Perkuat Ekonomi Akar Rumput lewat Pemberdayaan Perempuan
Wamen PPPA, Veronica Tan, di Makassar, Sulsel, Kamis (26/3/2026)(Kompas.com/ Atri Suryatri Abbas)
16:44
12 Juni 2026

Perkuat Ekonomi Akar Rumput lewat Pemberdayaan Perempuan

Pemberdayaan perempuan menjadi salah satu fondasi penting karena perempuan memiliki peran langsung dalam menjaga ketahanan keluarga, menggerakkan komunitas, dan memperkuat ekonomi lokal.

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan mengatakan, perempuan perlu ditempatkan sebagai subjek penting dalam strategi ekonomi, bukan sekadar penerima manfaat.

Menurut dia, perempuan dan anak-anak termasuk kelompok yang paling terdampak oleh perubahan iklim, krisis pangan, serta tekanan ekonomi keluarga.

Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan perlu menjadi bagian dari agenda pembangunan yang lebih luas, termasuk melalui akses lahan, edukasi, coaching, pembiayaan, dan keberlanjutan.

“Salah satu program yang diselenggarakan Kementerian PPPA adalah Kebun Pangan Perempuan, untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pengelolaan lahan dan penguatan komunitas perempuan. Program ini juga dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan kepercayaan diri perempuan agar lebih berdaya secara ekonomi,” ujar Veronica dalam keterangan tertulis, Jumat (12/6/2026).

Hal tersebut disampaikan dalam diskusi panel bertajuk “Infrastructure, Investment, Impact: Building Inclusive Financial Ecosystems” yang digelar dalam rangkaian The 2026 Asia Grassroots Forum.

Jalan UMKM akar rumput naik kelas Dari perspektif kewirausahaan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI 2020–2024 Sandiaga Uno menilai pelaku usaha (entrepreneur) akar rumput membutuhkan tiga hal utama agar dapat naik kelas, yaitu akses terhadap pendidikan, akses pasar, dan akses pembiayaan yang tepat.

Ia menuturkan, pada tahap awal, akses pasar sering kali menjadi kebutuhan yang lebih mendesak dibandingkan pembiayaan, karena pelaku usaha kecil perlu memastikan produknya dapat terserap oleh pasar.

"Untuk itu, edukasi keuangan sangat penting agar pelaku usaha kecil tidak terjebak pada skema pembiayaan yang tidak sehat,” ujar Sandiaga.

Membangun kebiasaan keuangan melalui produk digital

Dari sisi bank digital, President Director Superbank Tigor M. Siahaan menekankan pentingnya menghadirkan aplikasi dan produk keuangan yang sederhana, ringan, dan mudah digunakan oleh masyarakat akar rumput.

Pasalnya, masih banyak masyarakat yang membutuhkan agen untuk melakukan transaksi sederhana seperti transfer dana.

"Hal ini menunjukkan produk digital perlu dirancang sesuai dengan kemampuan, kebiasaan, dan keterbatasan pengguna," ucap dia.

Tigor juga mencontohkan produk Celengan yang dikembangkan Amartha untuk membantu masyarakat menyisihkan dana secara rutin mulai dari Rp10.000.

Menurut dia, kebiasaan tersebut menjadi langkah awal dalam membangun aset dan kesehatan keuangan secara bertahap.

Konektivitas dan literasi digital sebagai penggerak produktivitas masyarakat

Sementara itu, Director and Chief Information Technology Officer PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk Yessie D. Yosetya mengungkapkan layanan digital, termasuk aplikasi keuangan, tidak dapat berjalan tanpa konektivitas.

Menurut dia, konektivitas perlu dilihat dalam dua lapisan, yaitu memastikan akses internet tersedia dan memastikan akses tersebut dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi.

”Masih terdapat titik-titik wilayah di Indonesia yang belum memiliki konektivitas memadai, terutama di daerah 3T. Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur telekomunikasi menjadi pondasi penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan digital,” tutur dia.

Yessie menjelaskan, pemanfaatan internet umumnya terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu hiburan, peningkatan pengetahuan, dan produktivitas.

Oleh karena itu, masyarakat perlu didorong agar tidak hanya menggunakan internet untuk konsumsi konten, tetapi juga untuk memperluas wawasan dan meningkatkan produktivitas.

Secara umum, akses terhadap pembiayaan, layanan keuangan, pasar, maupun internet perlu diiringi dengan edukasi, pendampingan, dan pemanfaatan yang produktif.

Pembangunan ekosistem keuangan inklusif tidak hanya membutuhkaninvestasi pada infrastruktur fisik dan digital, tetapi juga penguatan literasi, teknologi, serta pendekatan berbasis komunitas.

Dengan ekosistem yang terintegrasi, masyarakat dapat menjadi penerima manfaat dan penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan OJK, inklusi keuangan Indonesia telah mencapai sekitar 90 persen, namun masih terdapat gap sekitar 25–30 persen antara inklusi dan literasi keuangan.

Di sektor fintech, literasi keuangan tercatat di angka 13 persen, sementara tingkat inklusi baru mencapai 36 persen.

Tag:  #perkuat #ekonomi #akar #rumput #lewat #pemberdayaan #perempuan

KOMENTAR