Buntut Serangan AS, Iran Sebut Gencatan Senjata Nyaris Tak Berarti
Kapal Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat diduga hendak menyiya kapal kontainer yang menerobos Selat Hormuz pada 21 April 2026. Foto ini diperoleh AFP dari kantor berita Iran, Tasnim. Media AS Sebut Dua Kapal Perang Melintasi Selat Hormuz di Bawah Serangan Iran. Apa Isi Proposal Terbaru Iran ke AS untuk Mengakhiri Perang?(TASNIM/MEYSAM MIRZADEH via AFP)
19:06
11 Juni 2026

Buntut Serangan AS, Iran Sebut Gencatan Senjata Nyaris Tak Berarti

– Iran menyatakan gencatan senjata di Timur Tengah kini nyaris tidak ada artinya menyusul serangan terbaru Amerika Serikat (AS). 

Pernyataan itu disampaikan Kementerian Luar Negeri Iran pada Kamis (11/6/2026), di tengah eskalasi konflik yang terus memanas.

Perang yang dipicu serangan AS-Israel pada 28 Februari tersebut sempat terhenti setelah gencatan senjata ditandatangani pada April. 

Baca juga: Selat Hormuz Membara, Iran Bertekad Ubah Seluruh Kawasan Jadi Neraka

Namun upaya merundingkan perdamaian permanen terus menemui jalan buntu, dan serangkaian insiden sporadis berulang kali mengguncang stabilitas gencatan tersebut.

Terbaru, AS menyerang sejumlah titik di Iran pada Rabu (10/6/2026) dengan alasan helikopter Apache ditembak jatuh.

Iran pun balas menyerang markas AS di Timur Tengah. Jual-beli serangan pun terjadi, sebagaimana dilansir AFP.

"Serangan ilegal dan kriminal yang dilakukan AS dalam beberapa jam terakhir tidak hanya merupakan pelanggaran terang-terangan, tetapi juga menjadikan gencatan senjata nyaris tidak bermakna," papar Kementerian Luar Negeri Iran dalam pernyataannya.

Baca juga: AS Umumkan Serangan ke Iran Telah Selesai, Trump Klaim Teheran Minta Gencatan Senjata

Untuk hari kedua berturut-turut, kedua pihak saling balas serangan.

Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) menyatakan, pasukan AS menghantam fasilitas pengawasan, komunikasi, dan pertahanan udara Iran. 

Garda Revolusi Iran (IRGC) membalas serangan dengan menyasar pangkalan AS di Yordania, sementara negara-negara Teluk melaporkan adanya tembakan yang masuk ke wilayah mereka.

Yordania mengaku menembak jatuh 20 rudal Iran. Bahrain melaporkan seorang anak perempuan 11 tahun terluka dan sejumlah rumah serta kendaraan rusak. 

Baca juga: AS dan Iran Saling Serang 2 Hari Beruntun, Gencatan Senjata Hancur

Media Iran mencatat setidaknya tiga orang terluka di Teheran.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth turut memperkeruh suasana dengan pernyataannya. Dia bahkan mengisyaratkan serangan bisa berlanjut ke malam ketiga.

"Jika Presiden (AS Donald) Trump memintanya, kami akan berunding dengan bom," papar Hegseth.

Trump sendiri turut mengubah nada bicaranya. 

"Iran terus mempermainkan kami dan kini harus membayar harganya. Kami akan membombardir mereka habis-habisan besok malam," ujarnya. 

Baca juga: Fans Iran Inginkan Laga Lawan AS di Piala Dunia, Berharap Bawa Perdamaian

Ancaman atas Selat Hormuz

Di sisi lain, Iran memperbarui ancaman atas Selat Hormuz, jalur vital minyak dan gas dunia yang secara efektif telah ditutupnya. 

"Apakah kalian membuat Selat Hormuz yang suci ini tidak aman?! Kami akan menjadikan kawasan ini neraka bagi kalian," tulis Majid Mousavi, Kepala Angkatan Dirgantara IRGC, di media sosial.

Kantor berita Tasnim mengutip pernyataan militer Iran bahwa selat itu sepenuhnya tertutup dan setiap kapal yang melintas akan dijadikan sasaran. 

Sementara itu, Centcom membantah, menyebut kapal-kapal komersial masih terus melintas. 

Di sisi lain, tiga pelaut India tewas setelah AS menyerang kapal dagang MT Settebello di lepas pantai Oman, memicu protes keras dari New Delhi.

Baca juga: Timur Tengah Membara, AS-Iran Saling Serang Dua Hari Berturut-turut

Mediator tak menyerah

Di balik dentuman senjata, upaya diplomasi tetap berjalan. 

Delegasi Qatar meninggalkan Teheran usai perundingan yang berlangsung hingga dini hari, dengan seorang sumber diplomatik menyebut pembicaraan dilakukan dengan koordinasi bersama AS.

Pakistan menyatakan belum kehilangan harapan. meski juru bicara Kementerian Luar Negerinya, Tahir Andrabi, mengakui sulit untuk optimistis dalam situasi saat ini.

Arab Saudi menyerukan perundingan lanjutan, sementara China mendesak kedua pihak segera menghentikan operasi militer dan mencapai gencatan senjata yang komprehensif dan berkelanjutan.

Baca juga: Sebut Misi Rahasia, Trump Klaim Kelabui Iran dan Angkut Minyak di Selat Hormuz

Tag:  #buntut #serangan #iran #sebut #gencatan #senjata #nyaris #berarti

KOMENTAR