perencanaan yang responsif terhadap iklim, serta bantuan keuangan dan teknis global, kita masih dapat mencegah kepunahan modern pertama dari spesies kera besar," papar tim peneliti.
Baca juga: Indonesia Cetak Sejarah Dunia, Orangutan Seberangi Jembatan Gantung di Sumatera
Tag: #hujan #ekstrem #banjir #sumatra #dorong #orangutan #tapanuli #ambang #kepunahan